Kedai Tok Awang

Seindah Apapun, Mimpi Mesti Berakhir

Deschamps tahu betul dia punya pemain-pemain cepat yang bisa diandalkan untuk serangan balik

Seindah Apapun, Mimpi Mesti Berakhir
AFP PHOTO/ALEXANDER NEMENOV
PARA pemain tim nasional Kroasia berjalan melalui barisan yang dibentuk pemain-pemain tim nasional Perancis, saat akan menerima medali sebagai peringkat kedua Piala Dunia 2018, usai laga final di Luzhniki Stadium, Moskow, Rusia, Minggu (15/7). Perancis mengalahkan Kroasia 4-2. 

"Jangan kau tengok dari skor aja lah. Sekarang kita jujur-jujuran. Kelen tengoknya cemana main Kroasia, cemana main Perancis. Dua gol Perancis, yang satu bunuh diri, yang satu lagi penalti setelah wasit nengok VAR. Beda sama gol Kroasia yang kelas kali."

"Bukan cumak dari golnya," sahut Tok Awang dari balik steling. "Main orang tu pun memang lebih mantap. Si Modric, Si Rakitic, juga Perisic, betul-betul bikin Perancis cengap-cengap."

"Lho, dua gol Perancis yang lain, kan, kelas kali, Tok. Golnya Pogba dan Mbappe. Lagipula, kalok memang mau bicara nasib, gol si Mandzukic itu yang sebenarnya gol nasib," ujar Sudung.

"Itu bukan nasib, Lek," sahut Jek Buntal. "Itu karena Si Lloris ajanya yang paok kali. Kek gitupun bisa gol. Padahal enggak ada bahaya-bahayanya, kok, bolanya. Ikut-ikutan Si Karius kiper Liperpul itu pulak dia."

"Kalok pendapat awak lain pulak," kata Pak Ko. "Ini bukan karena awak suporter Perancis, ya. Tapi memang, dominan di lapangan, enggak selalu jadi jaminan menang. Perancis sengaja main kayak gitu. Dibiarkan orang tu pemain-pemain Kroasia pegang bola lama-lama. Ini karena Si Deschamps tahu betul dia punya pemain-pemain cepat yang bisa diandalkan untuk serangan balik."

"Pragmatis kali, ya, kayak Jose Mourinho aja," kata Tok Awang.

Pak Ko tertawa. "Pragmatis tak pragmatis yang penting juara dunia, Tok. Main cantek pun kaloknya tebuntang apa lah gunanya. Brasil harusnya belajar dari Perancis."

"Makjang, jangan bawak-bawak Brasil lah, Pak Ko," ujar Jek Buntal menimpali. "Udah tenang orang tu di alamnya. Jangan Pak Ko ganggu Si Neymar yang sedang memperdalam ilmu diving. Sedang ngambil S-3 dia."

Untungnya Tok Awang tak terpancing dan sekali lagi kedainya selamat dari percakapan ngawur yang berpotensi sampai pada gontok-gontokan.

PARA pemain tim nasional Kroasia, berpose usai memastikan meraih posisi dua di Piala Dunia 2018, setelah di laga final yang berlangsung di Luzhniki Stadium, Minggu (15/7), kalah 2-4 dari tim nasional Perancis.
PARA pemain tim nasional Kroasia, berpose usai memastikan meraih posisi dua di Piala Dunia 2018, setelah di laga final yang berlangsung di Luzhniki Stadium, Minggu (15/7), kalah 2-4 dari tim nasional Perancis. (AFP PHOTO/KIRILL KUDRYAVTSEV)

Fokus tetap pada Perancis dan Kroasia, dan hingga menjelang pagi, saat para pengunjung terakhir beranjak pergi dan kedai jadi sepi, semua bersepakat bahwa segenap drama yang berujung pada tropi juara bagi Perancis, memang telah menjadikan Piala Dunia 2018 sebagai satu di antara turnamen paling aduhai sepanjang sejarah penyelenggaraannya.

Bagi orang-orang di kedai Tok Awang, Piala Dunia, setidak-tidaknya telah menyelamatkan mereka dari segala silang sekarut politik nasional, yakni apa yang disebut Ocik Nensi sebagai cakap-cakap tak guna yang bikin umur jadi makin pendek.(t agus khaidir).

Telah dimuat Harian Tribun Medan
Senin, 16 Juli 2018
Halaman 1

Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved