Kanker dan Gagal Ginjal Intai Masyarakat, BBPOM Medan Minta RUU POM Segera Disahkan

Yulius mengatakan, memang seperti itulah cara kerja Badan POM. Badan POM masih membutuhkan dukungan perkuatan Undang-Undang.

Kanker dan Gagal Ginjal Intai Masyarakat, BBPOM Medan Minta RUU POM Segera Disahkan
Tribun Medan /HO
BPOM Melihat produksi Lengkong 

Laporan Wartawan Tribun Medan/ Liska Rahayu

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Kepala Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Medan Yulius Sacramento mengucapkan terima kasih kepada anggota dewan yang meminta agar mereka menindak tegas pelaku pengoplosan makanan. Ia mengatakan, hal tersebut berarti semua pihak menyadari memang diperlukan penguatan, yaitu dengan segera mengesahkan RUU Badan POM.

“Terima kasih anggota dewan yang memberikan koreksi seperti itu. Artinya kita menyadari memang perlu penguatan. Satu, artinya perkuatan regulasi supaya RUU Badan POM segera dikeluarkan dong. Kedua, kapasitas kelembgaan sampai saat ini, Badan POM hanya sampai provinsi. Tapi sudah mulai ada progres akan ada BPOM di kabupaten/kota, tapi masih terbatas. Ini juga kita harapkan agar dipercepat,” ujar Yulius, Kamis (31/5/2018).

Mengenai menunggu laporan dan melakukan penelusuran dalam menindak, Yulius mengatakan, memang seperti itulah cara kerja Badan POM. Badan POM masih membutuhkan dukungan perkuatan Undang-Undang. 

Karena Undang-Undang Badan POM masih mengacu kepada UU Pangan dan Perlindungan Konsumen. Sementara, mereka membutuhkan dukungan lintas sektor yang tidak sedikit.

“Kita tunggu masyarakat supaya mendorong RUU segera menjadi UU. Supaya perlindungan masyarakat lebih optimal.  Dan juga dalam rangka agar produk-produk kita itu memiliki daya saing yang bagus. Bukannya produk-produk yang bermasalah,” jelasnya.

Yulius menjelaskan, tujuan dari RUU Badan POM ada dua, yakni untuk melindungi masyarakat sehingga tidak terancam bahan berbahaya yang ujungnya adalah pemborosan biaya kesehatan dan juga ancaman kualitas SDM.

“Terbayang enggak, lima atau sepuluh tahun lagi tetap seperti ini. Mau berapa persen nanti jumlah orang terkena kanker, gagal ginjal dan semacamnya? Nah, itulah penyakit-penyakit yang diakibatkan oleh bahan berbahaya ini. Jadi saya kira, yang kita lakukan ini adalah pencegahan. Jauh lebih penting pencegahan daripada nanti pengobatan ataupun penindakan,” pungkasnya.

(cr5/tribun-medan.com)

Penulis: Liska Rahayu
Editor: Joseph W Ginting
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved