Ajukan Memori Banding Meiliana, Kuasa Hukum: Tak Ada Bukti Relevan Menista Agama, Itu Kan Janggal

Perjuangan Meiliana untuk bebas dari jerat jeruji besi melalui gugatan banding ke Pengadilan Tinggi Medan

Ajukan Memori Banding Meiliana, Kuasa Hukum: Tak Ada Bukti Relevan Menista Agama, Itu Kan Janggal
ist
Terdakwa kasus azan di Tanjungbalai, Meiliana menangis saat sidang Selasa (3/7/2018) 

Laporan Wartawan Tribun Medan/Alija Magribi

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Perjuangan Meiliana untuk bebas dari jerat jeruji besi melalui gugatan banding ke Pengadilan Tinggi Medan kini dalam penyusunan oleh penasihat hukumnya Ranto Sibarani.

Ranto dalam wawancara via seluler kepada Tribun Medan, Minggu (23/9/2018), mengatakan pihaknya akan mematangkan memori banding dalam satu Minggu kedepan.

Pria berkepala plontos yang menjadi penasihat hukum Meiliana selama menjalani masa sidang di Pengadilan Negeri Medan tersebut mengatakan akan menambahkan beberapa objek baru dalam memori banding Meiliana.

"Kita baru terima salinan putusan ibu Meiliana dari panitera Pengadilan Negeri Medan tanggal 19 September 2018 kemarin. Kemudian dalam putusan tersebut ada beberapa hal yang menjadi poin penting untuk kita ajukan dalam banding ibu Meiliana. Rencananya satu Minggu kedepan kita susun," sebutnya.

Adapun yang menjadi sorotan penting oleh Ranto Sibarani dalam dugaan kasus penistaan agama Meiliana adalah tidak adanya dokumentasi yang menyebutkan Meiliana menista agama.

Selain itu Ranto juga melihat kekeliruan dalam putusan majelis hakim yang diketuai Wahyu Prasetyo Wibowo tersebut.

"Sampai saat ini kita tidak menemukan bukti yang relevan seperti dokumentasi yang menyatakan ibu Meiliana menista agama. Kemudian, dalam salinan putusan tersebut, bahwa Majelis hakim juga tidak menyertakan Fatwa MUI untuk mengadili Meiliana sesuai dengan dakwaan jaksa. Itu kan janggal" tutur Ranto Sibarani.

"Kasus Meiliana ini tidak seperti kasus-kasus lainnya. Kasus kasus penistaan agama lain sangat jelas dapat dibuktikan dengan video, atau tulisan di medsos. Tapi bukti yang relevan untuk mengadili Meiliana kan tidak ada selama ini," ujarny

Mewakili Meiliana, Ranto Sibarani mengucapkan banyak terima kasih terhadap pihak pihak yang perduli terhadap Meiliana.

Meiliana, imbuhnya kini banyak dikunjungi penasihat hukum, pakar hukum maupun warga untuk mendukung banding kasus penistaan agama di Pengadilan Tinggi.

Diketahui, Meiliana diputus bersalah oleh Majelis Hakim Wahyu Prasetyo Wibowo dengan hukuman pidana penjara selama 1 tahun 6 bulan pada 21 Agustus 2018 yang lalu. Putusan yang jatuh sesuai tuntunan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Anggia Kesuma dari Kejari Tanjung Balai tersebut menyeret Meiliana ke jeruji sel Lapas Klas IA Perempuan Tanjunggusta.

Kedepan, dalam permohonan banding Meiliana yang terdaftar tanggal 27 Agustus 2018 tersebut, Pengadilan Tinggi Medan telah menunjuk Hakim Ketua Dailun Sailan MH sebagai Hakim Ketua dan Prasetyo Ibnu Asmara dan Ahmad Ardianda sebagai hakim anggota satu dan dua

(cr15/tribun-medan.com)

Penulis: Alija Magribi
Editor: Fahrizal Fahmi Daulay
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved