Edisi Cetak Tribun Medan

Trio Pembunuh Pura-pura Ingin Pinjam Uang, Motif Sakit Hati karena Diejek Korban 'Pasukan Gajah'

Ejek-ejekan menjadi pemicu pelaku membunuh Muhajir, bersama sang istri Suniati, dan anak mereka Muhammad Solihin.

Trio Pembunuh Pura-pura Ingin Pinjam Uang, Motif Sakit Hati karena Diejek Korban 'Pasukan Gajah'
Tribun Medan/Risky Cahyadi
Tersangka pembunuhan Muhajir sekeluarga, di RS Bhayangkara, Medan, Senin (22/10). Polisi berhasil menangkap tiga orang pelaku satu diantaranya tewas ditembak polisi, kasus pembunuhan satu keluarga yakni, Muhajir, Suniarti dan Solihin di Tanjung Morawa, Kabupaten Deliserdang. 
 
MEDAN, TRIBUN -Teka-teki pembunuhan sadis satu keluarga di Deliserdang akhirnya terungkap. Ejek-ejekan menjadi pemicu pelaku membunuh Muhajir, bersama sang istri Suniati, dan anak mereka  Muhammad Solihin. 
Empat pelaku pembunuhan sekeluarga tersebut adalah Rio Suryaningrat (40), Agus Hariyadi (40), Dian Syahputra (29) dan tersangka baru Yayan.
Kapolda Sumut Irjen Pol Agus Andrianto saat memimpin paparan kasus pembunuhan satu keluarga di Tanjungmorawa tersebut memberi kesempatan kepada Rio menceritkan kronologi tindakan nekatnya. 
Rio kemudian menceritakan, nekat melakukan pembunuhan tersebut, karena di ajak Agus.
Dua hari sebelum melakukan pembunuhan Agus mendatanginya. Saat itu, katanya, Agus mengaku, Suniati sering mengejeknya dengan sebutan pasukan gajah. Di situ, sambung Rio, Agus mengajaknya untuk membunuh Muhajir.
"Ya, karena teman, makanya saya mau. Lagian mereka sudah mengejek kami. Jadi, keluarga Muhajir selalu mengejek kami dengan mengatakan pasukan gajah wes teko, yang artinya pasukan gajah datang," kata Rio saat paparan di RS Bhayangkara Medan, Senin (22/10). 
Ia menceritakan, pembunuhan sudah mereka rencanakan dua hari sebelum melakukan eksekusi, Senin 9 Oktober 2018.  
"Jumat kami mengatur rencana membunuh Muhajir dan keluarganya," kata Rio, yang berperan sebagai pengikat dan membuat takut para korban. 
Ia mengatakan, setelah membunuh para korban kemudian membawa ketiga korban ke jembatan di  Kecamatan Talunkenas. Mereka membuang ketiga korban ke Sungai Belumai, Tanjungmorawa. 
"Kami membuang korban ke sungai, karena menurut kami di situ aman. Saat hendak kami buang ke sungai, istri dan anak korban masih hidup," ujarnya. 
Jadi, kata Kapolda, pada Senin, 9 Oktober 2018, tersangka mendatangi rumah korban dengan alasan hendak meminjam uang.
"Jadi yang meminjam uang itu si A dan mereka datang ke rumah Muhajir. Setelah disambut Muhajir, baru mereka meminjam uang. Saat Muhajir ke ruang tamu, A langsung memukul kepala Muhajir dengan batubata," ujar Kapolda.
Setelah itu, sambungnya, tersangka berinisial Rio masuk ke rumah korban dan langsung mengikat Muhajir pakai lakban.
"Kemudian istri Muhajir, Suniati ke ruang tamu dan para tersangka langsung menutup mulutnya pakai lakban," katanya.
Selanjutnya kedua tersangka mengikat Solihin dan menutup mulutnya pakai lakban. Masih kata Kapolda, ketiga korban dikumpulkan di ruang tamu dan dijaga tersangka Rio. Kemudian, tersangka Agus dan Rio mengambil mobil yang sudah disediakan tersangka Dian.
"Jadi setelah para korban dikumpulkan dan tangan diikat, mulut ditutup dengan lakban, mereka keluar rumah dan mengambil mobil yang sudah disediakan tersangka inisial D," kata perwira tinggi bintang dua tersebut.
Agus dan Rio mengangkat para korban ke mobil dan membawanya ke jembatan di wilayah Kecamatan Telunkenas, kemudian membuang ketiga mayat tersebut. Berdasar informasi, sambung Kapolda, kedua tersangka bersembunyi di Kabupaten Kampar, Riau.
Minggu kemarin sekitar pukul 17.30 WIB personel dari Subdit Jatanras Ditreskrimum dan Sat Reskrim Polres Deliserdang dibantu Polsek Tapung Polres Kampar Polda Riau melakukan penangkapan Agus dan Rio, yang bersembunyi di sebuah Ruko di Jalan Flamboyan, Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar. 
Ia menambahkan, Agus menyerang petugas, yang mengendarai mobil, dengan cara mencekik dengan kondisi tangan terborgol. Seorang petugas terpaksa melakukan tindakan tegas dengan menembak punggung tersangka. 
"Sementara tersangka R di kendaraan lain mencoba melarikan diri sehingga diambil tindakan tegas terukur di kaki dan kemudian kedua tersangka di bawa ke RS Bhayangkara Pekanbaru, kemudian dibawa menuju RS Bhayangkara Medan," ujarnya. 
Dirkrimum Polda Sumut, Kombes Pol Andi Rian, saat dikonfirmasi membenarkan, kedua tersangka ditangkap di Pekanbaru.
"Tersangka AG sebagai otak pelaku tewas ditembak, karena berusaha melawan dengan menyerang petugas. Sementara rekannya RO ditembak di bagian kaki," kata Andi, Senin.
Sebelumnya, tim gabungan menangkap Dian, yang diduga turut membantu aksi pembunuhan keji tersebut. Tersangka Dian berperan, membawa ketiga korban naik mobil dan membuang jasad korban di Sungai Blumei dan laut Batubara.
Tersangka R terisak-isak menyebut sangat menyesal turutserta dalam pembunuhan keluarga Muhajir di depan Kapolda Sumut Irjen Agus Andrianto, Senin (22/10/2018).
Tersangka R terisak-isak menyebut sangat menyesal turutserta dalam pembunuhan keluarga Muhajir di depan Kapolda Sumut Irjen Agus Andrianto, Senin (22/10/2018). (TRIBUN MEDAN/SOFYAN AKBAR)
Menyesal 
Rio menyesal telah ikut ambil bagian dalam kasus pembunuhan tersebut. Ia menangis tersedu-sedu meminta maaf, karena telah melakukan pembunuhan sadis kepada keluarga Muhajir.
"Saya minta maaf kepada keluarga Muhajir dan juga pihak kepolisian yang sudah saya buat repot. Saya minta izin dunia akhirat, saya akan lebih baik dari pada sekarang. Semoga permintaan maaf saya diterima keluarga korban," ucap Rio.
Kapolda mengatakan, tersangka utama Agus punya forklift untuk disewa-sewakan di kawasan Deliserdang. Dalam kelompoknya, Agus dipanggil Panglima. Ia bahkan disebut-sebut membawi ketua OKP. 
"Korban mungkin tidak mengetahui latar belakang tersangka. Karena KTP-nya merupakan penduduk Patumbak, tapi faktanya dia tinggal di situ," kata Agus. Ia menjelaskan, saat penyelidikan pisau ketemu di TKP, sedangkan sangkur dan senjata ditanam. 
Sangkur sekaligus pisau dapur yang dipergunakan untuk mengancam sekaligus menusuk Muhajir, terus dihantam pakai gagang senjata rakitan milik Agus.
"Sangkur untuk menusuk dada kanan Muhajir. Untuk motif lain masih penyelidikan. Alasan mereka tidak menggunakan senjata api, agar tidak terdengar. Karena kalau digunakan pasti ramai," kata Kapolda.
Sedangkan Dirkrimum Andi menduga target pelaku hanya Muhajir, kemudian bangun istri (Suniati) dan anaknya (M Solihin), hingga semuanya dibunuh secara bersamaan.
"Hasil lab, Muhajir dan Suniati tidak meninggal saat dibuang ke sungai. Karena ditemukan cairan dan pasir di paru-paru. Sedangkan anak sudah tidak ada. Berarti dia sudah masuk air. Karena posisi para tersangka mulutnya di lakban, sehingga diduga anaknya mati lemas," ujarnya. (akb/cr9)
Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved