Awas Jebakan Rentenir Online! Penagih Pinjaman Meneror dan Sebar Data Pribadi ke Media Sosial

Munculnya fintech yang antara lain melayani peminjaman uang menjadi angin segar bagi masyarakat. Namun ada risiko besar mengintai para nasabah.

Editor: Liston Damanik
Tribun Medan
Rentenir online 

Pada saat akan teken perjanjian, R diminta untuk mengisi kolom kontak penjamin. Nomor kontak harus orang yang memiliki hubungan keluarga dan tidak tinggal serupa, serta kenalan, bisa kerabat atau rekan kerja.

"Saya waktu itu isikan di sana nomor kawan-kawan saya. Bukan kawan kerja. Nah, ternyata, waktu saya kemarin itu telat bayar, mereka dihubungi juga. Sama seperti waktu menghubungi saya, kawan saya itu juga mereka teror," kata R.

Persoalan-persoalan yang mengiringi para nasabah perusahaan fintech ilegal ini pada dasarnya membentang dari hulu ke hilir. Dimulai dari promosi perusahaan yang menawarkan pinjaman, baik lewat broadcast aplikasi WhatsApp maupun SMS. Pada pesan-pesan ini pada umumnya terdapat tautan yang mengarah ke playstore, yang secara tidak langsung "memaksa" penerima pesan untuk bergabung.

Hal ini melanggar peraturan OJK nomor 1/POJK.7/2013 tanggal 6 Agustus 2013 tentang pelarangan bagi perusahaan untuk melakukan penawaran produk dan atau pelayanan jasa keuangan melalui layanan pesan pendek (SMS) atau telpon (atau kini juga WhatsApp) tanpa persetujuan dari konsumen yang bersangkutan
Kemudian, tidak adanya keterangan yang benar-benar terperinci perihal aturan main.

Terutama bunga kredit yang rata-rata sungguh memberatkan nasabah. Misalnya, ada perusahaan fintech ilegal yang menerapkan besaran bunga pinjaman sebesar 1 (satu) persen per hari.

Dengan masa tenor 30 hari, maka berarti dalam satu bulan nasabah mesti membayar bunga 30 persen.

Jebakan seperti inilah yang membuat A, warga Medan nasabah perusahaan fintech yang lain, merasa benar-benar kelimpungan. Gara-gara bunga pinjaman online yang melesat tak terkendali, dia terpaksa "gali lubang tutup lubang".

A terpaksa meminjam di perusahaan-perusahaan fintech yang lain demi membayar utang dan bunga utangnya. Total dia berutang sebesar Rp 15 juta dan meminjam ke 11 flatform pinjaman online. Padahal pinjaman pertamanya hanya Rp 1,8 juta.

"Saya enggak menyangka pinjamannya jadi sebegitu banyak. Saya meminjam Rp 1,8 juta, tetapi setelah dipotong administrasi ini dan itu jadi Rp 1,3 juta. Kemudian, setelah dihitung berikut bunga-bunganya, pengembalian uang jadi Rp 4 juta," katanya pada Tribun.

Bunga pinjaman yang tak disangka-sangka membuat A kesulitan membayar. Tatkala penunggakan terjadi, dia mendapatkan perlakuan serupa R.

Bukan saja terganggu lantaran nyaris tidak pernah berhenti dihubungi oleh entah berapa banyak orang yang berbeda-beda, A juga merasa malu lantaran para penagih utang ini juga melakukan penagihan ke kerabat, kawan, bahkan tetangga-tetangganya.

"Beberapa kali orang itu datang ke rumah, mau ambil barang-barang saya. Saya pernah juga dicegat di jalan. Persis seperti perampok begitu gelagatnya. Paling parah, mereka ternyata bisa menembus akun media sosial saya. Mereka sering nyelonong masuk, menagih utang saya di sana. Kawan-kawan saya jadi tahu semuanya," kata A.

Bank Indonesia pada dasarnya sudah mengatur tata cara penagihan pinjaman. Berdasarkan Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 14/17/DASP perihal Perubahan atas Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 11/10/DASP perihal Penyelenggaraan Kegiatan Alat Pembayaran dengan Menggunakan Kartu, tenaga penagihan dalam melaksanakan penagihan mesti mematuhi pokok-pokok etika.

Terpenting, penagihan dilarang dilakukan dengan menggunakan cara ancaman, kekerasan dan/atau tindakan yang bersifat mempermalukan pihak yang ditagih.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved