Harapan Keturunan Ompu Mamontang Laut Dalam Ritual 'Patarias Debata'

Lembaga Adat Keturunan Ompu Mamontang Laut Ambarita Sihaporas menggelar ritual Adat Patarias

Penulis: Arjuna Bakkara | Editor: AbdiTumanggor
Tribun Medan/Arjuna Bakkara
Lembaga Adat Keturunan Ompu Mamontang Laut Ambarita Sihaporas (Masyarakat Adat Sihaporas) menggelar ritual "Ulaon Adat Patarias Debata Mula Jadi Nabolon" (Ulaon Adat Memuliakan Tuhan Yang Maha Esa) di Sihaporas, Kecamatan Pamatang Sidamanik, Kabupaten Simalungun, Rabu (24/10/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Medan/Arjuna Bakkara

TRIBUN-MEDAN.COM, SIHAPORAS - Lembaga Adat Keturunan Ompu Mamontang Laut Ambarita Sihaporas (Masyarakat Adat Sihaporas) menggelar ritual "Ulaon Adat Patarias Debata Mula Jadi Nabolon" (Ulaon Adat Memuliakan Tuhan Yang Maha Esa) di Sihaporas, Kecamatan Pamatang Sidamanik, Kabupaten Simalungun, Rabu (24/10/2018).

Keturunan Ompu Mamontang Laut setidaknya 7 hari sebelumnya sudah bernazar (tidak makan daging babi) dan mempersiapkan segala sesuatunya untuk melaksanakan ritual yang sudah dimulai pada Selasa (23/10/2018) Petang.

Hewan kurban, kambing putih, ayam disembelih sebagai pelean (sesajian) untuk digunakan sebagai media komunikasi kepada DebataUlajadi Nabolon (Tuhan Yang Maha Esa).

Sesajian ditata sedemikian rupa. Di ddalam ruma prasattian (rumah adat batak Gondang sabanunan ditabuh dan diiringi tortor.

Sehari sebelumnya sudah dilakukan rangkaian kegiatan "Mamulung Ambu-ambuan, Aek Natio" (mencari dan meramu segala keperluan acara).

Selanjutnya diteruskan dengan "Panangkokhon Demban" (Memanjatkan Doa) sekaligus pembukaan dringi musik tradisonal, Gondang. Kemudian berkomunikasi dengan leluhur yang intrans kepada keturunan Ompu Mmontang Laut.

Lalu pada hari kedua, dimulai dengan marhobas/memotong ayam dilanjut dengan "martutu aek, mardaug pogu, manortor, marhobas dan dilanjut pada acara malam harinya dengan manortor sekaligus mempersembahkan sesajian.

Ompu (baca Oppu) Morris Ambarita, satu daru penetua Lembaga Adat Keturunan Ompu Mamontang Laut mengatakan Patarias Debata tersebut merupakan pesta adat yang diwariskan Ompu Mamontang Laut di Sihaporas.

Acara berupa ritual memanjatkan doa, memuji dan memuliakan Tuhan Yang Maha Esa.

Kegiatan empat tahunan merupakan puncak paling agungdari tujuh acara tradisi lainnya.

"Jadi pada 23 Oktober 2017 malam kita sudah memulai acara "Manggokhon" atau mengundang. Jadi, di tengah-tengah ritual kita memanggil Debata Mula Jadi Nabolon melalui doa-doa yang kita panjatkan. Pada hari pertama sudah dibuat penghormatan,"tuturnya.

Katanya, tujuan daripada ritual tersebut agar mereka mendapat kesempatan meminta ampun atas segala dosa, memanjatkan doa kesehatan dan keselamatan, kemurahan rezeki, kedamaian serta kebahagiaan. Setiap rangkaian acara ada pelean yang dipersiapkan, seperti kambing putih dan ayam putih serta ihan Batak (ikan batak) seperti pada siang harinya.

Amatan Tribun, usai manortor mereka menuju mata mual yang tidak jauh dari ruma parsattian tempat acara ritual dilaksanakan.

Berjalan menuruni bukit menuju mata air diiringi alat musik tradisional Batak.

Sesampainya di mata air ritual pun dilanjutkan.

Terlihat di sekitar mata air, tanah mulai tandus sejak hutan Sihaporas dipenuhi kayu eucaliptus PT Toba Pulp Lestari (TPL).

Keturunan Ompu Mamontang Laut memanjatkan doa-doa kepada Debata Mulajadi Nabolon dan juga para leluhur dalam "Martutu Aek" yang merupakan bagian dari rangkaian ritual "Patarias Debata" di Mata air tersebut.

Menurut Oppu Morris Ambarita,
Ritual Patarias Debata yang mereka laksanakan ini disebutkannya adalah puncak dari ritual memuliakan Debata Mulajadi Nabolon (Tuhan Yang Maha Esa) di antara ritual yang ada.

"Kami anggap tidak ada manusia yang bisa berbua apa-apa tanpa berkat dari Oppung Debata Mula Jadi Nabolon, "jelasnya.

Pada acara "Martutu aek" tersebut mereka sekaligus mensucikan diri baik secara jasmani maupun rohani dengan "Maranggir" (mandi menggunakan jeruk purut). Hal itu
dilakukan, sebagai bentuk kesiapan hati mereka kepada "Debata Mula Jadi Nabolon" (Tuhan Yang Maha Esa).

Melalalui ritual itu, dia berharap Masyarakat Adat Sihaporas semakin mencintai jati diri dan adat istiadat.

Terlebih kepada generasi muda, tidak melanggar aturan dalam bermasyarakat, bernegara maupun beragama.

"Jadi harapan kami, agar masyarakat di sini beradat. Menjaga sopan santun terlebih generasi muda,"tuturnya.

Sekilas sejarah

Ompu Pamontang Laut dijelaskannya, yakni memiliki nama kecil Martua Boni Raja Ambarita.

Dia berasal dari Pulau Samosir dan merupakan generasi ke-9 dari silsula Siraja Batak.

Semasa remaja, dia mengalami tekanan psikologis yang luar biasa. Antara lain mendapati kenyataan Naera boru Ambarita, ponakannya, dikubur hidup-hidup oleh Juang Ni Huta, ayahnya Naera.

Juang Ni Huta adalah adik sepupu Ompu Pamontang Laut.

Sekitar tahun 1800-an, Ompu Pamontang Laut Ambarita pun merantau meneberangi Danau Toba dan berlabuh di Dolok Mauli dekat Sipolha.

Kemudian berjalan menapaki pebukitan dan merintis perkampungan di Sihaporas, yang saat ini huannya banyak dikuasai dan dibabat oleh PT Toba Pulp Lestari (TPL).

Ompu Mamontang Laut meninggal dibunuh Tuan Gorat yang melukainya dengan hujur dan tombak.

Wilayah adat warisan Ompu Mamontang Laut terdiri atas hamparan tanah seluas kurang lebih 1.948 hektar.

Pada tahun 1913, Belanda pernah meminjam tanah dari tanah generasi kelima Ompu Mmontang Laut.

Fakta itu terbukti pada peta Enclave Belanda yang terbit tahun 1916, bentang wilayah Sihaporas terdapat dengan tiga nama lokasi. Antara lain, Sihaporas, Sihaporas Bolon dan Sihaporas Negeri Dolok.

Sampai dengan 2018, keturunan Ompu Mamontang Laut sudah sebelas generasi, tinggal secara turun temurun di Sihaporas, Nagori Sihaporas, Kecamatan Pamatang Sidamanik, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara.

Namun sebagian wilayahnya, dukuasai pihak lain, dan diminta agar dikembalikan kepada Masyarakat Tanah Adat Siaporas.

Penduduk Sihaporas bukan penggarap lahan, meainkan penduduk asli.

Hal ini dibuktikan pengkuan pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) akan enam putra-putri asal Sihaporas sebagai pejuang kemerdekaan RI yang mendapat piagam kehormatan sebagai Legiun Veteran RI. (Jun/tribunmedan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved