Faktor Ramah Lingkungan Diduga Penyebab Pemerintah Stop Peredaran Solar Murni

Kepala Regu SPBU Coco Yos Sudarso 11201101, Ahmad Ramadhana menuturkan Bio Solar

Faktor Ramah Lingkungan Diduga Penyebab Pemerintah Stop Peredaran Solar Murni
Tribun Medan/ Ayu Prasandi
Petugas Pertamina yang mengenakan kebaya ketika mengisi Bahan Bakar Minyak (BBM) milik pelanggan, Kamis (21/4/2016). 

Laporan Wartawan Tribun Medan / M Andimaz Kahfi

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Kepala Regu SPBU Coco Yos Sudarso 11201101, Ahmad Ramadhana menuturkan biosolar merupakan jenis bahan bakar minyak (BBM) yang ramah lingkungan dibandingkan jenis solar yang asapnya pekat.

Terkait jarak dan mana yang lebih hemat antara solar dan biosolar, Ahmad sebut itu semua tergantung cc kendaraan. Karena setiap cc kendaraan banyak yang berbeda-beda.

"Tapi banyak konsumen yang pernah bercerita kalau biosolar masalahnya di tenaga atau tarikan yang tidak enak dibandingkan solar," kata Ahmad, Sabtu (1/9/2018).

"Mungkin karena biosolar minyak campuran, jadi daya tarikannya tidak senyaman solar. Banyak yang bilang begitu memang, tarikannya kurang," sambungnya.

Lebih lanjut, Ahmad menjelaskan biosolar B-20 memang mempunyai kelebihan seperti ramah lingkungan, tetapi disisi lain penggunaan biosolar juga kebanyakan mempunyai tarikan yang tidak seenak saat menggunakan BBM Solar.

"Yang jelas cetane biosolar number 48 dengan kandungan sulfur 3.500 ppm. Sedangkan solar cetane number minimal 51 dengan kandungan sulfur minimal 1.200 part per milion (ppm) dimiliki Dexlite yang lebih bagus dari biosolar," ujar Ahmad.

Ahmad menuturkan bahwa sudah ada sekitar dua tahun terakhir SPBU Coco Yos Sudarso tak menjual solar dan biosolar. Karena sudah termasuk SPBU Bahan Bakar Khusus (BBK).

"BBM jenis solar sebenarnya masih bisa ditemui, di Jalan-jalan lintas antar kota. Karena kalau di kota besar kebanyakan pengguna solar dan biosolar sudah beralih pakai Dexlite. Mobil angkutan sebagian besar mayoritas masih pakai solar," terangnya.

Senada dengan Ahmad, salah seorang pengemudi mobil berbahan bakar solar bernama Taufik Ridho mengatakan belum ada mendengar kabar kalau BBM solar sudah tidak dipergunakan lagi.

"Kalau solar dan biosolar sudah pernah dicoba. Tapi memang lebih enak tarikan saat memakai BBM Solar. Cuma memang keunggulan biosolar yang aku rasakan dia lebih ramah lingkungan," kata Taufik.

"Tapi memang berat juga mungkin ya kalau solar dihapuskan. Setelah premium dulu dihapuskan ini solar pula, padahal harganya terjangkau," ujarnya.

Perlu diketahui, Menko Perekonomian Darmin Nasution memgatakan mulai hari ini, 1 September 2018 tak ada lagi bahan bakar minyak (BBM) jenis solar murni atau B-0 yang dijual di SPBU.

Semuanya akan beralih menjadi bahan bakar biodiesel atau B20 yang merupakan campuran solar 80 persen dan minyak kelapa sawit atau CPO sebesar 20 persen.

(cr9/tribun-medan.com)

Tags
Solar
BBM
Penulis: M.Andimaz Kahfi
Editor: Fahrizal Fahmi Daulay
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved