Arkeolog Beri Pemahaman Peradaban Batak Purba kepada 'Anak Jaman Now'

Menaiki mobil dabal kabin, Kepala Balai Arkeologi Sumatera Utara Ketut Wiradnyana bersama

Penulis: Arjuna Bakkara |
Tribun Medan/Arjuna Bakkara
Kepala Balai Arkeologi Sumatera Utara Ketut Wiradnyana memberi pemahaman sekaligus buku panduan kepada pelajar di Kecamatan Sianjur Mula-mula, Kabupaten Samosir tentang pemahaman dan nilai budaya Batak Purbakala, Senin (30/4/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Medan / Arjuna Bakkara

TRIBUN-MEDAN.COM, SAMOSIR- Menaiki mobil dabal kabin, Kepala Balai Arkeologi Sumatera Utara Ketut Wiradnyana bersama Budayawan Batak Thompson Hutasoit bergerak mengitari Kaki Gunung Pusuk Buhit.

Disambut di sejumlah sekolah di Kecamatan Sianjur Mula-mula, Kabupaten Samosir mereka mereka memberi pemahaman dan nilai Purbakala kepada sejumlah peserta didik SMA dan SMP, Senin (30/4/2018).

Satu di antara sekolah yang disasar, SMP N 1 Sianjur Mula-mula yang sewilayah dengan Perkampungan Si Raja Batak. Berkumpul di lapangan sekolah yang dikelilingi lembah dan pebukitan hijau mereka mulai mendapat pengarahan.

Dalam sosialisasinya, Ketut menyampaikan kegiatan penelitian arkeologisnya di Pulau Samosir. Sebagaimana, Samosir merupakan Wilayau Budaya Masyarakat Etnis Batak Toba.

Katanya, penggalian yang dilakukan di beberapa situs termasuk di Situs Sianjur Mula-mula telah menghasilkan berbagai artefak. Apalagi, Sianjur Mula-mula dipercaya Masyarakat Batak Toba sebagai hunuan awal leluhur Batak atau Si Raja Batak.

"Kami sudah melakukan penelitian di Kampung Kampung Huta Urat. Hasil sementara penelitian itu kami perlu melakukan sosialisasi tentang apan yang kami dapatkan,"ujar Ketut.

Dia berharap, Warga Batak semakin mengetahui dari mana nenek moyang Batak berasal. Baik dari segi Arkeologi maupun Mitologi. Serta hal yang paling penting dianggapnya adalah bagaimana menerapkan nilai-nilai luhur dalam kehidupan sehari-hari masa kini.

"Biar warga tau bagaimana orang Batak Toba berasal, dan apa saja nilai-nilai nenek moyang yang dapat kita terapkan dalam sehari hari,"tambahnya.

Pada pertemuan tersebut, Ketut berharap penelitian arkeologisnya dapat menjadi fondasi peningkatan pendidikan karakter sejak dini. Sehingga nilai-nilai yang ada pada jaman leluhur dapat dipraktikan serta dihayati dalam kehidupan sehari-hari.

Hal serupa disampaikan Budayawan Batak, Thompson. Kehadiran penelitian ini tentu dianggap dapat membangun karakter anak yang berkaitan dengan pemahaman lingkungan. Sehingga, generasi penerus Batak meskinya terus berinovasi tanpa menghilangkan nilai-nilai yang ada.

Pada pertemuan tersebut, Ketut dan Thompson juga membagi-bagi buku serta VCD. Di dalam buku yang mereka berikan diselipkan aspek-aspek kearifan likal Masyarakat sekitar sebagai upaya menumbuhkan nilai-nilai yang sangat penting dalam pembentukan karakter.

"Nah, harapannya kalian bisa semakin berkreasi dan inovatif. Bula selama ini sudah belajar tentang Folklor "turi-turian", maka sangat baik juga didukung dengan hasil penelitian arkeologisnya," ujar Thompson yang Ujar Pria yang telah 15 tahun menggali Opera Batak itu.

(cr1/tribunmedan.com)

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved