Breaking News:

Perjuangan Jimmy dari Palangkaraya Ke Danau Toba Mencari para Korban dan Abangnya yang Hilang

Jimmy merupakan adik kandung Jaya Sidauruk, warga Simanindo, Samosir, yang masih hilang pasca karamnya KM Sinar Bangun.

Penulis: Arjuna Bakkara | Editor: Liston Damanik
Tribun Medan/Arjuna Bakkara
Jimmy Sidauruk menarik tali jangkar ke dalam kapal di Perairan Danau Toba, Minggu (24/6/2018) untuk mencari para korban, termasuk abang kandungnya yang ikut hilang pada karamnya KM Sinar Bangun di Danau Toba Senin, 18 Juni lalu. 

Jimmy yang merupakan mahasiswa semester akhir di Universitas Palangkaraya ini sengaja pulang dari Kalimantan atas peristiwa kapal maut KM Sinar Bangun. Baru sehari tiba di Tanah Kelabirannya Samosir, dia memilih terlibat mencari para korban, termasuk abang kandungnya.

Kata Jimmy, Minggu ini adalah hari keempat dirinya ikut mencari. Dia sengaja pulang dari Kalimantan demi melakukan pencarian.

"Dapat kabar ini, saya memilih pulang langsung dari Kalimantan," sebut mahasiswa jurusan Akuntansi ini.

Dalam pencarian, pengakuan Jimmy dirinya tidak semata-mata hanya terfokus ke abang kandungnya. Dia berharap, dalam upaya yang mereka lakukan hendaknya membuahkan hasil, agar para korban, baik abangnya bisa ditemukan.

Di sela-sela pencarian tersebut, wajah Jimmy tampak sayu. Berharap para korban dapat ditemukan, khususnya abangnya, Jaya Sidauruk. Para relawan berusaha menjadi pelipur lara bagi Jimmy. Jimmy tidak dibiarkan sendiri.

Jimmy Sidauruk (kanan) sedang mempersiapkan peralatan di Perairan Danau Toba, Minggu (24/6/2018) untuk mencari para korban, termasuk abang kandungnya yang ikut hilang pada karamnya KM Sinar Bangun di Perairan Danau Toba Senin, 18 Juni lalu.
Jimmy Sidauruk (kanan) sedang mempersiapkan peralatan di Perairan Danau Toba, Minggu (24/6/2018) untuk mencari para korban, termasuk abang kandungnya yang ikut hilang pada karamnya KM Sinar Bangun di Perairan Danau Toba Senin, 18 Juni lalu. (Tribun Medan/Arjuna Bakkara)

Sementara itu, satu dari relawan warga Simanindo, Juniandy Sinaga mengatakan sudah enam hari melakukan pencarian. Pencarian mereka lakukan mulai pukul 7 pagi hingga pukul 6 sore.

Disinggung soal perlengkapan pencarian, logistik, tali, jangkar, besi, kawat duri memang mereka siapkan sebagai wujud peduli kepada para korban hilang.

Titik-titik yang dianggap menjadi tempat terakhir perlintasan KM Sinar Bangun tenggelam mereka sisir. Untuk armada selama penyisiran, kapal yang mereka gunakan adalah Sabar Tani yang langsung dikemudikan pemiliknya, Tani Silalahi.

Kendala cuaca yang tidak bersahabat kadang, kata Juniandy mempersulit pencarian. Namun, dengan alat seadanya mereka terus berupaya.

"Kadang cuaca menjadi kendala. Apalagi saat ini musim ombak masih dan akan sedang berlangsung," ujarnya.

Halaman
123
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved