Breaking News:

Dari Hutan Mangrove Menuju Kemandirian Ekonomi

Koperasi yang berpusat di kabupaten Serdang Bedagai ini menjawab salah satu tantangan zaman terkait lingkungan dengan ikut mengonservasi hutan.

TRIBUN MEDAN/TRULY OKTO PURBA
TULISAN “MANGROVE” di lokasi Wisata Mangrove Kampoeng Nipah di Desa Sei Nagalawan, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), Provinsi Sumatera Utara. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Tujuan utama Koperasi Indonesia adalah mengembangkan kesejahteraan anggota pada khususnya, dan masyarakat pada umumnya. Tetapi bagi Koperasi Serba Usaha (KSU) Muara Baim Bay, koperasi hadir tak hanya mengembangkan kesejahteraan anggota dan masyarakat. Lebih dari itu, koperasi yang berpusat di kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara ini  menjawab salah satu tantangan zaman terkait pelestarian lingkungan dengan ikut mengonservasi hutan mangrove di pesisir pantai Desa Sei Nagalawan.

Senja mulai turun perlahan di pesisir pantai Desa Sei Nagalawan, kecamatan Perbaungan, Serdang Bedagai, Sumatera Utara. Hembusan angin mendorong ombak pantai membentuk riak-riak kecil dan membasahi hamparan pasir putih. Suasana cukup hening.

Tapi seketika, suasana hening tersebut tersebut terpecahkan kicau burung-burung bangau yang beterbangan diantara pucuk-pucuk daun mangrove yang tumbuh menghijau dan menghampar di sekitar pantai.

Kicau burung ini meningkahi keriuhan belasan perempuan yang sedang mengolah daun mangrove dari pohon jeruju menjadi kerupuk di sebuah bangunan sederhana di dekat pantai. Para perempuan ini adalah anggota Koperasi Serba Usaha (KSU) Muara Baim Bay yang merupakan pengelola kawasan Wisata Mangrove Kampoeng Nipah di Desa Sei Nagalawan.

Meskipun gelap semakin mengejar, belasan perempuan tersebut masih asyik dengan adonan kerupuk. Ada yang membersihkan daun mangrove, mengeringkan, mencampur dengan tepung, dan menambah berbagai rasa. Ada empat rasa kerupuk yang dihasilkan saat itu, yakni kerupuk jeruju original, kerupuk jeruju rasa jagung dan kerupuk jeruju rasa balado.

“Biasanya kami memproduksi kerupuk tiga hingga empat kali seminggu. Hari ini kebetulan waktunya berproduksi,” kata Jumiati, Manajer Unit Usaha KSU Muara Baim Bay kepada Tribun-Medan.com, awal Juni lalu.

Senyum ceria tergambar di raut wajah Jumiati, saat melihat rekan-rekannya yang sedang memproduksi kerupuk. Sesekali Jumiati ikut membersihkan daun mangrove sebelum diolah menjadi kerupuk. “Kami begitu gembira, karena perjalanan KSU Muara Baim Bay sudah sejauh ini, dan hasilnya positif. Kami bersyukur, bahwa konservasi hutan mangrove yang kami lakukan tahun 2004 lalu telah memberikan perubahan besar yang positif bagi daerah ini, mulai dari pelestarian hutan, kemandirian ekonomi, dan lapangan pekerjaan,” kata Jumiati.

Jumiati (37) adalah orang yang berada di balik berdirinya Wisata Mangrove dan KSU Muara Baim Bay yang mengelola Wisata Mangrove tersebut. Jika pada dasarnya koperasi berdiri dengan tujuan utama untuk  mengembangkan kesejahteraan anggota dan masyarakat, maka KSU Muara Baim Bay telah melakukan lebih dari tujuan utama itu. Isu kerusakan lingkungan yang merupakan salah satu tantangan zaman ini berhasil dijawab Jumiati dengan mendirikan Wisata Mangrove dan KSU Muara Baim Bay.

Awalnya Jumiati tak sendiri. Suaminya, Sutrisno (38), ikut membantunya mewujudkan berdirinya Wisata Mangrove dan KSU Muara Baim Bay. Perjuangan keduanya bukanlah perjuangan satu atau dua tahun, melainkan perjuangan selama belasan tahun.

Jumiati menceritakan, menjadikan hutan mangrove di Desa Sei Ngalawan sebagai tempat wisata dan mendirikan koperasi, bukanlah cita‑cita utamanya. Namun, seiring berjalannya waktu, perjalanan Jumiati akhirnya membawanya melangkah begitu jauh melebihi cita‑citanya belasan tahun sebelumnya.

"Cita‑cita utama saya adalah konservasi (pelestarian) hutan mangrove. Saat datang ke sini tahun 2004, saya dan Bang Tris (suami) mendapati kawasan hutan di daerah ini yang sudah hancur. Penghasilan nelayan yang menurun akibat kerusakan pantai. Saya dan Bang Tris mencoba menanam kembali mangrove. Kami mengajak masyarakat sekitar agar ikut menanam kembali hutan mangrove. Awalnya tak mudah, karena banyak juga yang menolak. Tapi saya, Bang Tris dan sejumlah warga yang mau jalan terus. Perlahan‑lahan warga lainnya mulai tertarik dan ikut menanam mangrove. Kami semua bergabung dan membentuk Kelompok Konservasi Muara Baim Bay. Lewat kelompok ini kami mengonservasi kawasan hutan di Desa Sei Nagalawan secara intensif hingga tahun 2011," kenang Jumiati.

Jumiati mengaku bersyukur karena program konservasi yang mereka gagas bersama warga setempat membuahkan hasil. Hutan mangrove kembali tumbuh dengan baik. Pada tahun 2011, Jumiati pun menjadikan kawasan hutan mangrove seluas lebih dari lima hektar tersebut menjadi Wisata Mangrove.  Dikatakan Jumiati, sebelum mendirikan Wisata Mangrove ditahun 2011, dirinya dan sejumlah perempuan di sekitar pantai membentuk wadah bernama Kelompok Perempuan Muara Tanjung sejak tahun 2009.  Wadah ini bekerja mengolah daun mangrove menjadi produk turunan berupa makanan ringan. Namun, daun mangrove yang diambil bukanlah dari hutan bakau, melainkan dari bantaran sungai yang memang tidak berpengaruh terhadap keberadaan hutan mangrove.

KERUPUK Ikan MT dan Kerupuk Jeruju adalah produk makanan olahan dari tumbuhan mangrove yang dikelola oleh KSU Muara Baim Bay.
KERUPUK Ikan MT dan Kerupuk Jeruju adalah produk makanan olahan dari tumbuhan mangrove yang dikelola oleh KSU Muara Baim Bay. (TRIBUN MEDAN/TRULY OKTO PURBA)

Jenis daun yang biasa digunakan adalah daun dari pohon api‑api yang diolah menjadi kue selimut api‑api, daun pohon jeruju yang diolah menjadi kerupuk jeruju original, kerupuk jeruju rasa jagung dan kerupuk jeruju rasa balado. Kemudian daun pohon prepat (pedada) diolah menjadi kue kering selai prepat. Produk lainnya yang dapat dihasilkan adalah sirup mangrove, selai mangrove dan dodol mangrove. "Semua produk-produk ini dikelola dengan cara yang higienis dan standar. Packaging yang baik dan dilengkapi dengan label halal dan izin Dinas Kesehatan," katanya.

Melihat hasil konservasi yang semakin baik dan pengolahan produk turunan mangrove yang diminati masyarakat, Jumiati dan suaminya pun berpikir agar pengolahan Wisata Mangrove semakin profesional tetapi dengan syarat melibatkan semua masyarakat di sekitar. Jumiati pun menggabungkan Kelompok Konservasi Muara Baim Bay dan Kelompok Perempuan Muara Tanjung menjadi Koperasi Serba Usaha (KSU) Muara Baim Bay pada tahun 2012.

Halaman
123
Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved