Breaking News:

Aku Senang, Bisa Berdoa Kepada Tuhanku Sendiri

Sejak masuk sekolah hingga duduk di kelas II SD, siswa penghayat kepercayaan Parmalim terpaksa menjadi Kristen saat harus belajar agama.

TRIBUN MEDAN/HO
PERTEMUAN pihak ASB, Korwil Kecamatan Patumbak Dinas Pendidikan Deliserdang dan orangtua siswa Parmalim terkait pemberian mata pelajaran pendidikan kepercayaan kepada siswa Parmalim di SDN 104212, beberapa waktu lalu 

Setelah TOT berakhir, ke-22 penyuluh penghayat kepercayaan terhadap TYME ini diserahkan ke Dinas Pendidikan kabupaten Deli Serdang. Selanjutnya, Dinas Pendidikan melalui Koordinator Wilayah Kecamatan (Korwilcam) Dinas Pendidikan di tingkat kecamatan berkoordinasi dengan sekolah-sekolah yang mempunyai siswa penghayat kepercayaan. “Korwilcam akan mendistribusikan para penyuluh ke sekolah-sekolah yang ada siswa penghayat keperayaan. Tidak semua penyuluh turun mengajar. Jumlahnya disesuaikan dengan kebutuhan sekolah,” ujar Ferry.

Koordinator Wilayah Kecamatan (Korwilcam) Patumbak, Dinas Pendidikan Deli Serdang, Kosmaida Samosir, mengatakan, berdasarkan hasil assesment yang mereka lakukan, ada 11 siswa di tiga sekolah dalam wilayah kerjanya (yang terdata sebagai siswa Parmalim).

“Sebelum pelajaran pendidikan kepercayaan bagi siswa penghayat dijalankan, terlebih dahulu kami membuat pertemuan dengan orangtua siswa. Kita beritahu ke orangtua, kenapa pelajaran agama untuk anak-anak mereka yang penghayat dipisah dengan siswa lain, dan seperti apa peran orangtua dalam mendukung pelajaran untuk anak-anak mereka,” ujar Kosmaida.

Kosmaida mengatakan, pada tahap awal di semester genap tahun ajaran 2017/2018, mereka (siswa Parmalim) dari tiga sekolah masih berkumpul dan belajar di satu sekolah yakni di SDN 104212. Tapi di semester ganjil tahun ajaran 2018/2019, mereka sudah belajar di sekolahnya masing-masing. “Pertimbangan kami waktu itu adalah siswa dari SDN 106816 berlokasi sangat jauh dari SDN 104212 sebagai titik kumpul belajar. Orangtua mereka cukup kerepotan kalau harus mengantar jemput untuk belajar agama. Akhirnya setelah kami diskusikan, mereka (siswa) cukup belajar di sekolahnya masing-masing. Jadi penyuluhnya yang datang langsung ke sekolah-sekolah tersebut,” kata Kosmaida.  

Kosmaida menambahkan, di kecamatan yang ia tanggungjawabi, kecamatan Patumbak, seluruh siswa Parmalim sudah mendapatkan pelajaran pendidikan kepercayaan sesuai dengan kepercayaan yang dianutnya. “Di kecamatan Patumbak, implementasi Permendikbud ini cukup baik. Semua ini hasil kerjasama tim di Korwilcam Patumbak. Saya berharap, apa yang kami lakukan di Patumbak dapat diikuti kecamatan lain di Deliserdang dan Medan,” katanya.

RAPAT Dengar Pendapat (RDP) ASB dengan KomisiE DPRD Sumut terkait impelemntasi Permendikbus Nomor 27/2016 di gedung DPRD Sumut, beberapa waktu lalu.
RAPAT Dengar Pendapat (RDP) ASB dengan KomisiE DPRD Sumut terkait impelemntasi Permendikbud Nomor 27/2016 di gedung DPRD Sumut, beberapa waktu lalu. (TRIBUN MEDAN/HO)

Negara Wajib Hadir

DIREKTUR ASB, Ferry Wira Padang mengatakan, selama tiga tahun melaksanakan advokasi terhadap siswa penghayat, pihaknya menilai bahwa negara dan Aparatur Sipil Negara (ASN) adalah dua sisi yang mempunyai peran penting untuk memastikan Permendikbud Nomor 27/2016 diimplementasikan dengan baik di seluruh Indonesia. Dari sisi negara, kata Ferry, negara wajib hadir dalam hal ini, dimana mendapatkan pendidikan agama (kepercayaan) adalah hak azasi manusia (HAM). Sedangkan, dari sisi ASN, bawah ASN yang ada di Dinas Pendidikan, Kepala Sekolah dan guru harus merasa bahwa implementasi Permendikbut Nomor 27/2016 adalah bagian dari tanggungjawab mereka.

“Meskipun peraturan ini dilahirkan oleh Pemerintah, tetapi semua pihak khususnya aparatut negara diharapkan bekerja sama menjalankannya. Permendikbud ini adalah bagian dari upaya untuk menguatkan pendidikan agama dan kepercayaan bagi siswa penghayat,” kata Ferry.

Pengurus Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Tunas Naimbaru Parmalim, Mei Wulan Butar-butar mengatakan, sebagai organisasi yang anggota-anggotanya telah mengikuti TOT Penyuluh Penghayat Kepercayaan, Tunas Naimbaru Parmalim siap bekerjasama dengan sekolah manapun dalam mengakomodir pelajaran Pendidikan Penghayat Kepercayaan. “Kami akui, penerimaan sekolah tidak sama terhadap Permendikbud ini. Kami berpendapat, perlu sosialisasi lebih banyak lagi agar semua pihak yang bertanggungjawab terhadap Permendikbud ini dapat mengimplementasikannya di wilayah kerja masing-masing,” kata Mei.

Ferry menambahkan, meskipun baru berjalan di kecamatan Patumbak, pihaknya (ASB) tetap optimistis kalau Permendikbud Nomor 27/2016 dapat diimplementasikan di seluruh sekolah di Sumatera Utara yang mempunyai siswa penghayat, dengan catatan negara harus hadir dan ASN bertanggungjawab atas tugasnya masing-masing.

“Dari pelaksanaan Permendikbud di kecamatan Patumbak, artinya negara sudah mengakui hak konstitusional warga untuk mendapat pendidikan agama ataupun kepercayaan sesuai dengan agama dan kepercayaan yang dianut. Dengan begitu, semua sekolah yang mengasuh anak-anak penghayat di daerah lain diharapkan dapat memfasilitasi pendidkan kepercayaan untuk sekolahnya masing-masing,” katanya.(*)

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved