Edisi Ekslusif

Terkecoh, Swalayan Marak Jual Beras Oplosan, Pedagang Eceran juga Curang

Indikasinya ada mengarah ke sana (pengoplosan, Red), tapi kami belum bisa ambil tindakan.Kami harus membuat tim

Editor: Salomo Tarigan
ilustrasi/Beras oplosan

TRIBUN-MEDAN.COM- Kepala Dinas Pertanian dan Kelautan Kota Medan Ikhsar Marbun mengakui adanya praktik curang pedagang, mencampur atau mengoplos beras produk lokal yang kualitasnya bagus dan lebih mahal harganya dengan beras impor Bulog.  

Jenis kebutuhan pokok tersebut bahkan beredar luas dan dijual harga mahal di pasar modern atau swalayan. Tujuan praktik tak terpuji ini adalah untuk meraup untung sebesar-besarnya.

"Indikasinya ada mengarah ke sana (pengoplosan, Red), tapi kami belum bisa ambil tindakan. Kami harus membuat tim terpadu. Nanti kalau sudah ada timnya, saya akan mengundang media," kata Ikhsar kepada Harian Tribun Medan/online Tribun-Medan.com di kantornya, di Medan, Jumat (16/3/2018).

Menurut Ikhsar, baru-baru ini, Dinas Pertanian dan Kelautan menemukan di beberapa pasar modern, beras berharga tinggi namun berkualitasnya rendah. Atas temuan tersebut, pihaknya pun khawatir masyarakat terkecoh, tertipu. "Kami terus rutin memantau di lapangan.

Kadang-kadang ada yang mengaku beras premium, padahal tidak. Janganlah sempat konsumen tertipu. Tim kami, setiap minggu memantau ke lapangan mengenai kualitas berasnya," ujar Ikhsar Marbun.

Pengamat Ekonomi Gunawan Benjamin mengatakan, setelah program beras miskin (raskin) dan beras sejahtera (rastra), untuk masyarakat kalangan bawah dihapus, kemudian beralih menjadi Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT), membuat konseumen cenderung meninggalkan beras yang didistribusikan Perum Badan Urusan Logistik (Bulog).

Kini, beras Bulog hanya alternatif konsumsi masyarakat, manakala harga beras benar-benar meroket atau sulit terjangkau. Ia melihat beras yang dijual Bulog juga rawan dimainkan oknum distributor. Distributor membeli beras Bulog untuk campuran, beras impor dioplos dengan beras domestik, selanjutnya dijual dengan harga yang lebih baik.

"Beras Bulog juga kerap dijual sejumlah toko pengecer dan tidak sepenuhnya bisa langsung dibeli masyarakat. Sehingga ada rantai distribusi tambahan yang membuat harganya lebih mahal. Tujuannya jelas untuk mencari keuntungan," kata Gunawan

Kepala Seksi Pengawasan Dinas Pertanian dan Kelautan Medan Sondang Manalu mengimbuhkan, praktik curang distributor atau pedagang yang mengoplos beras sudah mulau terpantau.

Dinas Pertanian dan Kelautan bahkan memastikan beras oplosan ada di Medan. Penulusuran yang dilakukan tim, mendapati beras dengan label premium dijual tidak sesuai mutu.

"Misalnya harganya A. Ya, harga standarnya juga harus A. Tapi, ini kami temukan standarnya B. Tentu merugikan konsumen. Kalau mau jual harga tinggi konsekuensinya (kualitasnya) harus tinggi juga," kata Kepala Seksi Pengawasan Dinas Pertanian dan Kelautan Medan Sondang Manalu, di ruang kerjanya, kemarin.

Sondang menjelaskan praktik ini muncul lantaran orientasi pengusaha cenderung mencari untung besar, tapi berdampak pada masyarakat pembeli beras premium tertipu dengan isi beras oplosan.

"Lupa dia (pengusaha) membenahi mutu. Itulah yang kami kasi pembinaan agar tidak mementingkan harga, namun tidak sejalan dengan mutu. Memang beras yang dijual tidak membuat sakit perut tapi secara tidak sengaja membohongi konsumen. Jangan coba main-main," ujar Sondang mengecam.

Baca: Bermain di Liga Eropa, Egy Maulanda Ternyata Dapat Sindiran

Baca: Liga Champions: Raksasa Liga Spanyol Barcelona Bertemu AS Roma, Messi 19 Kali Lawan Klub Italia

Sondang menjelaskan temuan beras oplosan mereka temukan di pasar modern, seperti supermarket dan minimarket. "Yang KW (palsu) sok-sokan jual harga original, padahal dia KW. Nah, itulah yang terjadi sekarang karena konsumennya di pasar modern menengah ke atas," sambungnya lagi.

Meski tak terekspose, Dinas Dinas Pertanian dan Kelautan Medan rutin setiap pekan turun ke lapangan, memantau mutu beras yang dijual di pasar modern. Beberapa pasar swalayan yang menjadi target pengamatan, seperti Medan Mall, Maju Bersama, Maximart, Smartco hingga Berastagi Buah.

Dari penelusuran mereka, pelanggaran yang terjadi di sejumlah pasar modern beragam. Tim pemantau masuknya ke setiap toko, bukan perwakilan, bukan teknik sampel. Kasus setiap toko bisa berbeda, walaupun satu manajemen.

Dan kasus berbeda bisa saja terjadi. "Misalnya di toko yang satu berasnya sudah terlalu lama atau adalah yang berkutu. Di toko yang lain terjadi masalah mutu," ungkapnya.

Harian Tribun Medan, edisi Jumat (16/3/2018), memberitakan adanya pengakuan pedagang terhadap praktik pengoplosan beras bagus-premium dengan beras kualitas buruk. Mutunya tentu rendah dan rasanya tidak enak, namun dibandrol harga tinggi.

Rasanya Tidak Enak
Sejumlah pedagang besar di pasar tradisional Kota Medan diduga dimanfaatkan distributor untuk meraup untung.

Distibutor memanfaatkan kerja sama dengan Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) untuk melakukan operasi pasar, menjual beras langsung kepada warga. Namun, beras yang mereka jual adalah besar campuran-oplosan.

Dampaknya, pedagang kewalahan menerima komplain pelanggan. Pedagang di Pasar Seikambing, Medan, Ifa, misalnya, mengatakan, pedagang yang membeli beras ramos atau IR-64 mengeluh, karena kualitasnya tak seenak biasanya. Padahal, pelanggan kerap mengonsumsi beras tersebut.

"Beras Bulog habis, karena dicampur oleh distributor. Caranya mereka ganti karung beras Bulog pakai merek lain. Memang tidak gampang membedakannya. Tapi, biasanya rasanya berbeda," ujar Ifa saat berbincang dengan Tribun Medan/Tribun-Medan.com.

Ia menjelaskan, beras oplosan marak terjadi saat ada lonjakan harga, kurun waktu Desember-
Februari. Pada periode itu, harga beras premium Rp 14 ribu per kilogram. Karena itu, Bulog menggandeng distributor untuk mengintervensi pasar, dengan mendistribusikan beras lebih banyak untuk menekan harga harga turun.

Kepala Perusahaan Umum (Perum) Bulog Sumut Benhur Ngkaimi mengaku, rutin operasi pasar, walaupun operasi pasar bukan satu-satunya cara mengendalikan harga beras.

"Operasi pasar bukan satu-satunya cara. Seharusnya interpensi pasar tidak boleh besar, karena Bulog bukan pelaku utamanya. Idealnya 80 persen atau 90 persen pasokan beras dari petani atau sentral produksi," ujarnya.

Menurutnya, dalam menjalankan operasi pasar tidak harus Bulog ke lapangan. Karena itu, ia memberi kesempatan kepada pedagang alias berdayakan pedagang melakukan operasi pasar.
Ia berpendapat, Bulog tak bisa membatasi distributor atau pedagang, yang ingin membeli beras. Semakin banyak distributor, lanjutnya, jangkauan penyebaran beras Bulog makin luas. Meskipun demikian, dia tak merinci identitas destributor-dsitributor tersebut.

"Ada 14 ribu ton disalurkan melalui distributor. Jumlah distributornya di atas 20, dan belum lagi pedagang kecil. Pedagang kecil itu minta beras jadi kami antar. Seluruh Sumut ada 80 pedagang kecil," katanya.

Benhur Ngkaimi menyampaikan, Bulog telah mengimpor 20 ribu ton beras yang masuk melalui Pelabuhan Belawan. Sebanyak 10 ribu ton beras asal India masuk melalui Pelabuhan Belawan pada Minggu (10/3) pagi.

Sebelumnya, 10 ribu ton beras asal Thailand juga masuk dua tahap. Pertama, impor dari Thailand yang tiba 25 Februari 2018 dan beras India yang masuk 28 Februari 2018.

Harga Mahal
Ketua Komisi C DPRD Medan Hendra DS mengatakan, temuan Dinas Pertanian dan Kelautan Medan, bahwa adanya beras dijual mahal dengan kualitas buruk menjadi pertanyaan. "Kalau beras kualitas buruk dijual mahal bisa jadi itu oplosan," ujarnya.

Ia memberi dukungan Pemko Medan, terutama dinas terkait melakukan penelusuran mendalam. Hendra pun merekomendasikan Dinas Pertanian dan Kelautan membuka nama-nama usaha yang memasarkan beras oplosan, untuk kemudian mereka panggil dan periksa.

"Mata rantainya harus diperiksa, harus ditelusuri. Agar tidak menimbulkan keresahan, kegelisahan dan kekhawatiran," ujarnya.(tim)

Sumber: Tribun Medan
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved