Jatuh Hati Sejak Kecil, Kini Desi Bersama Komunitas Selamatkan Kucing Liar dengan Steril Gratis
Kucing liar sering kali diabaikan, terlebih karena mereka tidak memiliki seorang tuan yang menyayangi mereka.
Penulis: Septrina Ayu Simanjorang |
Laporan Wartawan Tribun Medan/ Septrina Ayu Simanjorang
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Kucing liar sering kali diabaikan, terlebih karena mereka tidak memiliki seorang tuan yang menyayangi mereka.
"Kucing liar ada yang berasal dari kucing kampung, tapi enggak sedikit juga yang merupakan kucing-kucing ras luar negeri," tutur founder komunitas Sahabat Kucing, Desi Erni Wati, Minggu (2/8/2018).
Lebih lanjut dijelaskannya, kucing liar tersebut beragam, ada yang memang sudah turun temurun di telantarkan, ada pula yang dibuang pemiliknya karena sakit atau sudah tidak cantik lagi.
Hal itu disampaikan Desi saat ditemui di standnya pada Pet Weekend Volume 3 yang dilaksanakan di lantai GF Cambridge City Square, S. Parman No.217, Petisah Tengah, Medan Petisah, Kota Medan pada 1-2 September 2018.
Berawal dari banyaknya kucing liar di sekeliling rumahnya, dan seringnya over populasi, Desi yang sedari kecil sudah jatuh hati pada kucing, membuat sebuah komunitas. Komunitas Sahabat Kucing namanya.
Mereka memiliki prinsip Trap-Neuter-Return atau TNR. Trap adalah kegiatan menangkap kucing liar, lalu Neuter atau steril kucing ke penyedia layanan seperti dokter, dan Return atau mengembalikannya.
"Kegiatan utama kami adalah steril dan steril subsidi kucing. Kedua kegiatan ini tujuannya sama, yakni untuk menekan overpopulasi kucing dan menghindari penyakit seperti rahim berdarah," kata Desi.
Lebih jauh dijelaskannya, seekor kucing betina hanya bisa empat kali melahirkan dalam satu tahun. Bila lebih dari itu, dapat menyebabkan rahim berdarah. Dan pada kenyataannya kucing jalanan, taupun peliharaan banyak yang melahirkan lebih daru empat kali setahun.
Maka dari itu perlu dilaksanakan steril atau bisa disebut menghentikan proses reproduksi kucing jantan dengan membuang testisnya dan kucing betina dengan mengangkat rahimnya.
"Justru lebih menyakitkan bagi kucing jika steril tidak dilakukan. Keuntunganlainnya, kucing yang di steril biasanya lebih sehat dan kerontokan bulu kucing pun sangat berkurang," kata perempuan itu.
Steril yang biasanya mahal, menjadi alasan orang malas melakukannya terhadap hewan peliharaan mereka. Jadi untuk kucing yang ada pemiliknya, ada keringanan biaya, itulah yang disebut Steril Subsidi.
"Untuk kucing jantan hanya Rp 200 ribu dan Rp 300 untuk betina. Sedangkan di luar pasti diatas Rp 800an ribu. Biaya yang lebih murah itu karena kami sudah menjalin kerja sama dengan dokter hewannya," kata perempuan yang memelihara 53 ekor kucing ini.
Komunitas ini terbentuk 5 tahun lalu. Hingga sekarang mereka sudah memiliki 10 anggota dalam komunitas ini dengan lebih dari 250 kucing yang sudah disterilasi. Diantara kucing-kucing tersebut setengahnya adalah kucing liar.
"Dalam menyelamatkan kucing, kami selalu mendahulukan lingkungan terkecil dulu. Misalnya lingkungan rumah dulu, lalu kantor, dan makin makin luas lagi," tuturnya.
Besar harapan kami, kedepannya kesadaran untuk steril semakin tinggi. Dan untuk pemilik kucing harus mulai berkomitmen agar tidak membuang kucing ketika sudah sakit atau tidak cantik lagi.
Jika ingin tahu informasi lebih lanjut tentang komunitas ini, dapat menghubungi mereka di instagram @sahabatkucing.
(cr18/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/desi-bersama-kucingnya-yang-bernama-kipo-yang-merupakan-kucing-kampung_20180903_200520.jpg)