Melahirkan Pemimpin Pilihan Tanpa Hoaks dan Politik Uang

Agen-agen hoaks paham media sosial bukan semata tempat berinteraksi, tetapi juga belantara informasi.

Melahirkan Pemimpin Pilihan Tanpa Hoaks dan Politik Uang
TRIBUN MEDAN/RISKY CAHYADI
GUBERNUR Sumut Tengku Erry Nuradi (tengah), calon Wakil Gubernur Sumut Sihar Sitorus (kiri), Kapolda Sumut Irjen Pol Paulus Waterpauw (kanan) dan Calon Wakil Gubernur Sumut Musa Rajeckshah (kedua kanan), melepas burung merpati pada Deklarasi "Tolak Politik Uang dan Politik SARA" di halaman Istana Maimoon, Medan, 14 Februari 2018. Dalam kegiatan tersebut, para pasangan calon berkomitmen untuk menolak politik uang dan politik SARA serta menjaga suasana aman dan kondusif pada Pilgub Sumut 2018. 

POLITIK tidak akan pernah berlangsung lurus dan mulus seperti ruas jalan tol baru dibuka. Hakikat politik ditakdirkan penuh siasat dan kejutan. Sebab tanpa itu, politik akan berhenti pada sekadar obrolan warung kopi. Namun, belakangan, siasat dalam politik cenderung makin tak sehat. Kejutan-kejutan yang mengemuka umumnya juga tidak lagi menyenangkan, terlebih-lebih diharap bisa memberi pencerahan dan mencerdaskan.

Kecenderungan yang antara lain membuat perilaku politik uang (money politics) terus hidup. Politik iming-iming. Juga hoaks yang hari-hari ini makin ramai.

Apakah hoaks? Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), menyerap dan mencatat entri hoaks awal tahun ini dan memberinya makna 'berita bohong'. Dalam Merriam Webster Dictionary, hoax (istilah asli sebelum diserap), didefenisikan sebagai 'to trick into believing or accepting as genuine something false and often preposterous'; upaya mempengaruhi dengan cara mengelabui, menyampaikan hal palsu dan tidak logis, namun seolah benar.

Defenisi lain, 'an act intended to trick or dupe'; perbuatan mengelabui atau menipu. Sedangkan Oxford Dictionary mencatatnya tidak saja sebagai tipuan (yang jahat), melainkan juga 'A humorous', hal lucu.

Tahun 1962, satu stasiun televisi Swedia menayangkan acara yang menampilkan narasumber seorang doktor teknik. Tentu saja cuma gadungan. Doktor ini menerangkan temuannya, yakni mengubah gambar hitam putih televisi menjadi berwarna menggunakan stocking jala. Tayangan ngibul ini, konon, sukses membuat ribuan orang di Swedia membungkuskan stocking ke televisi mereka.

Begitulah hoaks berangkat dari ketidaktahuan. Tepatnya, memanfaatkan ketidaktahuan pihak yang disasar untuk dikelabui dan ditipu. Makin besar ketidaktahuan, makin tinggi tingkat keberhasilan. Pihak yang tertipu kesal dan marah, tetapi kemudian tertawa lantaran ikut merasa geli.

Inilah hoaks paling sempurna. Namun, dalam politik, hoaks kehilangan kelucuannya yang hakiki, berganti horor. Hoaks berubah jadi senjata untuk menekan, menjatuhkan, bahkan membunuh karakter siapapun yang tak sejalan.

Perkembangan teknologi internet dewasa ini memberi ruang lebih luas bagi hoaks untuk mereproduksi diri. Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2017 menunjukkan angka pengguna internet tumbuh delapan persen menjadi 143,26 juta jiwa dari sebelumnya 132,7 juta jiwa, atau 54,68 persen dari total populasi 262 juta jiwa.

Fakta lain, kebanyakan pengguna internet Indonesia menghabiskan kuota data mereka untuk beraktivitas di media sosial, menonton video di Youtube, dan bertransaksi di toko-toko daring. Facebook sejauh ini masih menjadi tujuan favorit pengguna media sosial, disusul Instagram, Twitter, serta dua aplikasi jejaring berbasis percakapan, WhatsApp dan Line.

Di sinilah agen hoaks bekerja. Mereka paham media sosial bukan semata tempat berinteraksi, tetapi juga belantara informasi. Internet di Indonesia, di satu sisi makin baik, makin cepat. Namun, di lain sisi tak diikuti peningkatan kecakapan menelaah informasi.

Halaman
123
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved