NEWS VIDEO: Pawang Tak Berdaya Berikan Makanan, Monyet dan Kera Mengemis ke Pinggir Jalan Lintas

Destinasi wisata legendaris di Sibaganding Kecanmatan Girsang Sipangan Bolon ini merupakan wisaa legendaris.

Tayang:
Penulis: Arjuna Bakkara |
TRIBUN MEDAN/ARJUNA BAKKARA
Satwa primata jenis kera yang turun ke jalanan untuk mengemis makanan dari pengendara yang melintas di sepanjang Jalan Lintas Sumatera, Desa Sibaganding, Parapat (30/10/2018). 

TRIBUN-MEDAN.COM, SIBAGANDING -Satwa-satwa primata jenis kera, monyet terus menerus turun ke jalanan untuk mengemis makanan dari pengendara yang melintas.

Amatan Tribun, seperti pada Selasa (30/10/2010) di sepanjang Jalan Lintas Sumatera, Desa Sibaganding Parapat, kera-kera muncul bergerombolan dari semak-semak.

Keadaan tersebut mengganggu lalu lintas, apalagi sejumlah kendaraan berhenti dan mendekati monyet-monyet yang mengakibatkan kendaraan lainnya terhalang. Selain itu, monyet-monyet juga sering mati sia-sia terlindas.

Destinasi wisata legendaris di Sibaganding Kecamatan Girsang Sipangan Bolon ini merupakan wisata legendaris. Apalagi, monyet-monyet di lepas di alam bebas.

Sejumlah monyet tampak asik bergelantungan di pepohonan dan berjejer di pagar pembatas jalan sambil menunggu kendaraan lewat. Namun, terkadang kendaraan yang melintas tidak menghiraukan keselamatan gerombolan monyet.

Hal itulah yang membuat Rahman Manik, pawang monyet di Sibaganding gusar. Akibat ketidakmampuannya memberi monyet makan, satwa-satwa kesayangannya pun turun ke jalanan.

Berbincang dengan Tribun, Minggu 28 Oktober 2018 lalu mengatakan mereka mulai melestarikan moyet-monyet dimulai dari tahun 1980-an. Mereka memberi makan monyet-monyet yang berkeliaran hingga akhirnya jinak.

Saat ini jenis monyet yang mereka lestarikan ada tiga jenis yakni Beruk, Siamang, dan kera. Makanan monyet yang diberikan pun beragam jenis, seerti pisang, ubi, dan kacang, kecuali daging.

Turunnya gerombolan monyet mengemis ke jalananan kata Raman diakibatkan habisnya bahan makanan di habitat aslinya di hutan. Apalagi, pada musim-musim tertentu tumbuhan-tumbuhan hutan bahkan sudah jarang ditemui, karenanya Rahman dan keluarganya berupaya semampu daya memberi makan primata-primata ini selama puluhan tahun.

Jika makananan di hutan cukup, dan Rahman mampu membiayai pembelian buah-buahan maka monyet-moyet tidak turun mengemis dan mati sia-sia di jalanan. Tapi, apa daya Rahman tidak bisa berbuat banyak karena tidak ada dampingan pihak mana pun.

Mengatasi persoalan agar monyet tidak lagi turun ke jalanan, Rahman dibantu relawan yang dikomandoi Erwin Landy yang sering disapa Boemi Samosir itu pun melakkukan penanaman. Biji kelor, okra, ceri, markisa, pepaya dan lainnya mereka tabur ke perbukitan secara bertahap.

Berikutnya, sembari menunggu biji-bijian ditabur berbuah, upaya yang dilakukan menyelamatkan satwa asuhannya itu, mereka terpaksa mengumpulkan sisa buah-buahan dari berbagai tempat. Buah-buahan yang masih layak untuk dikonsumsi kera-kera itu akan dibagikan semaksimal mungkin.

Rahman tidak lagi bisa berpaling dari satwa-satwa asuhannya. Meski hanya swadaya, dia tetap berupaya keras memberi makan primata-primata yang sudah dia anggap bagai keluarga.

"Saya merasa tenang, dan monyet ininenggak saya anggap monyrt lagi. Sudah saya anggap keluarga," tuturnya.

(jun/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved