Kapal Tenggelam

Kisah Perjuangan dan Kesaksian Suka Duka 5 Korban Selamat Kapal Karam di Perairan Danau Toba

Lantas bagaimana kesaksian para korban kapal karam yang selamat. Berikut kisah suka duka mereka.

Facebook
KM Sinar Bangun sebelum berangkat di Pelabuhan Simanindo menuju Tigaras. (Facebook) 

Tak lama, kapal feri KMP Sumut melintas, disusul KM Cinta Damai.

Awak kapal feri melemparkan pelampung-pelampung yang sudah terikat tali ke danau.

Dino kemudian memungut dua pelampung, melepaskan ikatannya, dan memakainya.

Sisanya ia bagi kepada seorang penumpang lain.

"Kapal feri berhenti. Awak kapal feri menarik penumpang tenggelam yang berhasil mengambil pelampung. Saya enggak tahu jumlah penumpang yang diselamatkan kapal feri. Saya fokus menolong orang naik ke atas kapal kecil. Total yang berhasil saya tolong ada lima orang," tuturnya.

Sementara penumpang selamat lainnya ditolong oleh awak kapal feri KMP Sumut dan dua kernet KM Cinta Damai.

Ia sendiri ke daratan menaiki KM Cinta Damai. Setelah sampai di daratan ia langsung pulang menemui istri dan anak-anaknya. Ia baru ke puskesmas pada keesokan harinya.

KM Sinar Bangun
KM Sinar Bangun (Ist)

Soal ongkos untuk naik KM Sinar Bangun, ia menyebut memang penumpang tak ada membeli tiket.

"Ongkos Rp 7 ribu per orang. Sepeda motor Rp 8 ribu. Kalau kapal kayu enggak ada didata-data. Ditarik ongkos saat udah jalan kapalnya," sebutnya.

2. Selamat lantaran Memeluk Helm

Air mata mengucur deras tanpa henti di pipi Juwita Sumbayak kala tim medis memberikan obat dan makanan untuknya.

Juwita merupakan satu di antara korban selamat kapal karam.

Juwita menangis sembari memanggil-manggil anaknya dan menyebutkan 18 anggota keluarganya yang hilang akibat peristiwa ini.

Dalam balutan selimut, Juwita Sumbayak masih legawa mengisahkan pengalamannya.

Menurutnya, kapal yang ditumpanginya tenggelam karena kelebihan muatan.

Juwita Sumbayak, korban selamat KM Sinar Bangun yang dirawat di RSUD Hadrianus Sinaga, Pangururan.
Juwita Sumbayak, korban selamat KM Sinar Bangun yang dirawat di RSUD Hadrianus Sinaga, Pangururan. (facebook)

Juwita memperkirakan ada 200 penumpang yang diangkut KM Sinar Bangun.

Ketakutan mendera, saat angin kencang menghempas badan kapal, walhasil kapal oleng ke sebelah kanan.

Ombak selanjutnya yang cukup tinggi menggoyangkan kapal hingga terbalik.

Juwita tak sempat mencerna situasi yang begitu cepat terjadi.

Ia meraih dan memeluk helm setelah tercebur ke air. Sekelebat pikiran muncul bahwa helm itu dapat membantunya untuk  mengapung.

"Ngeri loh, ngeri. Aku sebenarnya sudah pasrah. Aku selamat karena kupegang helm. Aku pun udah gak mau lagi selamat. Udah pasrah mau mati saja," ujarnya terbata-bata.

Juwita sempat melihat seluruh penumpang berhamburan ke air danau.

Saat terapung dengan helm, Juwita melihat tubuh penumpang yang terombang-ambing.

"Ketika saya terombang-ambing ada kapal feri yang datang. Mereka memberikan tali untuk saya. Makanya aku selamat," ujarnya.

Isak tangis Juwita mendadak terdengar lagi. 

 

"Anakku, sama suamiku masih di sana. Mereka gak bisa berenang," katanya.

3. Riko Sahputra Satu Jam Terapung

Riko Sahputra terlihat sudah segar di atas tempat tidur di Puskesmas Simarmata di Jalan Raya Simanindo, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara.

Riko merupakan korban selamat lainnya selepas insiden tenggelamnya kapal penumpang KM Sinar Bangun

Riko bilang sempat terombang-ambing di perairan sebelum akhirnya diselamatkan kapal yang lewat.

Dia lalu menuturkan detik-detik tenggelamnya kapal yang disebut berkapasitas 80 orang itu.

Menurut Riko, saat berangkat, kapal memang terlihat penuh, terutama oleh sepeda motor. Dia tak yakin angka pastinya, namun antara 50 hingga 100 unit.

Riko Saputra, penumpang KM Sinar Bangun yang selamat
Riko Saputra, penumpang KM Sinar Bangun yang selamat (Tribun Medan)

Penumpang juga ramai dan beragam dari segala jenis usia, anak-anak hingga orang tua.

"Dari mulai berangkat kapal masih tenang aja," tutur Riko. "Waktu udah mau sampai sekitaran 1 km lagi, mulai angin dan ombak kencang. Kapal banyak miring ke kanan, tiga kali miring ke kanan. Mungkin karena banyak kereta (motor) di situ, jadi terguling," lanjutnya kemudian.

Suasana waktu itu tiba-tiba mencekam. Semua penumpang panik. Mereka semua lalu jatuh ke air.

"Penumpang berjatuhan ke Danau Toba. Mereka terombang-ambing sekitar satu jam di tengah danau hingga datangnya pertolongan," ungkapnya.

"Kami ada satu jam di tengah danau. Aku pegang helm," kata Riko kemudian.

4. Jessica Elpri Sinaga Mahir Berenang hingga Bisa Selamat

Jesika Elpri Sinaga (20) korban yang selamat mengungkap kondisi kapal saat itu sudah sangat sesak. Bahkan sebelum melaju, dalam keadaan bersandar, kapal sudah oleng ke sebalah kanan.

Jesika warga Raja Nihuta, Kecamatan Dolok Pardamean, Kabupaten Simalungun mengatakan ia tengah duduk di lantai dua saat merasakan merasa kapal dalam kondisi oleng. Saat itu, cuaca cukup buruk. Angin dan ombak cukup kuat menghantam kapal.

"Kapal oleng ke sebelah kanan. Lalu, terbalik dan perlahan jatuh masuk ke dalam danau. Semua manusia menumpuk di sisi kanan kapal," katanya.

Jesika Elpri Sinaga korban selamat yang merekam kejadian tenggelamnya KM Sinar Bangun di posko keluarga korban di Dermaga Tigaras, Minggu (24/6/2018).
Jesika Elpri Sinaga korban selamat yang merekam kejadian tenggelamnya KM Sinar Bangun di posko keluarga korban di Dermaga Tigaras, Minggu (24/6/2018). ()

Jesika menceritakan ia dapat selamat ketika melihat ada celah untuk keluar dari kapal. Jesika sempat naik ke atas bangkai kapal yang belum sepenuhnya tenggelam.

"Waktu terbalik kapal. Tersesatlah aku di dalam, kucarilah celah kupaksa keluar. Kutengok kawanku di atas semua lalu naik aku. Selang empat menit kapal tenggelam sepenuhnya," ujarnya seraya mengatakan saat akan naik ke permukaan semua korban saling tarik menarik.

Jesika pun berhasil selamat dengan berenang dan ditolong oleh Kapal Motor Cinta Damai.

Jesika pergi bersama lima temannya Jamuda sinaga, Roni Siadari, Herman Turnip, Selma Sinaga, dan Atur Sinaga. Namun, dua temannya Selma Sinaga dan Atur Sinaga masih dalam pencarian.

"Saat kami tenggelam ada kapal feri memang yang lewat. Tapi, mereka hanya sebentar. Hanya tiga orang yang diselamatkan lalu pergi," katanya.

Jesika juga mengungkapkan kekecewaan atas tindakan nakhoda kapal feri yang terkesan membiarkan mereka tenggelam.

"Ada diselamatkan tiga orang. Masih banyak yang minta tolong. Yang diselamatkan tiga orang lalu pergi. Lalu balik lagi tapi enggak ada lagi yang selamat," ujarnya.

5. Kaki Jamuda Sinaga Sempat Ditarik

Jamuda Parmonangan Sinaga, satu korban selamat menuturkan petugas di Dermaga Tigaras telah menolak rencananya untuk menaiki kapal itu. Alasannya, KM Sinar Bangun sudah dinyatakan penuh, tetapi pemilik kapal tidak menolak dia dkk naik ke atasnya.

"Penumpang sudah padat di dalam, tidak bisa bergerak sama sekali. Kondisi penumpang sesak," kata Jamuda

Pemuda 17 tahun ini menyebutkan kejadian kapal karam begitu cepat. Kapal oleng ke kiri lalu kanan, beberapa saat kemudian sudah tenggelam. Ketika kapal mau tenggelam itu dirinya memutuskan loncat  ke danau.

Jamuda Sinaga. (BBCNewsIndonesia)
Jamuda Sinaga. (BBCNewsIndonesia) (BBCNewsIndonesia)

Saat berenang untuk menyelamatkan diri, Jamuda sempat berupaya menolong kerabatnya.

"Teman saya menarik-narik kaki saya, karena situasi panik dan saya juga hampir tenggelam."

Tetapi, "Saya lepaskan dan saya naik ke permukaan danau. Setelah itu, tidak ada lagi saya lihat mereka dimana," ujarnya perlahan.

Hingga akhirnya dia dan sebagian korban lainnya diselamatkan oleh kapal KMP II Sumut, Jamuda mengaku tidak ingat lagi kejadian selanjutnya.

Jamuda mengaku hingga kini harus bolak balik rumah ke Posko Bencana di Dermaga Tigaras yang berjarak sekitar tujuh kilometer dari rumahnya. Dia merupakan warga Kampung Sibungabunga, Desa Togudomu Nauli, Kabupaten Simalungun, Sumut.

"Mau cek korban lain apakah sudah ditemukan atau belum. Karena kakak dan adik saya dan teman saya belum ditemukan juga. Saya berharap secepatnya bisa ditemukan," katanya, masih dengan nada lirih.

(Raf/Dimaz Kahfi/ Arjuna Bakkara/Tribun-medan.com)

Penulis: Randy P.F Hutagaol
Editor: Randy P.F Hutagaol
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved