Breaking News:

Napak Tilas Kisah Sintong Pandjaitan dan Kehebatan Kopassus Meladeni Suku Terasing dan Barbar

Memastikan bahwa ‘manusia burung’ yang jatuh dari langit itu masih hidup dan merupakan manusia seperti mereka.

Editor: Randy P.F Hutagaol
tribun jateng
Kopassus 

Sintong akhirnya membiarkan saja ketika sejumlah warga suku menyentuhnya, lalu memeganginya, untuk memastikan bahwa ‘manusia burung’ yang jatuh dari langit itu masih hidup dan merupakan manusia seperti mereka.

TRIBUN-MEDAN.com - Dalam sejarah panjangnya, Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI Angkatan Darat mengukuhkan diri sebagai pasukan yang mampu menangani tugas-tugas berat.

Serangkaian misi para pasukan khusus milik Indonesia, selalu menarik untuk diungkap. Mulai misi hidup dan mati  hingga misi yang tak wajar untuk dilakukan,

Dilansir dari Sripoku dalam judul 'Terjun di Lembah X Gunung Jayawijaya Dihuni Suku Pemakan Manusia, Prajurit Kopassus Terkejut', berikut satu di antaranya.

Pada tahun 1961 Michael Rockfeller putra raja minyak AS yang super kaya melaksanakan ekspedisi ke pedalaman Papua Nugini, hingga kemudian Rockfeller dinyatakan hilang.

 

Sekitar dua bulan melakukan pencarian, jasad Rockfeller hanya ditemukan berupa sepotong kaki yang masih mengenakan sepatu.

Baca: Rumah Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera Dilempar Bom Molotov, Ruhut Sitompul Bereaksi

Baca: Hotman Paris Peluk dan Goyang Bersama Siti Badriah, Tanyakan Apa Sudah Bawa Bikini?

Baca: 3 BUMN Buka Lowongan Kerja, Inilah Syarat dan Ketentuannya bagi Kamu yang Berminat

Baca: Semakin Berani Tunjukkan Rasa Cintanya, Marion Jola Unggah Foto Memeluk Ayahnya

Baca: Ini Dia 5 Aplikasi Canggih di Android yang Tak Kamu Temukan di Playstore, Fungsinya Keren

Baca: Kamar Penjara Eks Wali Kota Medan Rahudman dan Bupati Batubara Jadi Sasaran Utama Penggeledahan

Berdasar jenis sepatu itulah kemudian dikenali sebagai jasad dari mendiang Rockfeller.

Kabar kematian Rockfeller yang sangat tragis itu pun menjadi perhatian dunia internasional termasuk rumor bahwa Rockfeller telah dimakan oleh suku terasing yang tinggal di hutan belantara Papua Nugini.

Rumor tentang keberadaan suku pemakan manusia tidak hanya beredar di Papua Nugini tapi juga menyebar ke kawasan pedalaman Irian Barat (Papua) yang di tahun 1960-an masih merupakan hutan lebat dan belum terjamah.

Pada 5 Mei 1969 meski rumor tentang keberadaan suku pemakan manusia di pedalaman Papua masih santer beredar, sekitar 7 anggota pasukan baret merah (RPKAD/Kopassus), 5 anggota Kodam XVII Cenderawasih Papua dan tiga warga asing yang juga kru televisi NBC (AS), serta satu wartawan TVRI, Hendro Subroto melaksanakan ekspedisi ke Lembah X yang berlokasi di lereng utara gunung Jayawijaya.

Baca: Sampah WhatsApp Penuh, Begini Nih Cara Mudah Membersihkannya tanpa Harus Menghapus File Penting

Baca: 5 Bencana Maha Dahsyat di Dunia, Dua di Antaranya Terjadi di Indonesia

Baca: Melihat Penampakan Kamar Mewah 500 Juta yang Dibayarkan Suami Inneke di Lapas Sukamiskin

Baca: Ibu Kandung Bunuh Bayi Kembarnya di Kamar Mandi, Buah Hati Hasil Hubungan dengan Mantan Pacar

Baca: Inilah 3 Cara Penguburan Kuno yang Tak Biasa, Menjalin Mayat-mayat hingga Dikubur secara Berdiri

Baca: 7 Fakta Mencengangkan di Dunia, Hiu Berumur 500 Tahun hingga Ayam Hidup tanpa Kepala

Baca: Gatot Nurmantyo Mengaku Lakoni 3 Jimat dari Jenderal Sudirman

Tim ekspedisi yang berjumlah total 16 orang itu dipimpin oleh personel RPKAD Kapten Feisal Tanjung sebagai Komandan Tim dan Lettu Sintong Panjaitan sebagai Perwira Operasi.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved