Tradisi Banjar, Mengayunkan Anak secara Massal saat Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW

Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di desa ini selalu meriah setiap tahun, tak ubahnya perayaan Hari Raya Islam lainnya.

Tradisi Banjar, Mengayunkan Anak secara Massal saat Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW
TRIBUN MEDAN/Risky Cahyadi
Tradisi Banjar mengayunkan anak secara massal pada perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Kampunglama Banjaran II Tandem Hilir II, Hamparan Perak, Deliserdang. 

Laporan Wartawan Tribun Medan / Dedy Kurniawan

TRIBUN-MEDAN.com, DELISERDANG - Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW disambut gegap gempita penuh syukur dengan lantunan marhaban, ceramah dan pengayunan 111 orang anak oleh warga Kampunglama Banjaran II Tandem Hilir II, Hamparan Perak, Deliserdang.

Suara puja dan puji kepada Allah dan Shalawat untuk Nabi Muhammad bertalu-talu mengggema dari lokasi acara yang digelar di Lapangan Sepak Bola, Tandem Hilir II, Selasa (20/11/2018)

"Hari ini ada 111 anak yang diayunkan massal. Tradisi setiap tahun yang selalu kami lakukan," kata Zanix warga sekitar.

Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di desa ini selalu meriah setiap tahun, tak ubahnya perayaan Hari Raya Islam lainnya seperti Idul Fitri mau pun Idul Adha.
Yang menarik, momen ini juga diwarnai tradisi pengayunan anak secara massal.

"Tahun ini dibuka untuk umum pengayunan anak, jadi bukan anak warha desa sini saja yang diayun, dari luar juga banyak yang datang untuk mengayunkan anaknya. Untuk tradisi supaya besar selamat, dan sehat-sehat," kata Zanix tokoh masyarakat setempat.

Zubaidah warga Dusun V Slipit Desa Mangga, Stabat mengatakan, sebagai Orang Banjar acara ini sudah setiap tahun digelar, dengan harapan mendapat berkah berlebih untuk anak dan keluarga, terlebih berbarengan merayakan Maulid Nabi Muhammad Rasulullah.

Selain itu, kata Zubaidah, mengayunkan massal secara nilai ekonomi juga bisa hemat biaya, dibanding mengadakan acara pengayunan di rumah secara pribadi. Tahun ini jumlah yang mengayunkan anak bertambah dibanding tahun sebelumnya yang tidak mencapai 100 anak.

"Kami di sini Orang Banjar. Ada Tradisi Piduduk (Budaya Banjar) mengayunkan anak, jadi anak diayunkan dengan syarat menyertakan berupa beras 3 Kg, gula merah satu bundaran, satu buah kelapa dimasukkan dalam plastik asoi, dibagikan ke panitia, dibacakan marhaban," katanya.

"Itu untuk syarat prosesi pengayunan anak. Harus dibuat kalau tradisi orang Banjar, ya sama juga lah dengan orang Dayak. Kayak nazar berharap keselamatan dan kebaikan, kalau gak dibuat nanti khawatir sama hal-hal yang kurang baik," Zubaidah.

Suasana kebersamaan di kampung ini begitu kentara. Di sekitar kampung warga-warga membuka pintu-pintu rumah mereka untuk menyambut tetangga dan para tamu yang datang dari luar kampung.

(dyk/tribun-medan.com)

Penulis: Dedy Kurniawan
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved