News Video
Warga dan Kepling Ceritakan Aktivitas Sehari-hari Warung Siliyana Manurung
Tindakan kekerasan yang diterima Siliyana Angelita Manurung dan ibunya ramai diperbincangkan di media sosial
Penulis: M.Andimaz Kahfi | Editor: Hendrik Naipospos
Laporan Wartawan Tribun Medan/ M Andimaz Kahfi
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Tindakan kekerasan yang diterima Siliyana Angelita Manurung dan ibunya ramai diperbincangkan di media sosial.
Bahkan warung milik mereka di Lingkungan IX, Kelurahan Menteng, Kecamatan Medan Denai, kini sudah dirobohkan beberapa orang.
Tribun Medan lantas menyambangi warung Siliyana, puing-puing bangunan tampak berserakan.
Warga bermana Andi (30) menjelaskan bahwa warung tersebut beroperasi habis Magrib hingga pagi hari.
"Tempat ini beroperasi habis Magrib sampai pagi. Ini bisa kita bilang tempat maksiat karena di sini peredaran narkoba, judi dan ada tempat penginapan," kata Andi ke www.tribun-medan.com, Jumat (14/9/2018).
Tonton videonya;
Ayo subscribe channel YouTube Tribun MedanTV
Baca: Usai Diarak dan Dituduh Penadah, Penjual Tuak Digiring ke Polsek Medan Area
Baca: Anak Gadis Penjual Tuak Menangis: Mama Saya Diarak Warga dan Diikat di Pohon seperti Binatang
Andi menjelaskan bahwa kemarahan warga membabi-buta saat kejadian.
Tapi ia menepis kabar yang beredar kalau pria berinisial MP menampar Siliyana.
"Mungkin amarah warga sudah tidak terbendung lagi dan kebetulan ada tangan warga mungkin mengenai wajahnya. Tapi kalau dia bisa buktikan dia dipukul pak Marlon (MP) silahkan buktikan saja," sambungnya.
Sementara itu, Kepala Lingkungan, Ali Sodikin Siregar, mengaku tak melihat persis kejadian di lokasi.
Ia tiba di warung tersebut 30 menit setelah mendapat kabar dari warga kalau terjadi keributan.
"Waktu saya sampai, posisi maling sudah mau dibawa ke Polsek. Warung ini sudah berdiri 3 tahun lalu, warga sudah keberatan. Karena disamping suaranya yang bising setiap malam beraktivitas dan mengganggu Masjid yang berdekatan dengan lokasi. Juga merusak moral anak-anak di sini," ucap Ali Sodikin.
"Informasi dari masyarakat ibu Maya (Ibu Siliyana) diduga rajin membeli barang hasil curian. Pemicunya mungkin karena dari dulu warga tidak suka. Apalagi pas ada Tahlilan di gang sebelah, musik di sini hidup seperti tidak menghargai," pungkas Ali.
(cr9/tribun-medan.com)
TONTON VIDEO LAIN;
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/siliyana_angelita_manurung_20180913_031133.jpg)