Atasi Masalah Krisis Energi Listrik, Wahyu Ario: PLTA Pilihan Tepat untuk Sumut

Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dan juga panas bumi jadi alternatif utama karena bisa menghemat devisa

Atasi Masalah Krisis Energi Listrik, Wahyu Ario: PLTA Pilihan Tepat untuk Sumut
Ekonom dari Universitas Sumatera Utara (USU), Wahyu Ario Pratomo 

Laporan Wartawan Tribun Medan / Ayu Prasandi

TRIBUN-MEDAN.com,MEDAN - Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dan juga panas bumi jadi alternatif utama karena bisa menghemat devisa dibanding penggunaan energi fosil yang masih sangat dominan saat ini.

Hal tersebut dikatakan Ekonom dari Universitas Sumatera Utara (USU), Wahyu Ario Pratomo, Jumat (3/8/2018).

Ia menjelaskan, penggunaan sumber daya yang baru dan terbarukan terus didorong untuk mengatasi masalah ketersediaan energi di Sumatera Utara (Sumut).

“PLTA maupun mini hydro merupakan pilihan yang realistis di Sumut. Sumber dayanya ada, dan tersedia dalam jumlah yang banyak. Apakah itu aliran sungai, air terjun, dan sumber daya air lainnya,” jelasnya.

Ia menerangkan, potensi sumber daya air banyak, jika ingin dikembangkan akan bagus.

Hanya saja perlu investasi yang besar. Tetapi itu lebih baik, dibanding pembangkit yang menggunakan energi fosil.

“Ketergantungan terhadap minyak akan berkurang. Harga minyak akan terus naik karena sumber dayanya akan habis," terangnya.

Ia menggarisbawahi pentingnya mengurangi ketergantungan terhadap minyak.

Untuk mengatasi situasi krisis energi di Sumut, memang perlu dibangun pembangkit yang baru, tetapi pembangkit listrik yang menggunakan energi yang terbarukan. Seperti panas bumi, angin, dan terutama air. 

“Investor bisa diajak membangun pembangkit di sekitar sumber-sumber daya itu. Kendalanya, kata Wahyu, memang sebagian di antaranya berada di kawasan hutan, sehingga bisa jadi akan mengeksploitasi hutan. Sehingga perlu aturan untuk mengatasi persoalan ini,” tuturnya.

Ia mengungkapkan,  Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP) Sarulla di Tapanuli Utara, dan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Sidrap di Kabupaten Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan, dinilai merupakan contoh yang ideal dalam penggunakan sumber daya energi yang terbarukan.

“Investasinya memang besar, tetapi biaya operasionalnya kecil karena sumberdaya yang melimpah. Di Sumut sendiri saat ini sedang dalam proses pembangunan PLTA Batangtoru yang mengandalkan aliran sungai Batangtoru, Tapanuli Selatan,” ungkapnya.

Ia menuturkan, diproyeksikan beroperasi pada tahun 2022, PLTA ini akan memasok listrik berkekuatan 510 megawatt, dan akan menghemat belanja negara hingga Rp 5,4 triliun per tahun.

“Secara keseluruhan, pembangkit listrik yang menggunakan energi baru dan terbarukan merupakan pilihan realistis dan harus didukung dan dipercepat pembangunannya. Sehingga kendala ketersediaan energi di Sumut, dapat teratasi dengan menggunakan sumber daya yang ada, tanpa ada ketergantungan impor,” tuturnya.(pra/tribun-medan.com )

Penulis: Ayu Prasandi
Editor: Fahrizal Fahmi Daulay
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved