Situs Penyebar Hoaks Meningkat Pesat, Ini Cara Ampuh Memberantasnya

Kementerian Komunikasi dan Informatika menyebut bahwa ada sebanyak 800 ribu situs di Indonesia yang terindikasi

Penulis: M.Andimaz Kahfi |
Pemateri dari Masyarakat Anti Fitnah Indonesia, Ariwibowo Sasmito dalam acara Google News Initiative Training Network di Hotel Grand Darussalam. 

Laporan Wartawan Tribun Medan / M Andimaz Kahfi

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Kementerian Komunikasi dan Informatika menyebut bahwa ada sebanyak 800 ribu situs di Indonesia yang terindikasi sebagai penyebar berita palsu dan ujaran kebencian (hate speech).

Menteri Kominfo Rudiantara pernah mengatakan bahwa angka tersebut merupakan data terbaru yang dimiliki oleh kementeriannya.

Namun sayangnya, data itu tidak dibarengi dengan jumlah pemilik akun di media sosial yang juga menyebarkan hoaks.

Menurut menteri yang akrab disapa Chief RA ini, untuk melakukan monitoring ataupun penyaringan terhadap media sosial dan situs-situs tidak bisa menggunakan cara yang sama.

Khusus ujaran kebencian yang tersebar di media sosial, tentu saja konten yang ada di dalamnya menjadi prioritas. Siapapun pihak yang menyebarkan itu lebih dulu maka dialah yang akan diincar paling awal.

Sementara itu, saat acara Google News Initiative Training Network di Hotel Grand Darussalam, Medan, salah seorang pemateri dari Masyarakat Anti Fitnah Indonesia, Ariwibowo Sasmito yang percaya google memberikan materi, mengatakan 800 ribu situs itu tahun lalu, tapi tahun ini mungkin sudah 800 ribu lebih situs hoaks yang beredar di Indonesia.

"Cara pencegahan hoaks yang paling sangat efektif, yang dengan cara melakukan edukasi. Tapi semua kembali ke asalnya. Selama masih ada domain, pasti bakal jalan terus penyebar hoaks," kata Sasmito di Hotel Grand Darussalam, Sabtu (7/4/2018)

Sasmito menjelaskan bahwa yang terpenting edukasi jangka panjang terhadap pengguna media sosial sangat diperlukan. Sebab selama ini banyak orang yang menshare berita, tanpa membacanya hingga selesai bahkan langsung menshare berita tanpa mencari kebenarannya terlebih dahulu.

"Yang jelas kebanyakan yang menjadi korban penyebar berita hoaks, orang yang sudah tua. Karena mereka selalu berfikir berita yang didapat melalui media sosial berita yang selalu benar," ujarnya.

"Mungkin cara yang masih efektif memutuskan rantai penyebar hoaks, ya tangkap pelaku dan blokir situsnya. Karena kalau hanya blokir, tentu penyebar hoaks bisa membuat domain baru untuk kembali untuk menyebarkan berita hoaks," jelas Sasmito.

(cr9/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved