Terkait Donald Trump: Dari Kekalahan di DPR, Pecat Jaksa Agung, Hingga Laporan Pemanasan Global

Jutaan rakyat Amerika Serikat akan berbondong-bondong ke tempat pemungutan suara

Terkait Donald Trump: Dari Kekalahan di DPR, Pecat Jaksa Agung, Hingga Laporan Pemanasan Global
cnbc.com
Donald Trump 

Daftar-daftar yang sudah dipersiapkan di antaranya adalah tuduhan kolusi kampanye kepresidenan Trump dengan Rusia, pajak pendapatan Trump yang selama ini tidak pernah dirilis ke publik, serta serangkaian tuduhan konflik kepentingan Trump, keluarga, dan anggota kabinetnya.

Tidak ketinggalan suara-suara untuk memakzulkan Trump yang datang dari anggota-anggota DPR Demokrat.

Kekalahan Republik di DPR juga berarti presiden berusia 72 itu harus melupakan legislasi-legislasi ambisiusnya seperti pembangunan tembok perbatasan Meksiko, pencabutan Undang-Undang Kesehatan Obamacare, serta kebijakan garis keras terhadap imigran yang semuanya hampir pasti akan ditentang Demokrat.

Jaksa Agung Diganti

Pada Rabu (7/11/2018), Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyingkirkan Jaksa Agung Jeff Sessions.

BBC mewartakan, Sessions menyampaikan surat tentang pengajuan pengunduran dirinya sesuai dengan permintaan sang presiden Donald Trump.

"Presiden yang terhormat, atas permintaan Anda, saya mengajukan pengunduran diri saya," tulisnya dalam surat tak bertanggal.

"Yang paling penting, pada masa saya sebagai jaksa agung, kami telah memulihkan dan menegakkan supremasi hukum," imbuhnya.

Seperti diketahui, Trump berulang kali mengkritik Sessions, usai dia mundur dari penyelidikan tersebut.

"Kami berterima kasih kepada Jaksa Agung Jeff Sessions atas pelayanannya, dan mendoakannya dengan baik," kicau Trump di Twitter.

Disodori Laporan Pemanasan Global

Di tempar terpisah, Presiden Donald Trump mengaku belum membaca laporan terbaru PBB soal pemanasan global.

Pengakuannya itu justru menggiring opini mengenai sikap skeptisnya terhadap isu lingkungan.

Diwartakan AFP, Selasa (9/10/2018), laporan yang dirilis pada Senin lalu menunjukkan penduduk Bumi hampir kehabisan waktu untuk mencegah bencana yang disebabkan oleh perubahan iklim.

"Laporan diberikan kepada saya, dan saya akan melihat siapa saja yang melaporkannya, kelompok mana itu," ucapnya di Gedung Putih.

"Saya dapat memberi Anda laporan yang luar biasa dan saya dapat memberi Anda laporan yang tidak begitu bagus," ujarnya.

"Tapi, saya akan membacanya, tentu saja," imbuh pria berusia 72 tahun tersebut.

Begitulah reaksi awal Trump terhadap laporan PBB, yang menyebutkan permukaan Bumi menjadi lebih panas 1 derajat Celcius, dan dapat meningkat hingga 3-4 derajat Celcius.

Sementara, pemerintahan Trump membongkar kebijakan pengurangan emisi di dalam negeri dan berkeinginan untuk membatalkan perjanjian Paris, sebuah kesepakatan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca di seluruh dunia.

Banyak di antara anggota Partai Republik yang menilai perubahan iklim dengan keraguan.

Mereka mempertanyakan keakuratan konsesus para ilmuwan di seluruh dunia tentang tindakan manusia dalam meningkatkan suhu Bumi.

Huffington Post menulis, laporan PBB itu mengutip lebih dari 6/000 rujukan ilmiah dan disatukan oleh 91 peneliti dan ediotr dari 40 negara.

"Ini tentu salah satu laporan paling penting yang pernah dihasilkan oleh IPCC, dan tentu salah satu yang paling dibutuhkan," ujarnya ketua IPCC Hoseung Lee.

"Perubahan iklim sudah memengaruhi banyak orang, mata pencaharian, dan ekosistem di seluruh dunia," katanya(*)

*)Diolah dari Kompas.com

Editor: Abdi Tumanggor
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved