Berkontemplasi dalam Kamar Gelap Sastradisi 2018 Rayakan Dies Natalis KBSI USU

Penggalan puisi Taufik Ismail yang dipajang di kamar gelap Sastradisi 2018. Seperti namanya, kamar gelap adalah sebuah ruangan

TRIBUN MEDAN/SEPTRINA AYU SIMANJORANG
Tahun ini Sastradisi dilaksanakan selama dua hari yakni Jumat dan Sabtu (23-24/11/2018) di Fakultas Ilmu Bahasa (FIB) USU. Tema Sastradisi 2018 adalah Penguatan Bahasa, Budaya, dan, Sastra Indonesia di Era Milenial. 

Laporan Wartawan Tribun Medan/ Septrina Ayu Simanjorang

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - "Bagaimana kalau pemerintah diizinkan protes dan rakyat kecil mempertimbangkan protes itu, Bagaimana kalau kesenian dihentikan saja sampai di sini dan kita pelihara ternak sebagai pengganti. Bagaimana kalau sampai waktunya kita tidak perlu bertanya bagaimana lagi."

Itulah penggalan puisi Taufik Ismail yang dipajang di kamar gelap Sastradisi 2018. Seperti namanya, kamar gelap adalah sebuah ruangan yang tertutup dan hanya disinari cahaya dari lampu tumbler.

Di dinding ruangan yang terbuat dari kain hitam itu, di tempel puluhan karya sastra para sastrawan tua Indonesia seperti Wiji Thukul, W S Rendra, Amir Hamzah, dan lain-lainnya.

"Kalau gelap gimana mau baca karyanya? Nah itulah masalah kita zaman sekarang ini. Sebenarnya sumber karya sastra itu banyak hanya saja malas usaha buat mendapatkannya. Dalam kasus ini bisa saja pakai sumber pencahayaan lain, senter telepon misalnya," tutur ketua panitia Sastradisi 2018 Muhammad Dwika Shola.

Dwika menyatakan, ide kamar gelap diusulkan oleh senior-senior mereka yang merupakan sastrawan juga. Katanya kamar gelap dibuat untuk menyampaikan banyak hal kepada para pengunjung Sastradisi.

"Di tengah hiruk pikuk dan ramainya acara ini, pengunjung bisa masuk ke kamar gelap dan melihat karya seni di sana. Karya seni itu ketika dibaca bisa saja cocok dengan kondisi saat ini. Jadi istilahnya seperti meroasting diri sendiri," katanya.

Dengan harapan sesudah berkontemplasi dalam ruangan tersebut, para pengunjung bisa mendapatkan hal baru dari perenungan tersebut dan membawa perubahan dalam diri mereka.

Sastradisi merupakan sebuah perayaan dies natalis Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Keluarga Besar Bahasa dan Sastra Indonesia (KBSI) Universitas Sumatera Utara (USU).

"Ini kali ketiga kami membuat Sastradisi untuk merayakan Dies Natalis KBSI. Sedangkan tahun ini merupakan ulang tahun ke 33 KBSI," tutur Dwiki.

Tahun ini Sastradisi dilaksanakan selama dua hari yakni Jumat dan Sabtu (23-24/11/2018) di Fakultas Ilmu Bahasa (FIB) USU. Tema Sastradisi 2018 adalah Penguatan Bahasa, Budaya, dan, Sastra Indonesia di Era Milenial.

"Melihat di zaman milenial ini bahasa sendiri seperti diabaikan. Anak muda lebih suka menggunakan bahasa asing. Kami pikir kalau ini terus terjadi, lama kelamaan bahasa sendiri ini bisa hilang," tutur Dwiki.

Dwiki juga menyatakan melaui Sastradisi 2018 diharapkan mahasiswa bisa semakin bersosialisasi sehingga nantinya bisa bersama-sama membuat karya-karya yang kuat.

"Tentunya kami juga ingin dari segi sastra juga dikuatkan agar sadar bahwa menyampaikan aspirasi juga bisa melalui puisi," tambahnya.

Maka dari itu di Sastradisi mereka membuat banyak media penyampain puisi, misalnya di barang-barang rumah tangga seperti dispenser, rice cooker, goni, galon air.

"Selain itu kami juga membuat pameran istalasi puisi di pohon sekitar panggung, ada pula mural puisi, dan pameran hasil karya peserta lomba cipta puisi," katanya. 

(cr18/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved