Breaking News:

Nuansa Tradisional Dibalut Konsep Kekinian

Namun, jika ingin mencari sesuatu yang berbeda, maka destinasi digital menjadi pilihan yang tak boleh dilewatkan.

TRIBUN MEDAN/TRULY OKTO PURBA
TIGA anak sedang bermain pletokan di Pasar Kesain, kecamatan Berastagi, Karo, Sumatera Utara, Minggu (4/11/2018). Pasar Kesain adalah satu dari tiga destinasi digital di Sumatera Utara. 

“Kami juga menyiapkan pertunjukan seni baik tradisional maupun modern untuk menarik pengunjung seperti tarian tradisional Batak, pemutaran film budaya Batak dan budaya suku lain, musik akustik, teater, dan bedah buku,” katanya.

Corry menambahkan, keberadaan Parapat Night Market diharapkan tidak hanya menyajikan unsur wisata saja, tetapi juga pengetahuan. “Di kawasan Pagoda Open Stage Parapat ini berkantor Pusat Informasi Geopark Kaldera Toba. Artinya selain berwisata, pengunjung dapat menambah pengetahuan seputar terbentuknya Danau Toba dan hal-hal lain terkait geopark dengan datang ke kantor Pusat Informasi,” kata Corry.

Ketua GenPI Sumut, Fito Fitato mengatakan, pihaknya memang belum menargetkan ketiga destinasi digital di Sumatera Utara akan viral dalam waktu yang cepat baik di dunia maya atau dunia nyata. “Untuk satu atau dua bulan mungkin belum bisa.  Kami melihat tiga destinasi digital ini akan benar-benar viral dalam enam bulan. Meski demikian, kami tetap berupaya lebih cepat dari itu. Berbagai promosi di media sosial tetap kami lakukan dengan gencar,” kata Fito.

PARAPAT Night Market di kecamatan Parapat, kabupaten Simalungun, Sumatera Utara.
PARAPAT Night Market di kecamatan Parapat, kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. (TRIBUN MEDAN/HO)
SATU spot selfie di Parapat Night Market.
SATU spot selfie di Parapat Night Market. (TRIBUN MEDAN/HO)


Tarik Kunjungan 20 Juta Wisatawan

MENTERI Pariwisata Arief Yahya dalam acara talkshow Youth X Public Figure di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, akhir Juni lalu mengatakan, destinasi digital dirancang sebagai salah satu upaya Kementerian Pariwisata untuk menarik kunjungan 20 juta wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia hingga akhir 2019.

Dikatakan Arief Yahya, pembangunan destinasi digital merupakan produk pariwisata yang kreatif dan dikemas secara kekinian (zaman now). “Keinginan generasi milenial maupun individu yang senang 'berbagi' di media sosial menjadi potensi baik untuk meningkatkan pariwisata dunia digital ini. Kalau menurut bahasa anak muda adalah destinasi yang Instagramable,” kata Arief seperti dikutip tribun-medan.com dari kompas.com.

Baca: GenPI Sumut Suguhkan Tarian dan Musik Tradisional Batak di Parapat Night Market

Arief mengatakan, melalui GenPi bentukan Kemenpar, anak muda yang tergabung dalam komunitas di tiap daerah diberi wadah untuk membangun dan mengembangkan destinasi tersebut. Arief menambahkan, destinasi digital cukup menguntungkan karena biaya pembuatannya juga murah, sedangkan media value-nya sangat besar. Biaya membangun destinasi digital diperkirakan sekitar Rp 200 juta, tapi hasil yang didapatkan jauh lebih besar. “Di era digital sekarang ini, destinasi digital adalah investasi wisata yang menguntungkan. Mudah, murah, dan cepat populernya,” ujarnya.

Jangan Sembarangan Desain

ARSITEK Eka Sihombing mengatakan, kepopuleran beberapa destinasi digital di beberapa daerah di Sumatera Utara berdampak kepada tumbuhnya destinasi-destinasi digital hampir di seluruh daerah di Sumatera Utara. Dikatakan Eka, destinasi digital di Sumatera Utara tidak hanya berlokasi di alam terbuka, tetapi juga di tempat-tempat tertutup seperti restoran, kolam renang, dan cafe.

“Sekarang dengan mudah ditemukan sebuah cafe yang dilengkapi spot-spot selfie yang Instagramable. Jika dihitung kasar, jumlah destinasi digital di Sumatera Utara bisa mencapai ratusan buah,” kata Eka kepada tribun-medan.com, Minggu (4/11/2018).

Berangkat dari semakin populernya keberadaan destinasi digital ini, siapapun yang ingin membangun destinasi digital atau sudah mempunyai destinasi digital harus memperhatikan satu hal yakni desain. Dikatakan Eka, desain destinasi digital sebaiknya jangan sembarangan desain. Desain harus memperhatikan aspek potensi alam dan anggaran.

GERBANG masuk Parapat Night Market.
GERBANG masuk Parapat Night Market. (TRIBUN MEDAN/HO)

Eka menjelaskan, dari aspek potensi alam, desain sebaiknya memasukkan unsur-unsur kekayaan alam atau ciri khas di daerah setempat ke dalam spot-spot selfie yang akan disiapkan. Misalnya kabupaten Karo yang dikenal sebagai daerah pegunungan dan penghasil buah, maka desain spot-spot selfie sebaiknya memasukkan unsur gunung atau buah. Demikian halnya di kabupaten-kabupaten sekitar Danau Toba. Unsur Danau Toba dapat  dimasukkan dalam mendesain spot selfie.

“Kenapa unsur kekayaan alam dan ciri khas daerah ini harus dimasukkan, karena inilah yang akan menjadi pembeda sekaligus sebagai ciri khas destinasi digital tersebut. Dengan demikian, pengunjung juga mendapat pengalaman berbeda dibandingkan saat dirinya berkunjung ke tempat wisata lain,” katanya.

Dari aspek anggaran, kata Eka, sebagai destinasi berbiaya murah, maka desainnya jangan sampai menghabiskan anggaran yang besar dan tidak sesuai dengan hasil yang diharapkan. Di beberapa daerah, kata Eka, kehadiran destinasi digital justru mampu menarik kunjungan wisatawan hingga ribuan orang setiap minggunya, padahal anggaran desainnya tidaklah mewah. “Elemen arsitekturnya yang harus dihidupkan. Artinya, dengan anggaran yang tidak besar, pengelola dapat mendesain destinasi digital lebih menarik dan luar biasa,” katanya.

Khusus bagi destinasi digital yang sudah beroperasi sekian lama, Eka menyarankan, pengelolanya juga memperbarui konsep desainnya. Dengan konsep yang terus diperbarui, maka pasar destinasi digital di dunia maya tetap eksis. “Sedangkan di dunia nyata, pengunjung juga terus tumbuh,” katanya.(*)

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved