Terkait Berita Pungli Dosen USU, Gubernur Fisip :Itu Memang Enggak Ada Lagi

Terkait pemberitaan Dosen USU bernama Nurlela Ketaren diduga melakukan pungli terhadap mahasiswanya AGS

Terkait Berita Pungli Dosen USU, Gubernur Fisip :Itu Memang Enggak Ada Lagi
Tribun Medan
Ilustrasi pungli di Rutan 

Laporan Wartawan Tribun Medan / Frengki Marbun

TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN -Terkait pemberitaan Dosen USU bernama Nurlela Ketaren diduga melakukan pungli terhadap mahasiswanya AGS.

Harry Cahya Pratama Purwanto, selaku Gubernur Fakultas Ilmu Sosial dan Politik ikut berkomentar terkait berita tersebut.

Harry menjelaskan bahwa, maraknya pemberitaan terkait Dosen Nurlela terkait dugaan pungatan liar terhadap mahasiswa jurusan Administrasi Bisnis berinisial AGS, ia menampik pemberian tersebut.

"Itu memang enggak ada lagi, terkait bingkisan, baik itu pungli, atau pemerasan apapun. Dan kalau enggak salah, ini tahun terakhir ibu itu bertugas sebagai dosen di FISIP, kayaknya mau pensiun, karena memang dia udah tua kan," ucapnya kepada Tribun Medan, Rabu (23/5/2018).

Harry juga mengatakan, adanaya miskomunikasi antara mahasiswa dan dosen terkait pemberitaan tersebut.

"Jadi ini sebenarnya miskomunikasi. Mahasiswa ini terkadang, semacam mereka yang membuat peluang terhadap masalah ini. Istilahnya, mau ingin dipercepat terkait nilai, sempro (seminar proposal), maupun sidang skripsi. Tapi inilah, si dosennya ini jadi miskomunikasi," ucapnya lagi.

Gubernur Fisip ini pun menyemprot mahasiswa AGS, terkait pemberitaan dosen Nurlela.

"Itukan masalah yang lama-lama. Mungkin kasus dia sendiri pun, enggak mau dia ucapkannya. Seharusnya dia pun harus lebih konkret terkait masalah pungli ini. Kalau memang ada, mungkin saya bisa cari data-datanya, dan bisa lebih percaya. Kalau mahasiswa yang bersangkutan, saya kurang kenal, memang dia angkatan 2014, tapi itulah, tiba-tiba masalah ini muncul di media," katanya.

Harry selaku Gubernur Fisip juga menambahkan bahwa mahasiswa yang bersangkutan ingin cepat lulus, seharusnya jangan melakukan hal seperti itu.

"Terkadang memang, kalau mahasiswanya ingin cepat, dispensasi, ataupun keringanan, harusnya lebih cermat lagi. Kalau di prodi saya (Administrasi Negara), hal -hal seperti itu, sudah dikurangi. Kalau mahasiswanya mau sempro atau sidang, mahasiswa sudah tidak boleh lagi bawa kue atau hal berbau bingkisan. Dan terkait berita ini juga, saya sempat bertanya-tanya ke teman-temannya. Tapi menurut pengakuan teman-temanya, si mahasiswa AGS yang mau minta cepat tamatnya, tapi malah begini jadinya," tambah Harry.

(Cr14/tribun-medan.com)

Penulis: Frengki Marbun
Editor:
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved