Enam Kapal Diberondong Peluru oleh Polisi Air, Nelayan Tradisional Mengadu ke Propam

Kedatangan mereka didampingi Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Marhaenis Medan untuk membuat laporan

Enam Kapal Diberondong Peluru oleh Polisi Air, Nelayan Tradisional Mengadu ke Propam
TRIBUN MEDAN/AKBAR
Para nelayan tradisional mendatangi Bid Propam Polda Sumut untuk membuat laporan terkait sampan motor mereka diberondong petugas Polair Sergai pada 4 April lalu, Selasa (17/4/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Medan / Sofyan Akbar

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Sedikitnya 10 nelayan tradisional asal Kabupaten Batubara mendatangi Polda Sumut. Kedatangan mereka didampingi Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Marhaenis Medan untuk membuat laporan karena sedikitnya enam sampan motor milik nelayan tradisional diberondong peluru oleh polair Sergai.

Hal ini dikatakan Rahman Fafiki sebagai perwakilan nelayan dan LBH Marhaenis saat mendatangi Polda Sumut, Selasa (17/4/2018).

Ia mengatakan pihaknya datang ke sini untuk membuat pengaduan ke Bid Propam Polda Sumut karena sampan motor mereka tiba-tiba saja diberondol oknum polair Sergai dan satu orang nelayan atas nama Sulaiman (42) warga Lingkungan II, Kelurahan Pangkalan Dodek Baru, Kecaman Medang Deras, Kabupaten Batubara telah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan Polres Sergai bersama sampan motornya pada 4 April 2018 dinihari sekitar pukul 02.00 WIB.

"Teman kami itu (Sulaiman) ditangkap karena menggunakan jaring cantrang. Tapi, kami heran, kenapa kami malah diberondong petugas Satpolair Sergai," ujarnya.

Para nelayan didampingi kuasa hukumnya datang ke Polda Sumut membawa bukti-bukti foto sampan motor yang bolong dihantam peluru tajam dan proyektil yang ditemukan di Tempat Kejadian Perkara (TKP) wilayah pantai Sergai.

Rahman mengaku, penggunaan alat tangkap ikan jenis cantrang memang dilarang pemerintah.

Tapi, sambungnya, mereka menyesalkan sikap arogan dan ala koboi petugas Satpolair Sergai karena memberondong sekitar enam sampan motor yang diawaki sekitar 18 nelayan.

"Sesuai ujaran pemerintah, nelayan tradisional tidak boleh ditangkap, tapi hanya dibina," kata mereka di depan Bid Propam Polda Sumut.

Menurut para nelayan, penembakan secara membabi buta itu nyaris mengenai seorang nelayan bernama Adi. Mereka hanya bisa berlindung di balik dinding sampan motor hingga petugas Polair tersebut pergi.

Halaman
12
Penulis: akb lama
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved