Tanah dan Air Rusak, Keturunan Ompu Mamontang Laut Sulit Jalankan Ritual Kearifan

Perwakilan masyarakat Nagori Sihaporas yang tergabung dalam Lembaga Adat Keturunan Ompu Mamontang Laut Ambarita Sihaporas

Tanah dan Air Rusak, Keturunan Ompu Mamontang Laut Sulit Jalankan Ritual Kearifan
Lembaga Adat Keturunan Ompu Mamontang Laut Ambarita Sihaporas (Lamtoras) dan Panitia Pengembalian Tanah Adat Warisan Ompu Mamontang Laut Ambarita Sihaporas beraudiensi dengan Kepala Kantor Unit Pelayanan Teknis (UPT) Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah II Pematangsiantar Djonner Efendi D. Sipahutar di kantor UPT KPH di Jalan Gunung Simanumanuk Pematansiantar, Senin (9/4/2018) 

Laporan Wartawan Tribun Medan / Dedy Kurniawan 

TRIBUN-MEDAN.COM, SIANTAR - Perwakilan masyarakat Nagori Sihaporas yang tergabung dalam Lembaga Adat Keturunan Ompu Mamontang Laut Ambarita Sihaporas (Lamtoras) meminta pemerintah tegas melindungi dan memberdayakan kearifan adat.

Lamtoras telah menyurati Presiden Jokowi dan hari ini menyampaikan aspirasi ke Kantor Unit Pelayanan Teknis (UPT) Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah II Pematangsiantar yang dipimpin Djonner Efendi D. Sipahutar di kantor UPT KPH di Jalan Gunung Simanukmanuk Pematansiantar, Senin (9/4/2018)

Upaya masyarakat ini meminta agar pemerintan mengukuhkan tanah adat tempat tinggal dan peraladangan, kesempatan mengelola hutan adat/hutan desa, mendapatkan kesempatan melestarikan tradisi leluhur seperti menjalankan ritual adat Siraja Batak yang diwarisi Ompu Mamontang Laut secara turun-temurun.

Pelaksanaan ritual tradisi dan adat Batak Toba di Sihaporas banyak menggunakan alat dan perlengkapan yang bersumber dan bergantung pada alam. Misalnya, air jernih bahan 'Pangurason' (semacam air suci), getah kemenyan, batang-batang kayu, ramuan tumbuhan tradisional biasa disebut 'rudang', daun sirih, tebu, pisang, batang bambu, bumbu desa dan sebagainya.

"Saat ini, kami sering kesulitan mempraktikkan upaya pelestarikan adat-istiadat dan tradisi Siraja Batak yang dibawa leluhur kami, Ompu Mamontang Laut Ambarita dari Ambarita di Pulau Samosir ke tanah Simalungun ini. Mengapa? Karena alam dan hutan sudah tinggal sedikit, hampir habis terutama oleh adanya perusahaan hutan tanaman industri di seputar perkampungan Sihaporas," ujar Ketua Lamtoras Judin Ambarita usai bertatap muka dengan Djonner

Dijelaskan Ketua Lamtoras, Ompu Mamontang Laut Ambarita memiliki nama kecil Martua Boni Raja. Semasa kecil dia tinggal bersama orangtuanya, Opmu Tondol Nihuta di pesisir Danau Toba, tepatnya di Lumban Ambarita, Desa Ambarita, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir. Ompu Mamontang Laut merupakan generasi ke-9 (sembilan) dirunut dari 'Tarombo' atau silsilah Batak dengan patokan awal Siraja Batak.

Ompu Mamontang Laut Ambarita merantau dari Pulau Samosir, menyeberangi Danau Toba dan berlabuh di Ujungmuli (atau disebut Dolokmauli), dekat Desa Sipolha. Dia kemudian naik ke balik bukit, arah Timur Laut, menemukan hamparan lahan yang baik dan cocok untuk perkampungan, yang kemudian dinamai Sihaporas. Ompu Mamontang Laut Ambarita tingggal menetap dan beranak-pinak di Sihaporas, kira-kira sejak tahun 1800.

Keturunan Ompu Mamontang Laut Ambarita, hingga tahun 2018, telah turun-temurun 8-11 generasi tinggal di tanah adat Sihaparas, Desa/Nagori Pamatang Sidamanik, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Dengan demikian, penduduk telah mengusahai lahan Sihaporas dalam rentang waktu kurang-lebih 200-an tahun.

Dapat dipastikan, keturunan Ompu Mamontang Laut, telah berada di Sihaporas jauh sebelum Indonesia merdeka 17 Agustus 1945. Cek bukti fisik telah dilakukan Komisi A DPRD Kabupaten Simalungun, Dinas Kehutanan Kabupaten Simalungun, masyarakat dan pihak PT Inti Indorayon utama, saat ini bernama Toba Pulp Lestari-pada tahun 2000 (sesuai surat Nomor 593/1564/DPRD Perihal Tanah Sihaporas tertanggal 15 Agustus 2000).

Halaman
12
Penulis: Dedy Kurniawan
Editor:
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved