Pilgub Sumut

Kisah Djarot Nyaris Tergoda Kena Rayuan Maut Mahasiswinya Sampai Sebut Astaghfirullah

Calon Gubernur Sumatera Utara Djarot Saiful Hidayat mengulas pengalamannya ketika menjadi dosen

Tribun Medan/Fatah Baginda Gorby
Djarot Saiful Hidayat saat berbincang dengan warga 

Laporan Wartawan Tribun Medan, Fatah Baginda Gorby

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Calon Gubernur Sumatera Utara Djarot Saiful Hidayat mengulas pengalamannya ketika menjadi dosen di Universitas 17 Agustus 1945 .

Pria kelahiran Magelang 6 Juli 1962 itu mengaku pernah digoda oleh mahasiswinya.

"Saya dahulu itu dekan di sana, dan masih naik motor. Mobil dinas saya serahkan mahasiswa untuk dipakai keperluan kampus," ujarnya, Jumat (5/3/2018).

Momen 'curhat' itu dikemukakan Djarot di hadapan Komunitas Alumni Smansa Medan For Djoss, pada acara diskusi dan deklarasi perkumpulan tersebut untuk pasangan Djarot-Sihar.

Pada sewaktu pulang, lanjut Djarot ia ditunggu seorang mahasiswinya di parkiran kampus.

"Ada seorang mahasiswi yang cantik, kemudian mengatakan kalau ia mau pulang bersama saya," katanya.

Lantas Djarot menanyakan perihal kendaraan yang akan ditumpangi.

"Saya nanya dia naik apa, dia katakan naik mobil dan mengajak saya untuk naik mobilnya, sedangkan saya waktu itu naik motor. Wah, astaghfirullah gawat ini, tapi cantik loh dia," ujarnya berseloroh.

Sontak pernyataan itu disambut oleh gemuruh gelak tawa hadirin yang mendengarkan di acara itu.

Suami Happy Farida itu pun berinisiatif agar menghindari conflict of interest dengan mahasiswinya itu.

"Ya sudah kemudian saya menyetujui untuk pulang bersama-sama. Saya minta dia naik mobilnya, dan saya mengawalnya dengan naik motor dari belakang," ungkapnya.

Alhasil Djarot mengantar sang mahasiswi cantik sampai ke rumahnya dan menemui orang tuanya.

"Pak ini anak bapak saya antar ya. Begitu saya bilang ke bapaknya, lalu saya ditawarin untuk singgah dulu, saya menolak halus," ujarnya.

Menurut Djarot apa yang dilakukannya itu merupakan komitmennya menjaga etika profesi dan kejujuran sejak dulu.

Ia menghindari konflik kepentingan dengan para mahasiswanya.

"Kalau saya menyetujui permintaan cewek itu, wah, saya gak akan dipercaya mahasiswa saya lagi," katanya.

Bagi Ketua DPP PDIP itu, kejujuran didapat dari bimbingan neneknya.

"Dulu saya tinggal dengan nenek saya, beliau orang kuno tetapi mengajarkan saya kejujuran. Bila ada mahasiswa yang datang ke rumah untuk mencari saya dan membawa bungkusan pasti dibuangnya ke tempat sampah," katanya.

Pernah suatu ketika, ujar Djarot seorang mahasiswa membawakan amplop putih yang menurutnya berisi uang.

"Ketika dibuang ke tempat sampah, lucunya si mahasiswa ini mengambil kembali amplop tersebut dari tempat sampah itu," katanya.

Masalah ujian juga tak luput dari pengawasan Djarot.

Pada waktu itu, ia memberikan pilihan kepada para mahasiswanya untuk jujur dan mengaku secara objektif bila tidak bisa menjawab soal yang diberikannya.

"Mendingan lapor kepada saya kalau tidak dapat, saya akan cari solusinya. Ketimbang menipu diri sendiri, dan para mahasiswa saya patuh akan hal itu," ungkapnya.

(cr7/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved