Liputan Eksklusif

Napi Tanjunggusta Kecanduan Minta Jatah Pulsa, Nominal Rp 100 Ribu Laku Rp 85 Ribu

"Saya dilema dan bingung harus berbuat apa. Anak saya selalu minta pulsa dua kali seminggu," kata HH, orang tua yang anaknya tahanan.

Napi Tanjunggusta Kecanduan Minta Jatah Pulsa, Nominal Rp 100 Ribu Laku Rp 85 Ribu
Tribun Medan/M Daniel Siregar
Petugas pengawal tahanan LP Tanjunggusta menggiring para tahanan ke dalam sel. 
MEDAN, TRIBUN-Bak candu, pulsa (satuan perhitungan biaya telepon) menjadi sesuatu yang mewah dalam penjara.
Saban hari, transaksi pulsa yang ditukar menjadi nominal uang jadi hal lumrah dalam institusi pemasyarakatan. Pengakuan ini disampaikan MH, yang mengaku harus meladeni permintaan anaknya yang mendekam dalam Rumah Tahanan Negara (Rutan) Klas IA Tanjunggusta.
Setiap minggu ia terpaksa merogoh kocek Rp 200 ribu pulsa permintaan sang anak berinisial HH.
"Saya dilema dan bingung harus berbuat apa. Anak saya selalu minta pulsa dua kali seminggu. Saya merasa terbebani mau cari uang dari mana. Kalau enggak dikasi anak saya ketakutan," kata MH, saat berbincang dengan Tribun di kursi pengunjung Rutan Tanjunggusta, Medan, Rabu (17/10).
Ia mencurigai permintaan pulsa oleh sang anak dilatarbelakangi dugaan teror penganiayaan. HH, yang ditangkap kepolisian kasus kepemilikan narkoba jenis sabu-sabu bersama sepupunya berinisial BH, sudah mendekam satu tahun lebih dalam penjara. Dari pengakuan MH, tatkala anaknya meminta pulsa, nomor ponsel tujuan selalu berbeda-beda. Dari pengakuannya pula, di dalam penjara pulsa dapat diperjualbelikan.
"Saya sebetulnya serba salah. Kalau enggak dikasi anak saya ketakutan. Pulsa ini dijual lagi di dalam. Saya kirim Rp 100 ribu untuk dijual lagi. Di dalam laku Rp 85 ribu," ujar perempuan berambut sebahu  yang mengaku telah memiliki tiga anak tersebut. 
Cerita MH mengisyaratkan masih banyaknya warga binaan/narapidana bebas menggunakan ponsel.
Pada Minggu (22/7) malam lalu, personel dari Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM (Kanwil Kemenkumham) Sumut melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Lapas dan Rutan Tanjunggusta. Sidak saat itu dipimpim langsung oleh Kakanwil Kemenkumham Sumut, Priyadi. 
Saat itu tim menemukan lebih banyak chargers atau pengisi daya untuk ponsel. Adapun ponsel yang ditemukan dari dua lokasi tersebut jumlah totalnya 31 unit yang terdiri dari beragam merek.
Tak hanya chargers dan ponsel, tim juga ditemukan ratusan benda yang dilarang masuk penjara, seperti DVD player, rice cooker, pemanas air, kipas angin kecil, puluhan mancis, gunting kuku, sendok makan jenis stainless steel, uang tunai puluhan juta dan beberapa benda lainnya.
Kepala Rutan Klas IA Tanjunggusta, Rudy Sianturi mengaku turut prihatin dengan dilema yang dirasakan orangtua atau keluarga warga binaan yang setiap pekan terbebani karena harus mengirim pulsa. 
Ia menjamin akan menindak sipir maupun warga binaan yang tertangkap melakukan penyimpangan.
"Enggak boleh begitu. Sudah susah di dalam (penjara). Kalau kejadian ini betul akan kami cek. Siapa yang meminta pulsa dan melakukan penganiayaan pasti ditindak," ujarnya, kemarin. 
"Keluarga jangan mau lagi mengirim pulsa dan laporkan saja ke kami kalau anaknya mengalami penganiayaan. Kami sudah berbenah dengan memperbaiki pelayanan di depan agar tidak ada lagi kutipan. Pelan-pelan akan kami tertibkan semuanya," sambung Rudy.
Ia menduga munculnya permintaan kirim pulsa lantaran beberapa warga binaan masih memiliki telepon genggam.
Rudy meminta masyarakat yang mendapat informasi siapa warga binaan yang memegang ponsel segera melaporkannya ke mereka.
"Kami akan tetap razia. Kalaupun ada yang mencuri Rp 3.500, mungkin kami kecolongan. Kalau ketangkap akan kami sita ponselnya. Kalau ada informasi di mana keberadaan handphone, laporkan dan akan kami tangkap," jelasnya.
Upeti untuk "Preman Kamar"
Tak berbeda jauh dengan kisah MH, kejadian serupa pun dialami pengunjung lain berinisial SA. Menurutnya, istilah "preman kamar" yang selalu menagih uang kepada warga binaan, selalu membuatnya sedih. Ia kerap mendapat permintaan dari sang anak agar mengirimkan pulsa.
"Anak saya selalu minta pulsa yang ditagih "preman kamar". Dalam seminggu ada tiga kali minta kirim (pulsa). Kalau enggak dikasi, anak selalu dianiaya. Saya ngerti yang namanya penjara memang harus dididik, tapi enggak begini juga caranya," katanya. 
Menurutnya, pihak Rutan harus menindak tegas para "preman kamar" yang dianggap semakin menyengsarakan warga binaan.
"Anak saya sudah susah. Janganlah pula lagi di dalam penjara dihajar. Macam enggak punya hati. Belum lagi minta-minta uang. Kami ini orang susah. Jadi tolonglah kelakuan yang seperti ini jangan lagi terjadi. Minta tolong kali saya," ujarnya.
Di tempat terpisah, institusi pemasyarakatan dipandang jadi lokasi menjalankan bisnis narkoba yang aman. Kepala Badan Narkotika Provinsi (BNNP) Sumut Brigjend Pol Marsauli Siregar mengatakan, dari pengalaman menangani beberapa kasus besar narkoba, bandar maupun pengedar yang mendekam dalam penjara masih dapat leluasa berkomunikasi ke jaringannya di luar penjara.
"Walaupun di dalam (bandar maupun pengedar) masih bekerja menjalankan bisnis haram. Mereka sangat paham jaringannya seperti kurir serta gudang. Para bandar besar masih gunakan jaringan yang sudah mendekam sebagai marketing," ujarnya saat berbincang di ruang kerjanya, belum lama ini. 
Ia menceritakan, pada umumnya para bandar besar tidak melepas jaringannya yang mendekam di penjara. Bahkan, tidak jarang bandar narkoba memberikan garansi supaya bisnis narkotika berjalan lancar. Beberapa bulan lalu, kata dia, BNNP telah menangkap tiga orang yang terlibat dalam kasus peredaran narkoba dari Lapas. Satu di antaranya diberikan tindakan tegas hingga meninggal dunia.
Menurutnya, kasus-kasus yang ada selama ini telah membuktikan banyak warga binaan/narapidana  berkutat pada bisnis narkoba. Bisnis haram itu semakin berkembang karena ada oknum yang masuk dalam jaringan.
"Kami tidak bisa (bebas) masuk ke dalam dan bila dilakukan tes urine agak susah, jumlahnya cukup banyak, ada ribuan. Saya percaya pemakai narkoba di dalam cukup tinggi," ujarnya.
Survei pusat penelitian kesehatan masyarakat bersama BNN menyebutkan peredaran narkoba di Sumut cukup tinggi. Adapun jumlah pengguna narkoba di Sumut mencapai 256 ribu jiwa atau 2,56 persen dari populasi penduduk berusia 10-59 tahun. Tingginya pengguna narkoba di Sumut mengakibatkan para sindikat berupaya menyalurkan suplai. Bahkan, beberapa kali tangkapan besar narkoba di Kalimantan berasal dari Sumut.(ase/tio)
Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved