Kisah Anak Bupati Berjualan Ikat Pinggang, hingga Bikin Ayah Menangis
Ayah Kemalawati, Abdullah Eteng adalah Bupati Asahan pertama, Bupati Deliserdang, dan Bupati Tanah Karo.
Laporan Wartawan Tribun Medan, Jefri Susetio
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Nada suara Kemalawati lirih saat menceritakan kisah hidupnya semasa kuliah. Ketua Badan Kerjasama Organisasi Wanita (BKOW) Sumut ini lahir dari keluarga mapan. Tapi, dia berupaya mandiri, sehingga bersusah payah berjualan tali pinggang di Universitas Sumatera Utara.
Ayah Kemalawati, Abdullah Eteng adalah Bupati Asahan pertama, Bupati Deliserdang, dan Bupati Tanah Karo. Terakhir menjabat sebagai anggota DPR. Sang ayah juga Ketua DPD PNI dan PDI Sumut. Ketenaran sosok ayah, tak membuatnya untuk hidup manja serta bermalas-malasan.
"Ketika kuliah saya berjualan tali pinggang di kampus. Waktu itu, saya mahasiswa Hukum USU. Begitu Lebaran, saya belikan pakaian Bapak (Abdullah Eteng) dari tabungan berjualan. Jadi Bapak menangis," ujarnya di hadapan puluhan peserta Pelatihan Kewirausahaan Melalui GKN Bagi Organisasi Masyarakat di Hotel Madani, Jalan Sisingamangaraja, Medan, Jumat (30/3/2018).
Tidak hanya itu, ia juga mengajar les di rumah dan mendirikan Taman Kanak-kanak (TK) yang diberi nama Atikah. Dia memberi nama Atikah diambil dari nama ibundanya. Kini, sekolah yang terletak di kawasan Gang Mardisan, Tanjungmorawa itu sudah berusia 30 tahun.
Baca: Mantan Gubernur Sumut Gatot Pujo Bilang, Bongkar Semua Pejabat Sumut Terlibat Suap!
"Waktu saya ngajar les, mendirikan sekolah dan berjualan tali pinggang orangtua masih anggota DPR RI. Umur sekolah sudah 30 tahun dan cucu pertama dari Abdullah Eteng juga Atikah. Kami mengajarkan agama dan Pancasila di sekolah," katanya.
Selain itu, kata dia, tidak boleh menganggap sepele bisnis kecil alias usaha rumahan. Karena itu, perempuan harus berperan membantu perekonomian keluarga. Memastikan dapur keluarga tetap berasap. Sehingga, perempuan harus banting tulang supaya anak-anak tetap sekolah dan makan.
"Perempuan harus menanamkan diri untuk menopang ekonomi keluarga. Perempuan harus bangkit agar anak anak dapat sekolah. Kemudian, anak-anak gadis harus kreatif. Seperti membuka bisnis online. Tapi harus mempertahankan mutu alias kualitas barang yang diproduksi," ujarnya.
Dia menganjurkan, harga barang yang diproduksi harus berkompetisi alias miring. Dalam membuka usaha modal tidak harus besar, paling utama punya kemauan yang kuat. Oleh sebab itu, kemajuan usaha dari proses tekad dan kegigihan pantang menyerah.
Ia menyarankan, seluruh peserta pelatihan harus menyisihkan uang dari keuntungan berjualan. Selanjutnya, tetap introspeksi diri supaya membuat nyaman konsumen.
"Tidak boleh membuat orang kecewa dan harus punya disiplin waktu. Bila ada telat diberitahu. Agar, pelanggan dan mitra bisnis enggak merasa sebel. Dan tetap nyaman," katanya.
Sedangkan, Anggota Komisi VI DPR, H. Irmadi Lubis menambahkan, sangat mengenal sosok Kemalawati. Apalagi, orangtua mereka sama-sama aktif di PNI. Pada diskusi itu, ia bilang menumbuhkan wirausaha merupakan jalan untuk menipiskan kemiskinan.
"Pelaku UMKM ini yang menyematkan ekonomi Indonesia. Bung Karno sampaikan hati-hati jadi kuli di negeri sendiri. Kegiatan ini bukan program main-main. Paling lama enam bulan lagi sudah terbit undang undang kewirausahaan," ujarnya.
Dia menuturkan, Republik Indonesia akan semakin maju bila UMKM sudah berkembang pesat. Ia memberikan contoh Jepang yang 90-an persen UMKM menompang kemajuan ekonomi.
Selama ini, Indonesia masih lemah kembangkan pelaku UMKM yang hasilkan produk berkualitas. Sehingga tidak banyak produk UMKM mampu bersaing di pasar Internasional.
Menurutnya, Indonesia Merdeka merupakan situasi yang tidak ada penindasan. Bila tak ada tindakan nyata untuk kembangkan UMKM maka negeri ini akan sulit semakin berkembang alias jadi negara yang maju.(Tio/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/pelatihan-kewirausahaan-melalui-gkn_20180331_101902.jpg)