Raja Patin, Menjangkau Indonesia dan Asia Tenggara dari Batang Kuis

Berbekal pengalaman bekerja selama belasan tahun di industri perikanan, Fitri sukses mengembangkan Raja Patin.

Raja Patin, Menjangkau Indonesia dan Asia Tenggara dari Batang Kuis
TRIBUN MEDAN/TRULY OKTO PURBA
FITRIADI, pelaku usaha UKM Raja Patin berfoto bersama produk Kerupuk Kulit Ikan Patin di rumahnya sekaligus dapur produksinya di Jl. Masjid, Desa Sugiharjo, kecamatan Batang Kuis, Deliserdang. 

Fitripun mulai menekuni penjualan online dan membuka akun di berbagai situs penjualan online seperti Bukalapak, Tokopedia, Olx, Agromart, menumpang di website relasi bisnis, dan membangun website khusus www.kulitpatin.com . Gayung bersambut. Sedikit demi sedikit permintaan dari luar Deliserdang mulai datang, meskipun tidak banyak. Selama enam bulan, Fitri mengaku dirinya tidak mendapat keuntungan yang cukup. Keuntungan yang diperoleh dari penjualan habis untuk membeli bahan baku, membayar gaji pekerja, dan biaya promosi.

Namun, setelah enam bulan, cahaya akan keberhasilan produknya mulai terlihat. Pesanan yang datang naik berlipat-lipat. Dari berjualan online lewat Bukalapak, Tokopedia, Olx, dan Agromart, dan website khusus www.kulitpatin.com, Fitri pun mendapat relasi yang tidak sedikit. Relasi yang semula tak dikenalnya inilah yang kemudian menjadi jaringan bisnisnya untuk mengembangkan pemasaran Raja Patin. Fitri kemudian mengembangkan pemasaran dengan sistem keagenan dan reseller di berbagai daerah di Indonesia.

Setahun kemudian, pemasaran ini semakin berkembang pesat. Pesanan yang datang semakin banyak, tak hanya dari Deliserdang, tetapi juga daerah lain di Sumatera Utara seperti Medan, Pematangsiantar, Parapat, Rantauprapat, dan Sibolga. Sedangkan daerah-daerah dari luar Sumatera Utara datang dari Aceh, Pekanbaru, Padang, Lampung, Bengkulu, Jakarta, Bekasi, Bogor, Bandung,  Cirebon, Jogakarta, Sidoarjo, Surabaya, dan Bali. Sedangkan di tingkat Asia Tenggara, produknya telah sampai ke Singapura. Di setiap kota ini, Kerupuk Kulit Ikan Patin punya minimal satu agen. Sedangkan reseller, jumlahnya lebih banyak lagi.

“Tapi khusus untuk ke Singapura, saya dibantu teman yang merupakan eksportir di Jakarta. Jadi pemasarannya lewat teman tersebut. Dia sekaligus jadi agennya,” katanya.

Sejajar dengan meningkatnya penjualan, keuntungan yang diperoleh Fitri pun semakin besar. Saat ini, setiap hari dirinya memproduksi 400-600 kilogram kulit ikan patin. Bahan baku ini kemudian diolah menjadi dua varian rasa yakni original dan spicy flavor. Dari bahan baku yang ada, setelah ditambah bumbu sekitar 10 kilogram, dapat menghasilkan 300-500 kilogram produk kerupuk siap jual. Produk kerupuk dikemas dalam ukuran 80 gram seharga Rp 12 ribu, 100 gram (Rp 20 ribu), 200 gram (Rp 35 ribu), 250 gram (Rp 40 ribu), dan 500 gram (Rp 50 ribu). “Semua produk laku terjual. Bahkan saya tak sanggup memenuhi semua pesanan yang datang. Hanya setengahnya saja yang dapat saya sanggupi. Sekarang saya pusing menerima pesanan pelanggan. Banyak yang akhirnya saya tolak karena produksi tak cukup,” katanya.

Fitri bercerita, dirinya sama sekali tak menyangka, kalau produk Raja Patin miliknya mendapat sambutan baik di pasaran, hanya kurang dari dua tahun. Dampak dari berkembangnya Raja Patin, jumlah pekerjanya yang hanya dua orang meningkat drastis menjadi 28 orang. Mayoritas pekerja adalah warga sekitar. Agar dapur produksi semakin luas, Fitri pun memutuskan menutup usaha pembibitan ikan lele dan ikan patin miliknya. Semua kolam dibongkar dan direhab menjadi dapur produksi.

“Saya harus fokus, mengembangkan Raja Patin dan menghentikan pembibitan ikan. Padahal kalau ingat masa-masa merintis di enam bulan pertama di tahun 2017. Saya hampir menyerah sebenarnya. Istri saya bahkan sudah sempat meminta untuk berhenti saja. Saya kehabisan duit. Uang yang tersisa habis untuk membayar THR pekerja. Tapi saya kuat-kuatin. Saya berusaha terus. Hingga akhirnya masuk enam bulan kedua, barulah kelihatan hasilnya,” ujarnya. 

Fitri menambahkan, pada masa awal merintis usaha, ia membeli kulit ikan patin dari pabrik hanya seharga Rp 600 per kilogram. Tapi saat ini harganya sudah Rp 2.500 hingga Rp 6.000 per kilogram. “Padahal sebenarnya kulit ikan patin ini kan limbah. Harusnya pabrik bersyukur ya limbahnya saya ambil. Tapi karena sudah diolah menjadi makanan dan menguntungkan, pabrik pun menaikkan harganya,” kata Fitri, tertawa.

Berkah dari Pesona JNE dan Menembus Bandara

FITRIADI mengatakan, dikenalnya produk Raja Patin hingga mendapat pesanan dari berbagai kota di Indonesia, salah satunya didukung oleh produk Pesona dari JNE, sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang pengiriman dan logistik yang bermarkas di Jakarta. Sebagai bagian dari JNE, Pesona menyelenggarakan layanan pesanan dan delivery makanan dan minuman khas daerah seluruh Indonesia yang dapat dinikmati dan dipesan melalui web www.pesonanusantara.co.id.

Dikatakan Fitri, Raja Patin menjadi bagian dari Pesona JNE seak satu tahun terakhir. Soal kenapa Raja Patin masuk Pesona, dikisahkan Fitri bermula dari performa produk miliknya yang banyak dikirim lewat JNE. Melihat hal tersebut, JNE pun mengajak Kerupuk Kulit Ikan Patin bergabung dalam Pesona. Tentu saja setelah melalui proses peninjauan ke lokasi usaha dan memenuhi syarat-syarat lain.

Halaman
1234
Penulis: Truly Okto Hasudungan Purba
Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved