Liputan Eksklusif

Napi Sewa Sel Mewah Rp10 Juta Seminggu di Lapas Lubukpakam, Pakai Sandi 'Uang SPP'

Menurut Arman Depari, sipir yang ditangkap mengaku sel khusus merupakan semacam "bisnis sampingan" bagi mereka.

Napi Sewa Sel Mewah Rp10 Juta Seminggu di Lapas Lubukpakam, Pakai Sandi 'Uang SPP'
Tribun Medan / Akbar
Kalapas Lubukpakam, Prayer Manik mengadakan acara makan bersama warga binaan di Lapas Lubukpakam, Kamis (13/7/2017). (Tribun Medan / Akbar) 

Arman Depari, terkait dugaan BNN, secara khusus menyorot Kalapas Lubukpakam, Prayer Manik. Menurut dia, tiap penyimpangan yang terjadi di lapas, tidak bisa tidak, mesti mengarah pada siapapun yang berada di level pimpinan.

"Temuan kami sudah banyak. Saya tidak sebut tempat, namun kami pernah mendapati satu lapas yang menyediakan sel mewah. Ada perlengkapan seperti di kamar hotel, ada CCTV. Bahkan ada yang sampai menyediakan ruangan sekretaris pribadi. Yang seperti ini, kan, tidak mungkin terjadi tanpa sepengetahuan kepala," ucapnya.

Atas kejadian ini, BNN menanggap, perlu dilakukan penyegaran di tubuh pimpinan Kemenkumham dengan harapan agar terciptanya Pemasyakatan yang lebih baik ke depan.

"Makanya saya bilang, perlu dievaluasi, yakni dengan menilai kinerjanya kalau tidak benar dipindahkan dan dicari penggantinya serta perlu direposisi," ujarnya.

Warga binaan Lapas Lubukpakam saat melihat dan penampilan dari Kalapas EP Prayer Manik yang menyanyikan lagu Virgoun - Surat Cinta Untuk Starla, Selasa (20/6/2017). (Tribun Medan / Akbar)
Warga binaan Lapas Lubukpakam saat melihat dan penampilan dari Kalapas EP Prayer Manik yang menyanyikan lagu Virgoun - Surat Cinta Untuk Starla, Selasa (20/6/2017). (Tribun Medan / Akbar) (Tribun Medan / Akbar)

Perihal Manik, dari penyidikan, pihaknya sedikit banyak sudah mendapatkan informasi.

"Ada beberapa catatan kita. Beberapa di antaranya tidak baik dan semestinya yang bersangkutan pantas dievaluasi," ucap Depari.

Priyadi menyebut evaluasi atas kinerja Prayer Manik mungkin saja dilakukan.

Kalapas Lubukpakam EP Prayer Manik (ujung kanan) dan KPLP, Sangapta Surbakti menyerahkan urinenya masing-masing kepada BNN untuk diperiksa, Jumat (16/6/2017). (Tribun Medan/Indra)
Kalapas Lubukpakam EP Prayer Manik (ujung kanan) dan KPLP, Sangapta Surbakti menyerahkan urinenya masing-masing kepada BNN untuk diperiksa, Jumat (16/6/2017). (Tribun Medan/Indra) (Tribun Medan / Indra)

"Tindakan terhadap pimpinan akan kami evaluasi lebih lanjut. Ini sekaligus koreksi bahwa langkah yang kami lakukan tidaklah mudah. Kenapa seperti itu? Ya, kami tidak tahu hati orang siapa yang tahu. Kalau orang normal, katakanlah, misalnya benar uangnya untuk fasilitas mewah. Karena hingga saat ini, saya belum pernah ketemu dengan sipir setelah kejadian," ujarnya.

Ketika hendak meninggalkan para bawahannya, Priyadi yang sudah berada di dalam mobil berulang kali terdengar memanggil dan mengayunkan tangannya kepada Tribun.

Dia meminta agar dugaan BNN tentang fasilitas mewah di lapas ini tidak diperbesar.

Prayer Manik sendiri, hingga laporan ini naik cetak tidak berhasil dimintai keterangan.

Saat Tribun menyambangi Lapas Klas IIB Lubukpakam, staf lapas menyebut yang bersangkutan tidak berada di tempat. Begitu juga ketika dikontak lewat sambungan telepon selular. Berkali-kali kontak, walau memperdengarkan nada sambung, tidak diangkat.(ase/nan/dra)

Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved