Liputan Eksklusif

Terkadang Rambut dan Alis Terbakar Akibat Belajar Masih Pakai Lampu Teplok, Kado Pahit HUT Ke-73 RI

"Terkadang rambut, alis, kena api (lampu teplok, Red). Kalau terasa bau berarti rambut kena sambar api," kata Haga.

Terkadang Rambut dan Alis Terbakar Akibat Belajar Masih Pakai Lampu Teplok, Kado Pahit HUT Ke-73 RI
Tribun Medan/M Daniel Siregar
Seorang anak warga Desa II Simalem, Ujung Deleng, Sibolangit, Deliserdang, belajar menggunakan lampu teplok, Rabu (15/8/2018). Warga desa hanya mendapat pasokan listrik dari genset selama enam jam dan berharap aliran listrik PLN dapat segera masuk ke desa mereka. 

Sesekali Tribun Medan menemui warga di pinggir jalan sedang menyusun bambu berisi air nira, tuak.

Kebanyakan warga mengantungkan hidup dari petani nira/enau. Warga desa, lazim duduk-duduk begadang di warung yang buka hingga pukul dini hari.

Kegiatan belajar di SD Desa II Simalem, Ujung Deleng, Sibolangit, Deliserdang.
Kegiatan belajar di SD Desa II Simalem, Ujung Deleng, Sibolangit, Deliserdang. (Tribun Medan/M Daniel Siregar)

Mohon Pak Jokowi

Rencana Surbakti (36), orangtua Haga menjelaskan, anak-anak yang bersekolah mulai dari SD hingga SMA, belajar pada malam dan dilanjutkan subuh. Pelajar menggunakan alat penerang, lampu teplok yaitu yaitu nyala api dari sumbu kain berbahan minyak yang dibakar. Lampu teplok memiliki sebutan lain, lampu minyak.

Berulangkali, ia berusaha melarang anaknya supaya tidak terlalu dekat dengan api lampu teplok.

"Kami ingin listrik masuk desa, biar terang. Mohon perhatian dari Pak Gubernur, Pak Bupati serta Presiden Joko Widodo. Kami kesulitan hidup tanpa listrik. Desa ini belum terang," ujarnya saat berbincang di kediamannya.

Warga lainnya, Muhammad Dengan Kataren (65) punya harapan besar listrik bisa masuk ke kampung mereka.

Apalagi, sudah puluhan tahun warga tidak memperoleh penerangan serta tak ada sinyal telepon seluler.

"Baru dua bulan lalu, dapat bantuan genset dari Kapolrestabes Medan, kalau tidak hajab. Dari dulu kami berharap-harap masuk listrik. Dan biaya untuk beli minyak lampu (minyak tanah) seliter mencapai Rp 10 ribu hingga Rp 11 ribu," katanya.

Pria sepuh ini menyampaikan, sejak lahir hingga para cucunya bersekolah belum pernah menikmati pembangunan dari negara. Hanya ruas jalan di dalam kampung yang sudah bagus karena adanya dana desa.

Halaman
1234
Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved