Aniaya Wartawan MetroTV dan Anggota IPK, Tiga Prajurit TNI Diadili

Tiga prajurit dari Yonif 125 Simbisa Kompi C, Sidikalang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Aniaya Wartawan MetroTV dan Anggota IPK, Tiga Prajurit TNI Diadili
TRIBUN MEDAN/ALIJA MAGRIBI
Sidang pemukulan wartawan dan anggota ormas di Pengadilan Militer I-02 Medan, Selasa (27/8/2018) 

Laporan Wartawan Tribun Medan/Alija Magribi

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Kasus penganiayaan wartawan dan dua anggota Organisasi Masyarakat Ikatan Pemuda Karya (IPK) yang dilakukan Sejumlah prajurit di Sidikalang, Kabupaten Dairi (30/5/2018) akhirnya bergulir ke Pengadilan Militer I-02 Medan.

Tiga prajurit dari Yonif 125 Simbisa Kompi C, Sidikalang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya dihadapan Hakim Ketua Mayor Mustofa.

Ialah Pratu Ferry P Aritonang, Prada Iwanto Manik dan Prada Saul Situmorang yang harus berdiri tegak mendengarkan dakwaan Oditur I-02 Mayor Riris Ganda Tua yang mendakwa ketiganya dengan dakwaan perusakan dan penganiayaan.

Sidang yang berlangsung Selasa (27/11/2018) sekira pukul 11.30 WIB tersebut, Oditur I-02 Mayor Riris Ganda juga menghadirkan tiga saksi korban untuk memberikan keterangannya dihadapan Majelis Hakim, yakni wartawan MetroTV Rudianto Sinaga, Ketua Satgas DPD IPK Dairi Foreman Lumban Tobing dan Sekertaris DPD IPK Dairi Erikson Purba.

Foreman mengatakan bahwa saat itu Pratu Ferry P Aritonang mendatangi lokasi Kampanye salah satu pasangan Calon Bupati Dairi. Saat itu, Pratu Ferry menurutnya ingin mencari pengendara mobil Avanza yang diduga dikemudikan anggota organisasi IPK yang menyenggolnya di jalan.

"Iya dia datang ke parkiran mencari sopir mobil Avanza. Keributan terjadi, kemudian saat saya melerai waktu itu, katanya kau siapa?. Baru saya tanya apakah mereka TNI. Selanjutnya petugas dari kepolisian berusaha melerai," ucap Forman.

Masih kata Forman, Pratu Ferry P Aritonang saat itu berusaha ingin menemuinya kembali untuk meminta kejelasan. Lantaran tidak bisa bertemu, Forman mengatakan melalui sambungan telepon untuk bersabar karena dirinya masih ada sedikit pekerjaan.

"Menurut saya karena Pratu Ferry ini merasa dibola-bolai, merasa emosi langsung memukul saya yang saat itu berada di posko IPK. Saya dipukul terdakwa selanjutnya saya tidak tahu lagi siapa yang memukul saya," ucap Ferry.

Kemudian, Wartawan MetroTV Rudianto yang saat itu tak sengaja berada di lokasi kejadian mengaku turut menjadi aksi penganiayaan yang dilakukan Pratu Ferry P Aritonang bersama dengan rekan-rekannya. Bahkan, meski Rudianto mengaku sebagai wartawan, pukulan ke arahnya semakin kuat dihujam oleh prajurit TNI AD tersebut.

Halaman
123
Penulis: Alija Magribi
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved