Makan Mi Instan Sebulan agar Bisa Belanja Online, Mahasiswi Ini Masuk Rumah Sakit, Ini Videonya
Meski tidak menyebutkan penyebab sakitnya, Hong mengatakan hanya makan mi instan kemungkinan menjadi alasan dia sakit.
TRIBUN-MEDAN.com - Seorang mahasiswi di China harus mendapat perawatan di rumah sakit setelah dilaporkan makan mi instan tiga pekan beruntun.
Mahasiswi bernama Hong Jia itu memutuskan hanya makan mi demi menghemat uangnya dan menyambut hari belanja terbesar di dunia atau 11.11 (11 November), yang di Indonesia disebut Hari Belanja Online (Harbolnas)
Hong menjadi perbincangan netizen di China pada awal November ini ketika dia mengaku hanya memakan mi instan sejak 15 Oktober.
Dikutip oleh Oddity Central Rabu (21/11/2018), dia berhemat demi Hari Single (Hari Jomblo), hari berbelanja terbesar dunia, yang jatuh pada 11 November lalu
Dalam tayangan Pear Video yang viral, terlihat Hong berada di supermarket dan hanya berbelanja berbagai macam mi instan.
Dia mengatakan dari dietnya tersebut, dia bisa menghemat uang hingga 749 yuan, atau Rp 1,5 juta, yang bisa dia pakai di Hari Single.
Sayangnya, keinginan Hong untuk membelanjakan uangnya di hari yang juga diperingati oleh para jomblo tersebut tak sesuai kenyataan.
Media China memberitakan, dia jatuh sakit sebelum Hari Single, dan harus merelakan uangnya dipakai berobat di rumah sakit.
"Obat IV menghabiskan uang saya 1.000 yuan (Rp 2,1 juta). Sementara obat yang lain 100 yuan (Rp 210.605)," keluh Hong.
Dia tidak menjabarkan penyakit apa yang dialaminya. Namun Hong mengaku menderita demam tinggi yang membuatnya dilarikan ke rumah sakit.
Meski tidak menyebutkan penyebab sakitnya, Hong mengatakan hanya makan mi instan kemungkinan menjadi alasan dia sakit.
Kisah Hong menuai komentar negatif dari netizen China. Bahkan ibunya sendiri juga ikut-ikutan menyindirnya melalui percakapan media sosial.
"Engkau pantas mendapatkannya setelah saya menonton video itu. Kini banyak-banyaklah minum air hangat," kata ibu Hong di percakapan tersebut.
Pelaksanaan Single Day yang jatuh pada 11 November 2018 merupakan salah satu hari yang menjadi ajang belanja online terbesar di dunia.
Pada event Single Day 11.11 ini, Alibaba Group Holding Limited mengumumkan total Gross Merchandise Volume (GMV) sebesar RMB 213,5 miliar atau senilai US$ 30,8 miliar atau setara dengan Rp 450 triliun.
CEO Alibaba Group, Daniel Zhang mengatakan catatan perolehan tersebut tercatat naik sebesar 27 persen dibandingkan pada 2017.
Ia juga mengatakan, perayaan Single Day ini merupakan salah satu hal yang memperlihatkan kekuatan dan kebangkitan ekonomi berbasis konsumsi di Tiongkok.
Zhang mengungkapkan, partisipasi Alibaba dalam event ini memungkinkan perusahaan dan mitra dagang untuk berinteraksi dengan konsumen.
Selain itu, Cainiao Network, anak usaha yang Alibaba di bidang logistik tercatat memproses lebih dari satu miliar pengantaran pesanan. Lebih dari 180.000 merek dagang ikut berpartisipasi dalam acara ini.
Tercatat, lebih dari 40 persen konsumen melakukan pembelian dari merek dagang internasional. Ada sebanyak 237 merek dagang meraup transaksi GMV lebih dari RMB 100 juta, termasuk merek-merek ternama seperti Apple, Dyson, Kindle, Estée Lauder, L’Oréal, Nestlé, Gap, Nike, dan Adidas.
Kondisi Hong Jia mungkin lebih baik.
Baru-baru ini, seorang pemuda Taiwan yang baru berusia 18 tahun meninggal akibat kebiasaan buruknya.
Pemuda ini sering belajar hingga larut malam demi bisa masuk ke universitas impiannya.
Karena bekerja keras hingga larut, di saat lapar tengah malam melanda, ia kerap membuat mi instan.
Meski ia berhasil masuk ke universitas impiannya, sayangnya umurnya tidaklah panjang.
Dia mulai menunjukkan gejala awal seperti perut kembung, mual, dan sakit perut.
Keluarganya menjadi khawatir karena keadaannya semakin buruk.
Mereka cukup bijaksana dengan membawanya ke rumah sakit untuk melakukan pengecekan medis.
Namun yang mengejutkan, pemuda tersebut langsung divonis kanker lambung stadium akhir.
Harapannya untuk hidup hanya sedikit karena sel kanker telah menyebar ke organ lain.
Setahun setelah bergelut dengan kanker, pemuda itu harus menyerah pada penyakitnya hingga akhirnya berpulang.
Ahli onkologi rumah sakit terkait, Dr Gan telah memperingatkan masyarakat untuk mengurangi konsumsi sosis, daging asap, serta mi instan karena makanan ini kerap dikaitkan penyebab kanker.
Kanker lambung sulit dideteksi karena gejalanya seringkali mirip sakit maag atau sakit perut biasa.
Hal ini menyebabkan 80% penderita sudah masuk ke stadium akhir ketika penyakit mematikan ini terdeteksi.
Tak hanya menyerang orangtua saja, kanker lambung kini juga jadi momok untuk anak muda.
Menurut laporan yang diterbitkan World Instan Noodles Association, masyarakat dunia menghabikan sebanyak 102,7 miliar mie instan dalam jangka waktu satu tahun.
Hal ini jadi bukti bahwa mi instan tak hanya digemari di Indonesia saja, melainkan di berbagai belahan dunia.
Mengapa mengonsumsi mie instan berlebih buruk bagi kesehatan?
Mie instan mengandung bahan pengawet yang membuatnya tahan lebih lama.
Bahan pengawet tersebut tentunya membuat mi instan rendah kandungan nutrisi, tinggi lemak, kalori dan sodium.
Mi instan juga mengandung bahan pewarna buatan, zat aditif dan juga perasa yang mengandung berbagai zat kimia.
Belum lagi, mi instan mengandung monosodium glutamat (MSG) dimana ada batasan dalam mengonsumsinya.
Karena bila dikonsumsi dalam jumlah berlebih, MSG juga menimbulkan masalah kesehatan yang serius.
Bahkan, The Washington Post telah melaporkan bila penelitian di Korea Selatan menemukan efek mi instan pada kesehatan manusia.
"Meskipun mi instan makanan yang lezat, dimungkinkan terjadi peningkatan risiko sindrom metabolik karena tingginya natrium, lemak jenuh yang tidak sehat dan beban glikemik," ungkap Hyun Shin, doktor di Harvard School of Public Health.
Studi ini menyebutkan bahwa selain diabetes, perempuan yang mengonsumsi mi instan seminggu dua kali lebih berisiko mengidap obesitas, tekanan darah tinggi dan masalah jantung, dibandingkan yang makan lebih sedikit.
Zat pengawet dalam mi instan membuatnya lebih sulit dan lama dicerna tubuh.
Dari situ disimpulkan jika tak hanya mi instan, semua makanan olahan dan berpengawet juga melalui proses yang sulit dicerna.
"Salah satu masalah terbesar saat ini adalah kenyataan bahwa orang telah mulai mengganti makanan segar dengan makana cepat saji," ungkap Dr. Sharma.
Lalu benarkah mi instan bisa menyebabkan kanker?
Peneliti di Universitas Sorbonne, Perancis telah mensurvei sebanyak 105.000 responden soal konsumsi makanan.
Mereka menemukan bahwa jika seseorang meningkatkan konsumsi makanan olahan sebesar 10 persen, risiko terkena kanker meningkat sebesar 12 persen.
Hasil penelitian ini telah dipublikasikan di British Medical Journal.
Makanan olahan ultra proses yang dimaksud termasuk roti kemasan yang diproduksi secara massal, camilan maupun keripik kemasan, cokelat, soda, makanan beku, sup, mi instan, sertamakanan kaleng.
Para peneliti menyimpulkan, "Hasil ini menunjukkan bahwa peningkatan konsumsi makanan olahan yang diproses ultra dengan cepat mendorong peningkatan beban kanker dalam beberapa dekade mendatang."
Tetapi mereka mengatakan bahwa temuan-temuan tersebut perlu ditindaklanjuti dengan penelitian berskala besar untuk membuktikan keterkaitan tersebut.
Sementara itu, Di Korea Selatan, Korea Food and Drug Administration (KFDA) menemukan zat penyebab kanker yang dikenal dengan Benzopyrene dalam enam merek mie yang dibuat oleh Nong Shim pada tahun 2012 lalu.
Penemuan tersebut menyebabkan penarikan kembali produk-produk baik lokal maupun luar negeri.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Makan Mi Instan demi Hari Belanja, Gadis Ini Dirawat di Rumah Sakit"
Penulis : Ardi Priyatno Utomo
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/mahasiswi-makan-mi-instan-hampir-sebulan.jpg)