Puspiptek, Revolusi Energi, dan Listrik Mikrohidro dari Sibolangit

Revolusi industri 4.0 telah membawa banyak perubahan dengan segala konsekuensinya. Salah satunya di sektor energi listrik.

Puspiptek, Revolusi Energi, dan Listrik Mikrohidro dari Sibolangit
TRIBUN MEDAN/TRULY OKTO PURBA
PEMBANGKIT Listrik Tenaga Mikro Hidro di Desa Bukum, kecamatan Sibolangit, kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara yang mengaliri listrik ke ratusan kepala keluarga (KK) di kecamatan Sibolangit.

SIBOLANGIT, TRIBUN-MEDAN.comRevolusi industri 4.0 telah membawa banyak perubahan dengan segala konsekuensinya. Di sektor energi listrik misalnya, bukan cerita baru kalau sekarang banyak bermunculan industri motor listrik atau mobil listrik. Tapi tidak bagi warga kecamatan Sibolangit, kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara. Di kecamatan ini, revolusi industri 4.0 di sektor energi listrik tidak dimaknai dengan motor listrik atau mobil listrik, tetapi bagaimana warga setempat merevolusi energi listrik dengan cara memanfaatkan air sungai untuk memasok energi listrik ke desa-desa yang belum dialiri listrik. Revolusi energi listrik ini sudah berlangsung hampir 20 tahun dan warga merasakan manfaat yang tak sedikit. Bagaimana ceritanya dan peran apa yang dapat dilakukan Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) untuk mendukung revolusi energi tersebut?

SENJA turun perlahan di kawasan persawahan yang ada di Desa Negeri Gugung, kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara. Hembusan angin dari balik gugusan Bukit Barisan meningkahi teriakan ibu-ibu yang sedang mengusir burung. Hawa yang semula sudah dingin pun bertambah dingin.

Ibu Sembiring (34) melepaskan sarung penutup kepalanya. Dilipatnya menjadi enam bagian hingga seukuran buku tulis, lalu berjalan perlahan menuju pondok kecil di dekat irigasi yang mengaliri sawah miliknya.

“Sudah hampir jam lima sore (17.00 WIB, red). Aku harus buru-buru pulang ke rumah. Sebentar lagi listrik mau menyala,” katanya kepada Tribun, sambil membereskan perlengkapannya.

Ibu Sembiring melangkah menjauh dari pondoknya dan menyusuri pinggiran parit irigasi. Disapanya petani lain yang ia lewati. Ternyata, tak hanya Ibu Sembiring yang pulang ke rumah. Belasan petani lainnya juga mengikuti langkah Ibu Sembiring, meninggalkan sawah dan kembali ke rumah.

Sampai di rumah, Ibu Sembiring langsung menyalakan beberapa buah lampu di rumahnya. Ia mulai dari teras rumah, ruang tengah, kamar tidur, dan berhenti di dapur. Ibu Sembiring kemudian mengambil rice cooker untuk menanak nasi.  Itulah beberapa kegiatan Ibu Surbakti saat listrik sudah menyala. Kegiatan seperti ini juga dilakukan puluhan warga lainnya yang tinggal di Desa Negeri Gugung, kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara. Jangan berpikir, bahwa warga desa menggunakan listrik PLN. Listrik PLN belum masuk ke desa ini.

Baca: Anak-anak di Samosir Belajar Gunakan Lampu Teplok, Bupati: Ada 816 Keluarga Belum Dialiri Listrik

“Selama ini kami menggunakan listrik dari fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Kalau tidak salah sudah belasan tahunlah menggunakan PLTMH,” kata Ibu Sembiring.

Ibu tiga anak ini mengatakan, setiap hari listrik mikrohidro akan menyala pukul 17.00 WIB dan mati keesokan harinya pukul 08.00 WIB. Karena itulah, aktivitas di desa akan semakin hidup saat sore sudah tiba. “Begitu listrik menyala, orangtua bisa memasak, anak-anak mengerjakan tugas sekolah dan lampu hidup kembali,” katanya.

OPERATOR memutar pintu air saat menghidupkan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Desa Negeri Gugung.
OPERATOR memutar pintu air saat menghidupkan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Desa Negeri Gugung. (Tribun Medan/Truli Okto Purba)

PLTMH adalah istilah yang digunakan untuk instalasi pembangkit listrik yang menggunakan energi air. Mikrohidro berasal dari kata micro yang berarti kecil dan hydro artinya air. Arti keseluruhan  adalah pembangkitan listrik daya kecil yang digerakkan oleh tenaga air. Tenaga air berasal dari aliran sungai kecil atau danau yang dibendung dan kemudian dari ketinggian tertentu dan memiliki debit yang sesuai akan menggerakkan turbin yang dihubungkan dengan generator listrik.

PLTMH  pada prinsipnya memanfaatkan beda ketinggian dan jumlah debit air per detik yang ada pada aliran air irigasi, sungai atau air terjun. Aliran air ini akan memutar poros turbin sehingga menghasilkan energi mekanik. Energi ini selanjutnya menggerakkan generator dan menghasilkan energi listrik.

Halaman
1234
Penulis: Truly Okto Hasudungan Purba
Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved