Samosir Negeri Kepingan Surga Minim Infrastruktur, Jalan Buat Sendiri Listrik Pun Tak Ada
Kesejahteraan sejumlah warga di Samosir dan kemapanan infrastruktur justru tak semanis Keindahan Pulau Samosir
Penulis: Arjuna Bakkara |
Laporan Wartawan Tribun Medan, Arjuna Bakkara
TRIBUN-MEDAN.com, SAMOSIR - Kesejahteraan sejumlah warga di Samosir dan kemapanan infrastruktur justru tak semanis Keindahan Pulau Samosir yang dikelilingi Danau Toba dan diagung-agungkan orang.
Seperti saat ditemui di Dusun III Desa Simbolon Purba, Kecamatan Palipi Kabupaten Samosir di Penghujung April 2018 lalu, kondisi warga benar-benar membutuhkan perhatian.
Menyikapi hal itu, Bupati Samosir Rapidin Simbolon mengakui kondisi Desa tersebut. Bahkan, katanya Daerah yang lebih parah juga masih ada
"Bukan hanya di Tangga bosi. Ada lagi yang lebihh parah dari situ dan bukan juga hanya di Samosir, tetapi masih banyak di daerah lain. Dan itulah yg diperjuangkan oleh Bapak Jokowi, Presiden kita. Oleh karena itu mari kita kerja keras dan saling mendukung utk Indonesia yang lebihh Sejahtera," ujarnya saat dimintai tanggapan melalui Aplikasi WhatsApp Kamis Malam (3/5/2018).
Menurut Rapidin, yang menjadi masalah persoalan pembebesan lahan. Masyarakat dinilai kurang respon soal pelepasan lahan, sehingga masalah tidak tuntas.
"Kalau ada yang bisa menjamin untuk pelepasan lahan untuk jalan pasti kami kerjakan", tambahnya lagi.
Lebih jauh atas kondisi Desa ini Rapidin menuding, penulis tidak mengetahui masalah sebenanarya.
"Kalau berita memang sangat mudah untuk menulisnya. Tetapi, terkadang bagi yang menulis tidak mengetahui masalah yang sebenarnya," tulisnya mengakhiri.
Sementara itu, persoalan yang dihadapi warga seperti disebutkan Warga kondisi desa sudah berlangsung lama. Pemimpin berganti, rezim berubah namun desa mereka tetap terkesan ditinggalkan.
"Oh, sudah lama ini pak. Jalan kami buat sendiri, listrik tidak ada," sebut warga bermarga Simbolon
Keadaan warga di Dusun Dusun III Desa Simbolon Purba jauh dari slogan Kabupaten tersebut "Samosir Negeri Indah Kepingan Surga". Mereka kesulitan berbagai hal dalam kehidupan sehari-hari.
Mulai dari jalan Desa yang tak kunjung dibangun Pemerintah hingga akhirnya mereka hertindak sendiri menyewa alat berat semampu daya mereka.
Penerangan lampu listrik juga tak pernah mereka rasakan.
Padahal air Danau Toba yang mengelilingi pulau mereka adalah penggerak turbin raksasa di PLTA Sigura-gura yang memasok sebagian besar kebutuhan listrik di Provinsi Sumut.
Seperti diceritakan Efariani Simbolon, bocah perempuan kelas 6 SD.
Mereka juga kesulitan dalam hal mendapatkan air bersih. Harus berjalan menjinjing ember berisi air beratus-ratus meter.
Jalan yang mereka bangun sendiri juga tidak sempurna untuk dilalui kendaraan. Untuk dapat tiba di sekolah, Efariani dan anak-anak seusianya juga harus melewati jalan berlumpur dengan berjalan kaki.
Sedangkan pada malam harinya, Efariani terpaksa belajar menggunakan lampu minyak (teplok) yang minim cahaya. Selain tidak memancarkan cahaya, lampu tersebut juga bahkan mengganggu kenyamanan Efariani.
Polusi asap lampu teplok yang pedih harus mereka hirup tiap malam. Kesehariannya pada malam hari terpaksa belajar dalam gelap-gelapan.
Menurut Efariani yang semarga dengan negarawan, tokoh PRRI Kolonel Maluddin Simbolon ini, Desa mereka tidak pernah diperhatikan oleh Pemerintah.
Baik Pemkab Samosir, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara atau pun Pemerintah Pusat. Sejak Indonesia dinyatakan merdeka, desanya begitu-begitu saja dan jauh tertinggal dengan daerah lainnya
Kepada Tribun-Medan.com, Efariani gadis kelas 6 SD ini berharap agar Presiden Jokowidodo camur tangan langsung dengan keberadaan desanya yang menurutnya ditinggalkan. Alasanya, Pemkab Samosir tidak pernah memberikan perhatian ke Desa mereka. (Cr1/tribunmedan)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/keseharian-efariani-simbolom-pada-malam-hari-terpaksa_20180504_130948.jpg)