Anggota DPR Asal Sumut Ini Sebut PLTA Batangtoru Solusi Sumber Energi Terbarukan

PLTA Batangtoru di Tapanuli Selatan merupakan salah cara mengoptimalkan potensi kekayaan alam khususnya di Sumut

Anggota DPR Asal Sumut Ini Sebut PLTA Batangtoru Solusi Sumber Energi Terbarukan
TRIBUN MEDAN / HO
Sofyan Tan 

Laporan wartawan Tribun Medan / M Fadli

TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN - Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batangtoru di Tapanuli Selatan merupakan salah cara mengoptimalkan potensi kekayaan alam khususnya di Sumatera Utara.

Di mana listrik untuk kesejahteraaan masyarakat. Diingatkan, aspek lingkungan harus menjadi prioritas utama pengelola.

Hal ini disampaikan Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Sofyan Tan. Ia mengatakan pembangunan PLTA itu, harus dilihat dalam perspektif kebutuhan jangka panjang.

Pada situasi saat ini, di mana sebenarnya Sumut kekurangan listrik karena pembangkit listrik yang ada sering mengalami kerusakan.

Dibutuhkan pembangkit baru guna memenuhi kebutuhan energi di masa-masa mendatang.

"Solusi yang terbaik untuk mengatasi ini adalah membangun pembangkit baru yang menggunakan sumber energi yang terbarukan, termasuk PLTA,” kata Sofyan, Minggu (23/9/2018).

PLTA Batang Toru merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional‎ Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla untuk mendorong pemerataan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi ke luar Pulau Jawa.

Proyek ini menggunakan energi baru terbarukan yang menjadi perhatian utama Presiden Jokowi dan Wapres Kalla berkaitan mengantisipasi perubahan iklim.

Pembangkit berteknologi canggih ini didesain irit lahan dengan hanya memanfaatkan badan sungai seluas 24 hektare (ha) dan lahan tambahan di lereng yang sangat curam seluas 66 ha sebagai kolam harian untuk menampung air.

PLTA Batang Toru sangat efisien dalam penggunaan lahan, terutama jika dibandingkan dengan Waduk Jatiluhur di Jawa Barat yang membutuhkan bendungan seluas 8.300 Ha untuk membangkitkan tenaga listrik berkapasitas 158 MW.

Dikatakannya, pembangkit listrik yang aman adalah pembangkit yang menggunakan sekecil mungkin sumber energi yang tidak terbarukan, bukan menggunakan bahan bakar minyak atau batubara.

"Pakai batubara, pakai bahan bakar minyak (BBM), dan sebagainya, itu kan pasti pencemaran lingkungan juga. dan biayanya tinggi," kata Sofyan, yang juga Ketua Yayasan Ekosistem Leuser (YEL), organisasi nonpemerintah bidang kelestarian lingkungan dan konservasi orangutan.

Masih kata Sofyan, energi tersebut menjadi tidak bisa diperbaharukan, dan mahal.

Jika kurs dollar AS naik, harga BBM juga ikut naik sehingga membebani dari sisi biaya operasional pembangkit dan menguras devisa negara karena biaya impor meningkat.

Jika menggunakan sumber energi baru dan terbarukan, maka nilai itu konsisten. Awalnya investasi memang mahal, tetapi selanjutnya bisa murah.

Lagi pula memanfaatkan kekayaan alam dinilainya, memang sah-sah saja. Hal utama dalam menggunakan sumber daya alam ini, jelas Sofyan, harus diselaraskan dengan upaya meminimalkan kerusakan hutan.

Penggunaan terowongan air dalam operasional pembangkit guna menghindari kerusakan hutan, dinilai sebagai solusi yang pas.

"Kalau berupaya melalui terowongan, untuk air. Tentu tidak merusak hutan yang ada di atasnya. Dengan teknologi yang bagus, tentu bisa menghindari kerusakan itu," tukas Sofyan.

Sofyan membandingkan contoh-contoh pembangunan di negara lain. Beberapa negara sengaja membangun terowongan untuk membuka jalan, ketimbang membuka hutan.

Halaman
12
Penulis: Muhammad Fadli Taradifa
Editor: Fahrizal Fahmi Daulay
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved