Masyarakat Hindu Harapkan Kerukunan Umat Beragama di Perayaan Pangguni Uttiram

Pangguni Uttiram merupakan perayaan untuk memperingati hari lahirnya Dewa Muruga sebagai dewa pencipta, pemelihara dan pelebur.

Penulis: Liska Rahayu |
Tribun Medan/Liska Rahayu
Ritual cucuk (Alagu) merupakan salah satu rangkaian ritual perayaan Pangguni Uttiram masyarakat Hindu-tamil, Lubukpakam, Jumat (30/3/2018). Dalam ritual ini, tubuh peserta ditusuk besi. 

Laporan Wartawan Tribun Medan, Liska Rahayu

TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN - Masyarakat Hindu-Tamil memperingati perayaan Pangguni Uttiram di Shri Thendayudhabani Koil Jalan Sultan Hasanuddin, Lubukpakam, Jumat (30/3/2018).

Dilaksanakan bertepatan hari Paskah bagi umat Nasrani dan salat Jumat bagi umat Muslim, masyarakat Hindu berharap perayaan Pangguni Uttiram dapat menjalin kerukunan antar umat beragama.

"Harapannya semoga masyarakat Hindu, khususnya Deliserdang, lebih menghargai keberadaan kuil ini. Dengan menghargai kuil ini, masyarakat Hindu jadi lebih rajin beribadah dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Dan juga tetap selalu menjaga kerukunan antarumat beragama di Kabupaten Deliserdang," ujar salah satu pemuda Hindu, Mahendra Mohan, Jumat (30/3/2018).

Pangguni Uttiram merupakan perayaan untuk memperingati hari lahirnya Dewa Muruga sebagai dewa pencipta, pemelihara dan pelebur.

Perayaan ini juga untuk memperingati keberhasilan Dewa Muruga melawan Ashura, atau dapat dikatakan, menangnya kebaikan melawan kebaikan.

Baca: Festival Pasir Putih 2018 Samosir Berharap Bisa Sedot Seribu Wisman

Mohan menjelaskan, peringatan Pangguni Uttiram ini berlangsung selama 5 hari. Hari pertama merupakan penaikan bendera Kodimarem di kuil Shri Thendayudhabani pada Rabu (28/3/2018) lalu.

"Hari kedua istirahat, hari ketiga inilah puncaknya Pangguni Uttiram, hari keempat istirahat lagi, terus hari kelima penurunan bendera," ujarnya.

Pangguni merupakan nama bulan ke-10 berdasarkan penanggalan kalender tamil. Pada perayaan ini, salah satu rangkaian kegiatannya adalah ritual cucuk (Alagu).

Pada ritual ini masing-masing peserta (penazar) akan ditusuk pada bagian bagian-bagian tertentu tubuhnya dengan besi-besi.

Besi-besi tersebut ada yang berbentuk seperti kail pancing,
anak panah, dan lain-lain. Biasanya ditusukkan di bagian pipi, lidah, punggung, atau dada. Masing-masing
sebagai bentuk penebusan dosa atas kejahatan yang pernah dilakukan.

"Tahun ini penazarnya lebih banyak daripada tahun lalu, ada 11 orang," katanya.

Sebelum melakukan ritual cucuk, para peserta masuk ke sungai untuk mandi suci. Setelah itu, dibacakan puja-puja kepada dewa sebelum melakukan ritual cucuk.

Pada saat dicucuk, penazar dalam keadaan kerasukan roh-roh, namun ada juga yang masih sadar. Setelah ritual tersebut selesai, peserta kemudian diarak untuk kembali ke kuil dan melaksanakan pemujaan api oleh pendeta Gurukal Tiruna Karasu.

"Semoga masyarakat Hindu lebih rajin lagi beribadah dan menghargai keberadaan kuil," pungkas Mohan.(*)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved