Breaking News:

Kapal Tenggelam

Wah, Andai Hal Ini Berjalan secara Baik, Tragedi KM Sinar Bangun Tidak akan Pernah Terjadi!

Di situ ada BPBD, Dishub tujuh Kabupaten dan Dishub Sumut. Jam 11.00 WIB dan jam 14.00 WIB sudah diingatkan lagi.

Penulis: M.Andimaz Kahfi |
ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
Keluarga korban KM Sinar Bangun menangis saat tabur bunga, Senin (3/7/2018) di lokasi dimana diperkirakan kapal itu tenggelam dua pekan lalu. 

Laporan Wartawan Tribun Medan / M Andimaz Kahfi

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Rion Arios Aritonang selaku pengacara Nakhoda Poltak Soritua Sagala yang menjadi tersangka kasus tenggelamnya KM Sinar Bangun, mengungkapkan hal mengejutkan.

Ia menyebut, mestinya tragedi tenggelam KM Sinar Bangun bisa dicegah sejak awal andai saja ada koordinasi antara pejabat terkait berjalan dengan baik.

Menurut Rion sebelum kejadian pada Senin (18/6/2018) sekitar pukul 17.15 WIB sore waktu itu, rupanya Badan Metereologi dan Geofisika (BMKG) sudah mengeluarkan peringatan dini masalah cuaca.

Baca: Tragedi KM Sinar Bangun, Sulaiman: Mayat yang Sudah Puluhan Tahun Pun Dicari, Apalagi Masih Segar!

Baca: Pengacara Sebut Nakhoda KM Sinar Bangun Juga Korban, Minta Pemerintah Jalankan Fungsi Pengawasan

Baca: Ratna Sarumpaet Tegaskan Akan Tetap Perjuangkan Evakuasi Korban KM Sinar Bangun

Keluarga korban KM Sinar Bangun menangis saat tabur bunga, Senin (3/7/2018) di lokasi dimana diperkirakan kapal itu tenggelam dua pekan lalu.
Keluarga korban KM Sinar Bangun menangis saat tabur bunga, Senin (3/7/2018) di lokasi dimana diperkirakan kapal itu tenggelam dua pekan lalu. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

"BMKG keluarkan peringatan dini pada pukul 11.00 WIB dan pukul 14.00 WIB sesaat sebelum kejadian terjadi," kata Rion dalam acara Toba Informal Meeting Evakuasi Korban KM Sinar Bangun di Hotel Danau Toba International, Rabu (25/7/2018).

"Jadi mereka punya seperti grup WhatsApp gitu sudah diberitahukan. Di situ ada BPBD, Dishub tujuh Kabupaten dan Dishub Sumut. Jam 11.00 WIB dan jam 14.00 WIB sudah diingatkan lagi, peringatan dini cuaca buruk. Harapan BMKG supaya data diolah dan disampaikan kepada para Nakhoda kapal agar menunda keberangkatan," ungkapnya.

Rion menuturkan seandainya peringatan dini cuaca buruk itu diberitahukan, mungkin kejadian ini tidak akan terjadi. Karena sang Nakhoda mengaku tidak pernah mendengar kabar itu sebelum kejadian terjadi.

Lebih lanjut, pengacara Nakhoda ini menjelaskan bahwa saat kejadian terjadi Nakhoda diselamatkan oleh KM Cinta Damai II. Nakhoda menyelamatkan dirinya dengan cara memecahkan kaca yang menutupi ruang kabin kemudi. Dan seperti ada pertolongan dari Tuhan juga. Karena kabinnya kecil jadi goncangan tidak terlalu kuat seperti penumpang yang berada diarea belakang Nakhoda.

"Dia berusaha memecahkan kaca dan keluar dari ruang kemudi kapal sekitar 2 menit. Dan selanjutnya berenang kearah permukaan air, tapi Nakhoda sempat juga berkata dalam hati 'aduh nggak selamatnya aku ini," ujar Rion.

"Awalnya Nakhoda trauma tapi berangsur-angsur sudah normal. Kalau masalah dugaan kelebihan kapasitas itu memang benar kita akui. Karena tertulis di GT muatan kapal 45 penumpang, tetapi hal ini sudah berjalan. Karena kalau hanya 45 penumpang kapal, untuk minyak kapal aja nggak lepas, apalagi ongkosnya cuma 7 ribu," katanya.

Baca: Hadirkan Amin Rais, Hotman Paris hingga Fahri Hamzah, RSCC Ingin Evakuasi KM Sinar Bangun Tuntas

Baca: Tersangka Tenggelamnya KM Sinar Bangun, Polda Tetap Limpahkan Berkas Kadishub Samosir

Dadar danau berhasil direkam robot ROV merekam visual korban KM Sinar Bangun di Danau Toba
Dadar danau berhasil direkam robot ROV merekam visual korban KM Sinar Bangun di Danau Toba (Ist)

Masih kata Rion, saat kejadian terjadi pengakuan Nakhoda penumpang yang dibawa lebih dari 150 orang. Karena sepeda motor yang dihitung ada sekitar 70 unit. Kalau berpasangan dihitung kasar 140. Namun karena tidak adanya manifest , jado tidak ada yang bisa memastikan berapa jumlah jenazah yang ada di dalam KM Sinar Bangun yang hilang saat ini masih berada di Dasar Danau Toba.

"Siapa yang bisa memastikan jasad yang ada di dasar Danau Toba 164 orang. Nama-nama itu kan cuma berdasarkan keluarga yang melaporkan kehilangan. Jadi data-data yang ada hanya berdasarkan laporan itu," ujarnya.

Lanjut, Rion menyebutkan bahwa yang mengatur mereka berangkat atau tidak adalah Dinas otoritas misalnya Dishub. Kalau jadwal berangkat hanya berdasarkan jadwal keberangkatan, tidak ada surat persetujuan berlayar seperti di laut dan selama ini tidak ada surat tersebut.

"Kalau pengawasan dari Dishub menurut Nakhoda, mereka sangat minim menerima sosialisasi, penyuluhan dan peraturan sangat minim. Mereka juga nggak punya radio, jadi komunikasi cuma lewat telepon seluler. Mungkin aja kalau broadcast dari BMKG itu diteruskan pada para Nakhoda kapal di Danau Toba kejadian ini nggak bakal terjadi," pungkas Rion.

Halaman
12
Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved