Tiap Hari Berjuang di 'Jalur Off Road’, Jalan Tigabinanga Puluhan Tahun Rusak Berat Merugikan Petani

"Memang mesti benar-benar berhati-hati kalau berkendara. Konsentrasi penuh, sebab roda selip sedikit saja, akan celaka," kata Sembiring.

Editor: Liston Damanik
Tribun Medan/Muhammad Nasrul
Warga melintas di jalan yang rusak parah di Tigabinanga, Kabupaten Karo, pekan lalu. 

Pedagang enggak mau beli yang seperti itu. Kalaupun mau harganya jadi sangat murah," ucapnya.
Di kawasan penghasil buah dan sayur lain di Karo, jelas Kembaren, para pedagang jeruk biasa juga datang sendiri ke ladang-ladang petani untuk melakukan pembelian sendiri. Namun ke tempat mereka jarang sekali ada yang mau.

"Tauke-tauke jeruk itu enggak ada yang berani masuk. Satu, tak banyak sopir yang berani ambil risiko. Selain bisa terbalik, mobil orang itu juga terancam rusak. Gardang bisa patah. Kedua, ya, itu tadi, kalaupun bisa masuk, pas bawa jeruk keluar, enggak ada jaminan jeruk bisa tetap bagus sampai ke pasar. Jadi untuk buah dan sayur dari tempat kami ini, mereka memilih menunggu," ujarnya.

Nambar Bre Ginting, seorang petani buah dan sayur, menyebut musim penghujan selalu jadi momok bagi dirinya dan petani-petani lain.

"Saya menanam jagung sekarang, tapi hasil kebun ini, setelah dipanen tidak semuanya bisa dibawa ke pasar. Lihat-lihat dulu situasinya bagaimana. Akhirnya disimpan saja di rumah, dan karena kelamaan, seringkali jadi rusak," katanya.

Petani lain, Tekang Bre Sembiring, mengemukakan pernyataan serupa. Lantaran terlalu lama disimpan, buah dan sayur yang dipanennya tidak bisa lagi dijual. Untuk beberapa bisa dimanfaatkan jadi bibit. Yang tidak, terpaksa dibuang.

"Seperti jagung bisalah jadi bibit, ditanam kembali. Namun kayak begitupun tetap saja rugi, kan. Paling tidak harus beli pupuk juga, perawatan juga. Belum lagi waktu yang sia-sia terbuang," ujarnya seraya menambahkan, banyak di antara petani yang akhirnya terjerat utang berkepanjangan pada para rentenir.

"Kami kan pas mau menanam butuh modal lagi. Sementara modal yang lama tidak tertutupi, bahkan enggak kembali. Jadi terpaksa pinjam lagi," ujarnya.

Di luar persoalan perekonomian, jalur jalan yang rusak juga berimbas keras pada pendidikan anak- anak di desa-desa ini. Nambar mengemukakan, terlambat datang ke sekolah, bahkan absen, bukan lagi menjadi perkara yang luar biasa.

"Anak-anak kami selalu kesulitan ke sekolah. Kalau sudah hujan, jalan tidak dapat dilalui kendaraan, terpaksa jalan kaki. Mau berapa lama itu jadinya sampai ke sekolah," ucapnya.

Nambar menyebut jalan yang bagus dan mulus menjadi dambaan mereka. Diceritakannya, ruas jalan beraspal, dengan ukuran lebar kurang lebih tiga meter, dibangun di era-era awal pemerintahan Presiden Kedua Indonesia, Soeharto. Hanya beberapa kilometer. Setelah itu, hingga Soeharto lengser dan presiden Indonesia berganti lima kali, hingga kini di era Joko Widodo, jalan itu tak kunjung bertambah panjang. Bahkan sekarang yang ada tinggal sisa-sisanya.

Bupati Terkelin Berjanji Datang

Kepala Desa Junianto Suka Julu, Tiga Binanga, mengatakan akses jalan merupakan urat nadi vital bagi mereka dan warga tujuh desa lainnya. Karena hanya lewat jalur inilah mereka dapat membawa hasil panen biah dan sayuran untuk dijual ke pasar-pasar di Kabanjahe, Berastagi, dan Medan.

Keluhan sudah berulangkali disampaikan ke Pemerintah Kabupaten Karo. Baik lewat wakil-wakil rakyat di Gedung DPRD Karo maupun secara langsung ke bupati. Namun bertahun-tahun keluhan dilontarkan, entah berapa puluh kali permohonan agar kerusakan jalan diperbaiki disampaikan, hasilnya nol besar.

"Kalau pengajuan sudah sering kita bikin, tapi enggak pernah ditanggapi. Baru ini ditanggapi, itupun karena lantaran masyarakat dari tujuh desa yang ada di sini mau demo ke Pemkab Karo. Begitu kita masukkan surat ke Polres, tahu-tahu langsung ditanggapi. Tapi ya begitu, tidak menyeluruh. Cuma kira- kira dua kilometeran saja diperbaiki. Selebihnya tetap seperti sediakala," ujarnya.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved