Catatan

Catatan Yanuar Nugroho: 'Geoekonomi Digital'

World Economic Forum (WEF) memang memperkirakan, dalam periode 2015 hingga 2020 mendatang, terdapat jutaan pekerjaan akan berkurang

Istimewa
Deputi II Kepala Staf Presiden Yanuar Nugroho. 

Dalam ekosistem digital, segala sesuatu yang manual, natural, dan mekanis akan tergantikan oleh yang digital. Digital mengandaikan adanya akurasi dan kontrol pada suatu sistem setiap saat (real time).

Kegelisahan anak-anak muda yang saya temui di kampus-kampus terkemuka di negeri ini memperlihatkan masih adanya ketimpangan dan kesenjangan informasi dalam merespons gerak ekonomi baru ini.

Presiden Jokowi yang rajin mendatangi kampus-kampus di tanah air, mengingatkan pentingnya kita bergerak cepat dan lincah untuk merespons ekonomi model baru ini.

Ia mengingatkan bagaimana fakultas-fakultas dan jurusan-jurusan di kampus-kampus perguruan tinggi terkemuka untuk membuka program studi-program studi baru yang adaptif terhadap kebutuhan di dunia ekonomi digital.

Dua contoh yang mengemuka dan disebutkan oleh Presiden adalah industri media dan manajemen logistik.

Dalam konteks itu, Jokowi menginginkan adanya suatu ekosistem yang berubah di lingkungan perguruan tinggi sebagai pemasok utama kebutuhan di dunia kerja.

Untuk mengubah ekosistem yang adaptif terhadap perubahan, perguruan tinggi dituntut untuk mencari terobosan dan inovasi, sehingga anak-anak muda ini mendapatkan gambaran, pengetahuan, dan keterampilan yang memadai dalam bidang ilmu yang digelutinya, sesuai dengan proses digitalisasi pada bidang-bidang ilmu yang ditawarkan oleh perguruan tinggi.

Tak hanya itu, Presiden Jokowi berulang kali juga menyatakan pentingnya membukakan wawasan baru bagi anak-anak muda untuk terjun dalam kewirausahaan.

Pada tingkat ini, Pemerintah berupaya untuk terus membangun ekosistem-ekosistem kewirausahaan sehingga mereka dapat memanfaatkan potensi yang tersimpan dalam gerak zaman ekonomi digital ini.

Usaha yang dilakukan oleh Presiden Jokowi tersebut memiliki resonansi yang kuat dengan jejak rekam keberhasilan para ‘penguasa’ ekonomi digital. Salah satu karakter unik dari industri perusahaan pemula atau start-up berbasis digital adalah faktor diferensiasi dan daya saing yang didasari oleh kemampuan identifikasi masalah serta potensi solusi di tingkat yang sangat mendalam.

Hal yang mungkin dilihat kecil oleh organisasi konvensional, seperti penyajian user interface, ternyata bisa menjadi pembeda besar di industri ini. Misalnya satu unicorn startup di bidang music, spotify, berhasil menggandakan tingkat penggunaan hanya dengan menggelapkan warna latar belakang aplikasi. Sensitivitas dan kepekaan menemukan permasalahan sosial tidak pernah menjadi sepenting saat ini.

Tingginya tingkat kapabilitas digitalisasi suatu organisasi niscaya tersiakan tanpa kemampuan identifikasi permasalahan yang presisi. Maka, jelaslah pentingnya soft skill dan pemaparan siswa terhadap isu sosial dalam pengembangan kapasitas pengajaran atau pelatihan hard skill di ranah digitalisasi.

Salah satu faktor diferensiasi lain adalah kemampuan kapitalisasi nilai perusahaan yang tidak jarang ditentukan oleh faktor soft lainnya seperti jejaring. Kapitalisasi perusahaan dan usaha perolehan dana investasi sangat berpengaruh dalam membangun perusahaan pemula.

Hampir semua perusahaan pemula yang saat ini bernilai lebih dari USD 1 miliar belum menghasilkan profit dan menggantungkan pembesaran skala perusahaan dengan subsidi harga pada para penggunanya. Bagaimana caranya? Suntikan dana investor.

Tak jarang perusahaan pemula yang berawal dengan kapasitas teknis terbatas, berhasil berkembang lebih pesat dari perusahaan lain dengan kapasitas teknis yang lebih baik, dikarenakan keunggulan jejaring pendirinya.

Lihatlah Tokopedia. Awalnya ia harus berhadapan dengan nama besar seperti Lazada. Tapi William Tanuwijaya dan jejaringnya sukses mendatangkan investasi. Investasi berarti subsidi; subsidi berarti traffic dan economic scale. Kini Tokopedia menjadi e-commerce terbesar di Indonesia.

Belajar dari sini, kebutuhan jejaring, institusi intermediasi, konsorsium teknologi semakin tidak terhindarkan jika ingin meraup manfaat di jaman ekonomi dan di tengah ekosistem digital ini.

Selain itu, penting melihat kebijakan pemerintah, agar bisa menyiapkan kebijakan untuk memberi insentif yang tepat.

Hal ini dibutuhkan karena ekosistem digital membutuhkan kebijakan yang visioner. Misalnya, sektor online transportation yang masih menanggung beban konflik dengan sektor transportasi konvensional.

Insentif pajak juga harus lebih adil agar lebih banyak UMKM yang masuk ke ranah e-commerce atau berjualan secara online tidak takut ‘naik kelas’.

Saat ini, mereka lebih suka mempertahankan statusnya sebagai pedagang kecil, karena begitu naik kelas ke pedagang menengah, beban pajaknya langsung dirasakan amat tinggi.

BUMN yang bergerak di ranah digital juga harus mengubah mind-set dan mengikuti persaingan di ekosistem digital dengan lebih fair. Ini perlu untuk mendorong munculnya kretivitas digital.

Jelas, main blokir sejumlah aplikasi yang dilihat jadi pesaing anak usaha BUMN telco bukanlah solusi. Terakhir, memastikan tersedianya konektivitas internet dan back bone jaringan yang memadai dengan segera.

Dengan jumlah penduduk bumi yang mencapai 7,6 miliar jiwa dan 53%-nya sudah mengakses internet, potensi yang terkandung dalam ekosistem digital yang baru ini amat luar biasa. Namun, tak perlu bermimpi menjangkau miliaran kepala.

Dengan penduduk lebih dari 265 juta dan separuhnya sudah mengakses internet, anak-anak muda republik ini sangat potensial diajak untuk memasuki wilayah-wilayah baru yang menantang spirit dan keahlian mereka. Implikasinya jelas: jika kita mau mentransformasi anak-anak muda republik seiring transformasi di jaman digital ini, kita perlu menciptakan atmosfir agar transformasi itu terjadi.

Ekonomi digital adalah fenomena utama revolusi industri ke-4 ini. Strategi dan kebijakan yang tepat untuk menjawab tantangan dan meraih peluang ini akan menjadi kunci mewujudkan cita-cita Indonesia di masa depan.

Yanuar Nugroho, Deputi II Kepala Staf Kepresidenan Bidang Kajian dan Pengelolaan Isu-isu Sosial, Budaya, dan Ekologi Strategis, Kantor Staf Presiden RI. Email : yanuar.nugroho@ksp.go.id Twitter : @yanuarnugroho

Editor: Abdi Tumanggor
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved