Harga BBM Premium Batal Naik Setelah Jokowi Berikan Sejumlah Perintah ke Menteri ESDM

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan membatalkan harga kenaikan bahan bakar jenis premium

Harga BBM Premium Batal Naik Setelah Jokowi Berikan Sejumlah Perintah ke Menteri ESDM
KOMPAS.com/RIDWAN AJI PITOKO
Menteri Koordinator (Menko) bidang Perekonomian Darmin Nasution menegaskan bahwa mulai 1 September 2018 tak ada lagi bahan bakar minyak (BBM) jenis Solar murni atau B-0 yang dijual di SPBU. Foto diambil Jumat (31/8/2018). 

JAKARTA,TRIBUN-Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan membatalkan harga kenaikan bahan bakar jenis premium.

Padahal sebelumnya, Jonan sempat memberikan woro-woro harga premium naik sekitar tujuh persen pada pukul 17.00 Wita.

Berselang setelah kabar ini tersiar, Jonan pun membatalkan ucapannya itu setelah melapor ke Presiden RI, Joko Widodo.

"Saya sudah lapor bapak presiden, bahwa PT Pertamina (Persero) tidak siap melaksanakan kenaikan harga BBM hari ini.

Jadi, Presiden memberi arahan agar ditunda kenaikan harga BBM Premium dan dibahas ulang," ujar Jonan, di sela Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia di Bali, Rabu (10/10).

Ia mengatakan, penundaan kenaikan harga BBM premium memang terkesan mendadak.

Ia mengaku, dirinya sempat mendapat telepon dari Presiden RI, Joko Widodo.

Baca: Fahri Hamzah Soroti Batalnya BBM Premium Naik Harga: Ada yang Salah dari Cara Pemerintah

Sore itu, Jonan sudah berada di ruang VIP Bandara Ngurah Rai, hendak bersiap kembali ke Jakarta.

Wartawan Tribun, satu-satunya pewarta yang ikut serta rombongan Jonan.

Saat ditanya sampai kapan kenaikan ini ditunda, mantan Menteri Perhubungan tersebut mengatakan hingga waktu yang tidak ditentukan.

"Sampai Pertamina siap. Jadi ditunda sampai waktu yang tidak ada waktunya.

Demikian sesuai arahan bapak presiden," ujar Jonan. Sebelumnya, pemerintah lewat PT Pertamina (Persero) menaikkan harga BBM untuk Pertamax Series dan Dex Series, serta Biosolar nonsubsidi.

Adapun jenis BBM yang harganya naik yaitu Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite, Pertamina Dex, dan Biosolar non-PSO.

Baca: Saat Rupiah Melemah, Muncul Isu Harga BBM Naik, Pertamina Tegaskan Itu Info Hoax

Penyesuaian harga tersebut merupakan dampak harga minyak mentah dunia yang terus merangkak naik hingga tembus 80 dollar per barel.

Penetapan kenaikan harga ini mengacu pada Peraturan Menteri ESDM Nomor 34 Tahun 2018 Perubahan Kelima Atas Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 39 Tahun 2014, Tentang Perhitungan Harga Jual Eceran BBM.

"Atas ketentuan tersebut, Pertamina menetapkan penyesuaian harga," ujar External Communication Manager PT Pertamina Persero, Arya Dwi Paramita dalam keterangan tertulis, Rabu siang.

Arya mengatakan, kisaran kenaikan harga setiap produk berbeda-beda, antara Rp 900-Rp 2.100. Kenaikan harga di setiap wilayah juga berbeda.

Di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya, harga Pertamax menjadi Rp 10.400 per liter, Pertamax Turbo Rp 12.250 per liter, Pertamina Dex Rp 11.850 per liter, Dexlite Rp 10.500 per liter, dan Biosolar Non-PSO Rp 9.800 per liter.

Terkait rencana kenaikan BBM premium, wilayah Jawa-Madura-Bali (Jamali) awalnya direncanakan naik menjadi Rp 7.000 per liter dari sebelumnya dari Rp 6.450 per liter.

Sedangkan, untuk harga jual Premium di luar Jamali naik menjadi Rp 6.900 per liter dari sebelumnya Rp 6.400 per liter.

VP Corporate Communication Pertamina, Adiatma Sardjito kepada Tribun menyampaikan saat ini pihaknya mengaku masih membutuhkan waktu dan kesiapan untuk mengkaji perihal kenaikan bahan bakar Premium tersebut dengan pemegang saham.

Pekerja Pertamina saat mengecek Mobil Tangki BBM di Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Medan Group.
Pekerja Pertamina saat mengecek Mobil Tangki BBM di Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Medan Group. (TRIBUN MEDAN/Ayu Prasandi)

Kata Adiatma, mengenai rencana kenaikan harga Premium 6-7 persen seperti yang disampaikan Menteri Jonan juga tengah dievaluasi.

Menurutnya, yang berhak melakukan penyesuaian adalah pemerintah berdasarkan dasar hukum Peratuan Presiden 191 tahun 2014 tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Harga Jual Eceran Bahan Bakar Minyak.

Terpisah, Staf Khusus Presiden, Ahmad Erani Yustika mengatakan penundaan kenaikan BBM premium memang atas dasar permintaan Presiden.

Kata Erani, ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan Jokowi sebelum mengambil langkah kenaikan harga.

Ia meminta Kemenetrian ESDM cermat dalam mengambil keputusan.

"Presiden selalu menghendaki adanya kecermatan di dalam mengambil keputusan, termasuk juga menyerap aspirasi publik," kata Erani.

Menurutnya, ada tiga poin yang mendasari Presiden menunda kenaikan harga.

Baca: BBM Jenis Solar Murni B-0 Sudah Langka di Medan, Per 1 September Tak Dijual Lagi di SPBU

"Pertama, Presiden meminta Kementerian ESDM menghitung secara cermat dinamika harga minyak internasional, termasuk neraca migas secara keseluruhan.

Kedua, meminta Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menganalisis kondisi fiskal secara keseluruhan agar setiap kebijakan yang dikeluarkan, termasuk harga BBM, tetap dalam koridor menjaga kesehatan fiskal.

Ketiga, memastikan daya beli masyarakat tetap menjadi prioritas dari setiap kebijakan yang diambil.

Demikian pula fundamental ekonomi tetap dijaga agar ekonomi tetap bugar," papar Erani.(Tribun Network/kompas.com/fik/fia/sen/wly)

Kurang Koordinasi
Rencana kenaikan harga BBM Premium yang kemudian dibatalkan oleh Menteri ESDM, Ignasius Jonan merupakan bentuk kurangnya kordinasi antara pemangku kebijakan.

Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis dan Media Kementerian BUMN, Fajar Harry Sampurno menyebutkan pihak Kementerian BUMN selaku bos dari Pertamina baru tahu setelah Jonan mengumumkan hal tersebut.

Fajar menjelaskan seharusnya untuk mengumumkan kenaikan harga perlu terlebih dulu diadakan rapat koordinasi (rakor) antarpemangku kepentingan yang dipimpin oleh Menteri Koordinator bidang perekonomian.

Maka setelah ini, Menteri BUMN Rini Soemarno, Menteri ESDM Ignasius Jonan, Pertamina dan stakeholder yang mendukung pun telah dijadwalkan untuk melakukan rapat koordinasi.

Petugas Mengisi bahan bakar di kios Pertamina di Jalan Tol Cikopo-Palimanan (Cipali), Jawa Barat, Kamis (15/6/2017). Kios Pertamina ini menyediakan BBM kaleng Pertamax, Pertamina Dex, dan Dexlite.
Petugas Mengisi bahan bakar di kios Pertamina di Jalan Tol Cikopo-Palimanan (Cipali), Jawa Barat, Kamis (15/6/2017). Kios Pertamina ini menyediakan BBM kaleng Pertamax, Pertamina Dex, dan Dexlite. ((KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNG))

"Biasanya untuk pengumuman ini memang diperlukan rakor yang dipimpin oleh Menko Perekonomian oleh karena itu mungkin akan segera dilaksanakan rakor.

Untuk itu, kami juga mendapat kabar Pak Jonan mengumumkan menunda kenaikan pada hari ini atau besok," sambung Fajar.

Kemudian, untuk menaikkan harga BBM seharusnya mempertimbangkan Perpres Nomor 43 tahun 2018 tentang Penyediaan dan Pendistribusian dan Harga Jual Eceran BBM seperti kemampuan daya beli masyarakat maupun kondisi keuangan negara.

"Kita juga tahu di Perpres (43 tahun 2018) tersebut ada tiga syarat pertimbangan yang perlu diperhatikan.

Pertama, kondisi keuangan negara, kemampuan daya beli masyarakat, serta yang ketiga adalah kondisi riil ekonomi," tutur Fajar.

Lalu, alasan kedua dibatalkannya kenaikan harga BBM karena Pertamina selaku penyalur BBM tidak siap untuk menaikkan harga premium karena pada Rabu pagi Pertamina baru saja menaikkan harga Pertamax.

Menurut Fajar, pihak BUMN tidak memungkinkan jika dalam satu hari ada dua kali kenaikan harga(Tribun Network/fik/fia/sen/wly)

Editor: Array A Argus
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved