Belanda Caplok Tanah Adat Sihaporas dari Generasi Ke-5 Keturunan Ompu Mamontang Laut Ambarita

Hotben Ambarita, menceritakan sejarah tanah leluhurnya yang dicaplok Belanda. Pemuka masyarakat adat Sihaporas ini adalah cicit dari Ompu Lemok.

Belanda Caplok Tanah Adat Sihaporas dari Generasi Ke-5 Keturunan Ompu Mamontang Laut Ambarita
Tribun Medan/Dedy Kurniawan
Masyarakat adat Sihaporas melakukan pertemuan audiensi dengan Kepala Kantor Unit Pelayanan Teknis (UPT) Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah II Pematangsiantar Djonner Efendi D. Sipahutar di kantor UPT KPH di Jalan Gunung Simanumanuk Pematansiantar, Senin (9/4/2018) 

"Menurut cerita turun-temurun ompung kami, tanah ompung kami dipinjam penjajah Belanda pada tahun sekitar 1913. Tanah dipinjam dari generasi kelima keturunan Ompung Mamontang Laut, yakni dari Ompu Lemok Ambarita, Ompu Jalihi Ambarita dan Ompu Haddur Ambarita. Saat itu, tanam dipinjam untuk ditanami pohon pinus," kata Hotben Ambarita.

Dikisahkannya, penjajah Belanda meminta masyarakat Sihaporas agar menanam pohon pinus, dan dijanjikan dapat bekerja di perkebunan sesuai dengan keahlian masing-masing, dengan iming-iming agar dapat membayar balasting (pajak) dan menyekolahkan anak-anak.

Belanda menjanjikan juga, pohon pinus yang ditanami harus terlebih dahulu panen, dan getahnya dideres/sadap, barulah tanah dikembalikan kepada rakyat.

"Sesuai dengan janji pihak Belanda kepada kakek-buyut kami, yakni Ompu Lemok Ambarita, Ompu Jalihi Ambarita dan Ompu Haddur Ambarita, tanah tersebut akan dikembalikan setelah 30 tahun. Ternyata, sebelum pinus panen, Belanda sudah kembali ke negerinya karena kalah perang, dan tanah ompung kami terlantar. Tidak pernah diurus lagi. Saat itu, kakek kami tidak mengerti mengenai surat-menyurat tanah," kata Hotben.

Setelah Penjajah Belanda meninggalkan Indonesia, belakangan, terjadilah peralihan kepemilikan tanah melalui program nasionalisasi aset penjajah, kepada pemerintah Indonesia.

"Sampai tahun 1985, tanah ompung kami masih dikuasai Departemen Kehutanan. Lalu sejak tahun 1985, tanah tersebut dikuasai PT Inti Indorayon Utama, sekarang PT Toba Pulp Lestari," ungkap Hotben.

Peta Enclave Sihaporas Tahun 1916 Pada Zaman Belanda

Peta enlcave Desa/Nagori Sihaporas tahun 1916 pada saat dikuasai penjajah Belanda. Peta diungkap pihak Kantor Unit Pelayanan Teknis (UPT) Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah II Pematangsiantar di hadapan warga perwakilan Lembaga Adat Keturunan Ompu Mamontang Laut Ambarita Sihaporas (Lamtroas) di kantor UPT KPH di Jalan Gunung Simanumanuk Pematansiantar, Senin (9/4/2018).
Peta enlcave Desa/Nagori Sihaporas tahun 1916 pada saat dikuasai penjajah Belanda. Peta diungkap pihak Kantor Unit Pelayanan Teknis (UPT) Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah II Pematangsiantar di hadapan warga perwakilan Lembaga Adat Keturunan Ompu Mamontang Laut Ambarita Sihaporas (Lamtroas) di kantor UPT KPH di Jalan Gunung Simanumanuk Pematansiantar, Senin (9/4/2018). (Tribun Medan/Dedy Kurniawan)

Baca: Tanah dan Air Rusak, Keturunan Ompu Mamontang Laut Sulit Jalankan Ritual Kearifan

Baca: Berikut 12 Lahan Masyarakat Adat di Sumut yang Diajukan ke Kementerian LHK, Terungkap Ada Mafia!

Pada kesempatan tersebut terungkap, Kepala Kantor Unit Pelayanan Teknis (UPT) Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah II Pematangsiantar Djonner Efendi D. Sipahutar memerintahkan Tigor, stafnya menunjukkan peta tanah Sihaporas.

Halaman
1234
Penulis: Dedy Kurniawan
Editor: Arifin Al Alamudi
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved