Raja Patin, Menjangkau Indonesia dan Asia Tenggara dari Batang Kuis

Berbekal pengalaman bekerja selama belasan tahun di industri perikanan, Fitri sukses mengembangkan Raja Patin.

Raja Patin, Menjangkau Indonesia dan Asia Tenggara dari Batang Kuis
TRIBUN MEDAN/TRULY OKTO PURBA
FITRIADI, pelaku usaha UKM Raja Patin berfoto bersama produk Kerupuk Kulit Ikan Patin di rumahnya sekaligus dapur produksinya di Jl. Masjid, Desa Sugiharjo, kecamatan Batang Kuis, Deliserdang. 

Setelah berhenti bekerja pertengahan tahun 2016, Fitri membangun 10 petak pembibitan ikan lele dan ikan patin di bagian belakang rumah yang saat ini ia tinggali. Dirinya hanya fokus pada  pembibitan, bukan pembesaran. Setelah bibitnya tumbuh hingga ukuran 2 inchi, pembeli tinggal membeli dan membesarkan sendiri.

Sebagai makanan untuk bibit ikannya, Fitri memberi pakan yang sudah dicampur dengan sisa produksi ikan patin yang tidak terpakai seperti bagian kepala, kulit, dan isi perut. Fitriadi mengambilnya dari pabrik olahan ikan patin di Kawasan Industri Medan (KIM).

Suatu hari, seorang pembeli bibit lele langganannya tertarik dengan kulit ikan patin yang biasa ia gunakan. Si pembeli bermaksud menjadikannya sebagai pakan untuk pembesaran lele. Fitri menyanggupi dan membeli 50 kilogram kulit ikan patin seharga Rp 300 ribu dari dua pabrik ikan di KIM. Tetapi ternyata, si pembeli membatalkan rencana menjadikan kulit ikan patin sebagai pakan pembesaran lelenya.

Fitri lemas karena sudah keluar uang yang tidak sedikit untuk membeli kulit ikan patin. Dia bingung mau diapakan kulit ikan patin tersebut. Timbul keinginan untuk membuangnya. Tapi sang istri melarangnya. “Saya sudah mikir, rugi, rugilah situ. Tapi istri bilang tidak usah. Katanya mau coba diolah jadi makanan ringan. Saya bilang terserah saja. Saya sudah pusing saja waktu itu. Saya tinggalkan dia saat itu mengolah kulit ikan patin karena mengantar bibit ikan pesanan pembeli,” katanya.

Saat Fitri mengantar pesanan bibit ikan, di rumah, sang istri, Trihandayani mulai mengolah kulit ikan patin. Tri membuka mesin pencari “google” dan menelusuri “mengolah makanan dari kulit ikan patin”.

“Akhirnya ketemulah olahan kerupuk. Dia (Tri) mengajak dua tetangganya untuk sama-sama mengolahnya. Kulit ikan patin diolah mulai pagi hari. Mungkin karena bumbu-bumbunya pas, saat digoreng, wanginya menyebar hingga ke gang sebelah. Tetangga-tetangga pun heran. Mereka pikir, istri sedang masak apa. Karena penasaran, beberapa tetangga pun beli kerupuk. Pas mereka pulang ke gang sebelah, mereka cerita ke tetangga lain. Akhirnya informasi keripik ini terus menyebar hari itu juga. Makin banyak tetangga yang datang membeli, antre malah. Tak sampai maghrib, kerupuk ini pun habis,” kenang ayah dua anak ini.

Kisah 50 kilogram kulit ikan patin yang diolah menjadi kerupuk ini pun menjadi inspirasi bagi Fitri dan Tri. Keduanyapun sepakat untuk menekuni usaha pembuatan kerupuk. Fitri dan Tri pun mulai berbenah. Berbekal pesangon yang diterima Fitri dan ditambah penghasilan Tri sebagai guru, keduanya pun berbelanja peralatan pembuatan kerupuk dalam jumlah yang lebih banyak dan ukuran yang lebih besar. Keduanya pun sepakat menamai usahanya Raja Patin dengan produknya Kerupuk Kulit Ikan Patin.

Untuk tahap awal, mereka memanfaatkan ruangan yang masih tersisa di bagian belakang rumah, atau berdekatan dengan kolam pembibitan ikan. “Sempit-sempitanlah,” kata Fitri, dan tersenyum.

Setiap hari, Fitri membeli sekitar 50 an kilogram kulit ikan patin dari dua pabrik langganannya untuk diolah menjadi kerupuk. Agar tampilan bungkus terlihat menarik, Fitri mencetak label untuk ditempel di bungkusan.  

Selama enam bulan pertama, Fitri gencar memasarkan produknya. Tetangga yang selama ini menjadi pelanggan setianya tidak lagi membuat Fitri khawatir. “Mereka sudah jadi pasar tetap. Tapi kan tidak cukup hanya mereka. Saya juga ingin produk ini menyebar di luar Batang Kuis dan Deliserdang,” katanya.

PEKERJA Raja Patin membungkus Kerupuk Kulit Ikan Patin sebelum di jual ke pasar.
PEKERJA Raja Patin membungkus Kerupuk Kulit Ikan Patin sebelum di jual ke pasar. (TRIBUN MEDAN/TRULY OKTO PURBA)
Halaman
1234
Penulis: Truly Okto Hasudungan Purba
Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved