73 Tahun Indonesia

Keturunan Pejuang yang Nyaris Tergusur, Upacara Dibalut Nuansa Adat di Kawasan Danau Toba

Semangat Kemerdekaan itu juga dirasakan oleh masyarakat adat Sihaporas keturunan Ompu Mamotang Laut Ambarita.

Keturunan Pejuang yang Nyaris Tergusur, Upacara Dibalut Nuansa Adat di Kawasan Danau Toba
Tribun Medan/Arjuna Bakkara
Masyarakat adat yang terhimpun dalam Lembaga Adat Lamtoras menggelar upacara 

Konflik-konflik kian menyebar di wilayah adat antara masyarakat adat dan Perusahaan/ Negara dan kriminalisasi aparat keamanan terhadap masyarakat adat serta tuduhan-tuduhan yang memberatkan masyarakat adat masih kerap dilakukan. Di kawasan Danau Toba sendiri, konflik-konflik terkait wilayah adat semakin meluas Seperti yang dialami oleh Masyarakat adat Sihaporas dan masyarakat adat Batak lainya kini sedang menghadapi ancaman nyata di wilayah adatnya.

Ditambahnya lagi, eksploitasi sumber daya dan Ekspansi lahan-lahan perkebunan Perusahaan di wilayah adat mereka menjadi salah satu ancaman yang nyata dirasakan oleh masyarakat adat Sihaporas. Hutan-hutan yang berada di wilayah adat mereka yang telah mereka jaga dan lestarikan sebagai sumber kehidupan dan untuk upacara-upacara adat kini nyaris habis berganti rupa menjadai lahan-lahan perkebunan ekauliptus milik PT. Toba Pulp Lestari.

Masyarakat adat Sihaporas seperti masih terkukung dan terjajah di tanah air mereka sendiri, tidak ada kebebasan untuk mengelola wilayah adat mereka, kerap dihadapkan pada intimidasi baik dari pihak Perusahaan dan Aparat Keamanan yang disewa oleh Perusahaan, penghancuran situs-situs sejarah milik masyarakat adat sampai banyaknya masyarakat adat yang di penjara dan diburu seperti pelaku kriminal karena mempertahankan wilayah adatnya dari tangan-tangan Penguasa dan Investor yang rakus.

Hal yang serupa yang dirasakan oleh hampir semua masyarakat adat yang ada di Nusantara. Belum lagi stigma terhadap masyarakat adat yang menggangap bahwa masyarakat adat adalah kelompok masyarakat yang primitif dan terbelakang, padahal jika kita menilik lebih jauh masyarakat adat sudah hidup dengan kearifal lokal dan pengetahuan tradisonalnya yang berhasil untuk menjaga sumber daya alam serta keharmonisan hidup dalam dengan alam.

Namun saat ini Pemerintah justru seoalah-olah memberikan ruang para investor merusak dan menghancurkan alam serta peradabaan yang telah dibangun sejak dulu kala. Tidak ada kemerdekaan sesunggunya yang dirasakan masyarakat adat, masyarakat adat masih hidup dalam bayang-bayang penjajahan di tanah air sendiri dan oleh Negara sendiri.

Masyarakat adat yang sudah ratusaan bahkan ribuaan tahun hidup dan membangun peradabaan di Nusantara mengakui Negara bahkan mencintainya namun sebaliknya pengakuan serta penghormataan terhadap masyarakat adat belum sepenuhnya dilakukan oleh Negara.

Sudah saatnya masyarakat adat diberi kebebasan untuk menentukan pembangunan yang tepat terkait wilayah adatnya.

Disebutnya, Masyarakat adat bukan menghambat pembangunan namun perlu digaris bawahi adalah Perlunya Pengakuan dan Perlindungan Terhadap Masyarakat Adat sehingga masyarakat adat dapat menentukan model pembangunan apa yang layak untuk masyarakat adat itu sendiri
Melalui Momentum Peringatan Hari Kemerdekaan ini dijadikan masyarakat adat Sihaporas untuk mereflesikan kembali nilai-nilai kemerdekaan yang sesungguhnya.

Seperti disampaikan oleh Pembina Upacara Magitua Ambarita, bahwa sudah saatnya masyarakat adat bangkit dan terus berjuang untuk mempertahankan wilayah adatnya terkhusunya di Sihaporas sebagaimana para leluhur atau pendahulu kita merebut dan mempertahankan Kemerdekaan dari penjajahan bangsa asing.

Perjuangan Panjang untuk merebut kemerdekaan masyarakat adat mungkin masih berliku, ditengah kepungan arus moderinitas dan investasi serta eksploitasi masif sumber-sumber daya alam khusunya di wilayah adat hingga stigma buruk serta krimanilisasi dan tindakan represift aparat keamanan menjadi masalah yang terus menerus dihadapkan pada masyarakat adat namun sudah saatnya Pemerintah baik mulai dari tingkat Pusat sampai Pemerintah Daerah untuk segera Mengakui dan Melindungi Masyarakat Adat sebagai bagian dari bangsa Indonesia itu sendiri sehingga masyarakat adat bisa merasakan kemerdekaan yang sesunggunya di tanah leluhur mereka. (cr1)

Penulis: Arjuna Bakkara
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved