Nuansa Tradisional Dibalut Konsep Kekinian

Namun, jika ingin mencari sesuatu yang berbeda, maka destinasi digital menjadi pilihan yang tak boleh dilewatkan.

TRIBUN MEDAN/TRULY OKTO PURBA
TIGA anak sedang bermain pletokan di Pasar Kesain, kecamatan Berastagi, Karo, Sumatera Utara, Minggu (4/11/2018). Pasar Kesain adalah satu dari tiga destinasi digital di Sumatera Utara. 

“Khusus untuk kuliner, kami memakai konsep 70:30. Artinya tidak semuanya kuliner tradisional, sekitar 70 persen. Sisanya 30 persen adalah kuliner modern dan kekinian seperti dimsum, telur gulung, goreng pisang, minuman kopi, dan aneka minuman bersoda,” katanya.

Sebagai pembeda dengan pasar-pasar lain, maka setiap pasar memiliki pimpinan pasar. Uniknya pimpinan pasar tidak disebut sebagai ketua atau kepala pasar melainkan juragan pasar. Juragan pasar adalah orang yang bertanggungjawab terhadap kelangsungan pasar mulai dari penyediaan spot selfie, dekorasi pasar, hingga menjalin kerjasama dengan pedagang-pedagang setempat.

Keunikan lainnya adalah, pengunjung tak perlu membayar untuk masuk ke dalam pasar. Selain itu, semua pasar tidak menggunakan uang rupiah sebagai alat transaksi. Alat tukarnya  menggunakan koin belanja yang terbuat dari lempeng kayu yang dibentuk seperti chip-chip layaknya di kasino. Pada satu sisi koin diberi angka 5, 10, 20 dan 50. Angka 5 berarti bernilai Rp 5 ribu, 10 bernilai Rp 10 ribu, 20 bernilai Rp 20 ribu, dan 50 bernilai Rp 50 ribu. “Jadi setiap pengunjung yang datang akan menukarkan uang rupiahnya di tempat penukaran koin. Koin ini nantinya dibelikan makanan, minuman, atau suvenir dari pedagang di pasar. Untuk memudahkan transaksi, harga jual produk sesuai dengan nilai koin yang tersedia. Jadi tidak ada produk yang harga jualnya dengan pecahan Rp 500, Rp 1.000 dan Rp 2.000,” terang Fito.

Butuh Enam Bulan untuk Benar-benar Viral

BEBERAPA destinasi digital yang digagas GenPI terbukti berhasil menjadi destinasi wisata yang benar-benar viral tidak hanya di dunia maya, tetapi juga di dunia nyata. Pasar Cikundul misalnya. Destinasi digital yang berlokasi di objek wisata Pemandian Air Panas Cikundul, Sukabumi, Jawa Barat ini selalu kebanjiran pengunjung setiap minggunya. Tidak kurang dua ribu orang hadir di destinasi digital ini setiap kali dibuka. Kehadiran destinasi digital ini telah mengubah wajah objek wisata Pemandian Air Panas Cikundul yang dulunya sepi. Kehadiran berbagai atraksi seperti live musik dan melukis di tong sampah membuat ramai pengunjung sejak pasar dibuka 9 September lalu.

Bagaimana dengan destinasi digital di Sumatera Utara? Juragan Pasar Jumpa Tengah, Jaka Putra Ariadi mengatakan, dalam sekali beroperasi, pasar yang ia kelola mampu mendatangkan 100-an pengunjung dengan pendapatan antara Rp 500 ribu hingga Rp 800 ribu. Jumlah ini, kata Jaka belumlah banyak. Setelah beroperasi selama hampir dua bulan dan melakukan evaluasi, Jaka mengatakan jam buka pasar menjadi satu faktor penyebab.

“Kami lihat, sekitar GOR ini ramai saat malam akhir pekan. Kami berpikiran untuk buka malam minggu karena pengunjung pasti ramai. Kalau sudah begitu, artinya harus ada lampu. Kami sudah diskusikan dengan GenPI Sumut terkait hal ini. Sedang dipertimbangkan,” kata Jaka.

PENGUNJUNG Pasar Kesain membeli kuliner tradisional.
PENGUNJUNG Pasar Kesain membeli kuliner tradisional. (TRIBUN MEDAN/TRULY OKTO PURBA)

Selain keberadaan beberapa spot selfie yang Instagramable, untuk menarik pengunjung mereka menggelar pentas hiburan tradisional seperti tari Serampang Dua Belas dan diskusi interaktif dengan Duta Wisata Tebing Tinggi.

Untuk Pasar Kesain, Dewi Girsang selaku Juragan Pasar mengatakan, setelah dibuka dua kali, pengunjung yang datang ada di angka 50-an dan 80-an orang. Pendapatan yang masuk di kisaran Rp 250 ribu hingga Rp 400 ribu. “Masih kecil, baik jumlah pengunjung maupun pendapatan. Masih dua kali buka,” kata Dewi.

Dewi mengatakan, kendala yang ditemukan pihaknya adalah keberadaan pedagang kuliner yang belum total untuk berjualan. Pedagang khawatir, karena pengunjung masih sedikit, dagangan mereka tidak habis dan terbuang. “Kami berupaya terus agar pengunjung semakin banyak yang datang. Kami tetap optimistis,” ujarnya.

Pernyataan Dewi diamini Nande Tarigan (48), pedagang kuliner tradisional Karo di Pasar Kesain. Nande Tarigan yang berjualan cimpa, cipera dan tasak telu  mengatakan, dirinya sudah dua kali berjualan di Pasar Kesain. Pada keikutsertaannya yang pertama, kuliner yang ia jajakan habis terjual. “Memang waktu itu tidak bikin banyak ya. Untuk jualan berikutnya, saya kepengen jual banyak. Tapi untuk pertama-tama jangan dulu, nantilah kalau sudah semakin ramai,” katanya.

Nande Tarigan mengatakan, dirinya mendukung keberadaan Pasar Kesain. Dirinya berharap, kehadiran pasar ini mampu meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke kabupaten Karo. “Selama ini Karo memang terkenal dengan objek wisatanya seperti Funland, Bukit Gundaling, Pemandian Air Panas, atau kawasan Berastagi. Kedepannya, wisatawan yang datang ke Karo tidak hanya karena tempat-tempat legendaris itu, tetapi juga karena Pasar Kesain,” kata Nande Tarigan.

KOIN belanja dengan angka 5, 10, 20 dan 50 sebagai alat tukar di destinasi digital.
KOIN belanja dengan angka 5, 10, 20 dan 50 sebagai alat tukar di destinasi digital. (TRIBUN MEDAN/TRULY OKTO PURBA)

Jumlah pengunjung yang belum ramai juga terjadi di Parapat Night Market. Penasehat GenPI Danau Toba, Corry Panjaitan mengatakan, saat dibuka pertama sekali pada Sabtu (3/11/2018) malam, cuaca memang tidak mendukung karena turun hujan. Hal ini membuat pedagang kuliner tradisional yang sebelumnya sudah bekerjasama dengan GenPI urung datang. “Pengunjung memang belum terlalu ramai di hari pertama buka,” kata Corry.

Corry mengatakan, dengan menggandeng anak-anak muda setempat untuk bersama-sama mengelola Parapat Night Market, pihaknya optimistis keberadaan Parapat Night Market akan mendapat tempat di hati masyarakat, meskipun dalam waktu yang cepat belum bisa menyaingi kepopuleran Bukit Indah Simarjarunjung (BIS) yang juga ada di kabupaten Simalungun. GenPI Danau Toba, kata Corry sudah menyiapkan sembilan spot selfie. Lampu-lampu juga sudah dipasang di lokasi pasar, sehingga mendukung pengunjung untuk berswa foto di malam hari.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved