Hannah Al Rashid Trauma Berat Pelecehan yang Pernah Dialaminya, Bukan Sekali Tapi Dua Kali

Hannah Al Rashid masih menyimpan trauma mendalam terhadap pelaku pelecehan yang pernah menyerang dirinya

Hannah Al Rashid Trauma Berat Pelecehan yang Pernah Dialaminya, Bukan Sekali Tapi Dua Kali
Tribunnews/ Jeprima
Hannah Aidinal Al Rashid 

TRIBUN-MEDAN.COM - Hannah Al Rashid masih menyimpan trauma mendalam terhadap pelaku pelecehan yang pernah menyerang dirinya. Artis yang pernah bermain dalam sinetron 'Awas Ada Sule' itu mengungkapkan pernah berhadapan dengan 'pembegal' payudara.

"Saya nggak akan lupa malam itu. Saya lagi jalan kaki ke kosan saya waktu dua cowok naik motor lewat dan megang dada saya. Spontan saya langsung teriak sambil kejar mereka. Bapak-bapak di pos deket situ ngelihat aja dan nggak bantuin sama sekali," ungkap Hannah Al Rashid seperti yang dikutip dari Change.org.

Tidak sekali perbuatan itu dilakukan, Hannah mengaku pernah dua kali percobaan itu terjadi. Hanya saja pada percobaan kedua, dia mengaku lebih siap untuk berdahapan dengan para pelaku.

"Nggak lama, saya ngerasa ada motor ngikutin di belakang. Ternyata mereka lagi! Mereka berusaha lecehkan saya kedua kalinya," katanya. 

"Untungnya saya lebih siap. Saya tangkap tangan cowok itu sebelum dia pegang tubuh saya lagi. Tapi karena mereka naik motor, mereka bisa cepat kaburnya," tambahnya lagi.

Cerita Hannah Al Rashid merupakan kisah nyata yang dia tuangkan untuk melawan bentuk pelecehan terhadap perempuan dalam bentuk survei di Chang.org.

Hasil survei akan digunakan untuk merancang program dan mengadvokasi kebijakan bertujuan mengakhiri pelecehan seksual. Survei merupakan inisiatif HollaBack! Jakarta, Lentera Sintas Indonesia, perEMPUan dan Jakarta Feminist Discussion Group yang difasilitasi oleh Change.org Indonesia.

Dia mengatakan mengalami trauma selama berbulan-bulan akibat perbuatan yang melecehkan dirinya.

"Saya itu orangnya fighter banget. Tapi tetap trauma selama berbulan-bulan," katanya.

Hannah mengaku kecewa berat, terlebih saat dia mencerikan pengalaman yang dirasakan kepada teman-temannya. Namun apa yang dia peroleh bukannya simpati, namun tuduhan yang seakan menyalahkan dirinya. 

"Waktu saya cerita soal kejadian itu sama orang dekat, banyak dari mereka yang malah bilang “Makanya lain kali jangan jalan sendirian malam-malam,” atau nanya “Kamu pakai baju apa emang?” Seakan-akan saya lah yang salah. Victim blaming dan rape culture emang masih begitu kuat di masyarakat kita," ujar Hannah.

Awalnya dia mengaku ragu untuk cerita soal ini ke publik, tetapi bicara ke luar cukup penting. Dan itulah inti dari survei pelecehan seksual di ruang publik ini.

Menurutnya survei ini penting banget agar kita tahu data konkret soal pelecehan di ruang publik. Biar bisa dilakukan advokasi terus ke pemerintah agar mereka buat kebijakan yang lebih tegas soal pelecehan di ruang publik. Agar perempuan di Indonesia bisa merasa aman dari pelecehan dan nggak disalahkan lagi.

"Saya minta bantuan kamu untuk isi survei ini. Share juga di sosial media agar teman-temanmu ikutan survei di change.org/lawanpelecehan. Dengan mulai bicara, kita bisa sama-sama #LawanPelecehan," ujarnya seperti yang dikutip dari change.org.

Penulis: Fahrizal Fahmi Daulay
Editor: Fahrizal Fahmi Daulay
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved