Terungkap Penyebab Premium Langka, Menteri ESDM Tegur Keras Direksi Pertamina

Menteri ESDM Ignasius Jonan mengaku telah menegur secara keras kepada jajaran direksi PT Pertamina

Terungkap Penyebab Premium Langka, Menteri ESDM Tegur Keras Direksi Pertamina
AFP PHOTO / SONNY TUMBELAKA
Pengendara motor mengantre di SPBU untuk mengisi bahan bakar minyak (BBM) jenis premium, di Bali, Selasa (26/8/2014). 

TRIBUN-MEDAN.COM, JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengaku telah menegur secara keras kepada jajaran direksi PT Pertamina (Persero), menyusul kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis premium.

"Kita sudah tegur Pertamina, ya sudah saya tegur keras sekali, sudah berkali-kali," tutur Jonan di komplek Istana Negara, Jakarta, Rabu (4/4/2018).

Menurut Jonan, ‎Pertamina harus tetap menyalurkan premium ke sejumlah daerah, dimana hal tersebut ditegaskan dalam Peraturan Presiden (Perpres) nomor 191 tahun 2014.

Dalam Perpres tersebut, menyebutkan perusahaan pelat merah di bidang migas itu, mendapatkan penugasan penyaluran 7,5 kilo liter setahun.

"Terutama yang diluar Jamali (Jawa, Madura, Bali), kalau yang di Jawa itu sudah ditambah margin Rp 100 per liter untuk penyaluran premium oleh Pertamina, jadi ini harus dilakukan, kita sudah negur Pertamina kok," papar Jonan.

Jonan pun akan menyiapkan sanksi lanjutkan jika Pertamina tetap tidak mengatasi kelangkaan premium tersebut.

Namun dia telah meminta untuk segera penuhi permintaan di sejumlah daerah yang mengalami kekurangan.

Sementara terkait tudingan bahwa ada upaya mendorong masyarakat beralih ke BBM jenis Pertalite, Jonan menilai hal tersebut bukan suatu paksaan dan telah meminta Pertamina melakukan pemasaran tersendiri.

"‎Saya sudah minta Pertamina harus tetap menyalurkan premium, kalau misalnya mau menjual Pertalite, mestinya pakai cara lain supaya masyarakat secara sukarela beralih ke Pertalite, kalau mau loh, bukan dengan cara mengosongkan pasokan premium," papar Jonan.

Diketahui sejumlah SPBU mengalami kekosongan BBM jenis premiun, seperti di sebagian wilayah Jawa Barat, Sumatera Selatan, dan Sulawesi Selatan.

Editor: Fahrizal Fahmi Daulay
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved