Pajus Kian Tertata Rapi dan Komplet, Edwin Renaldo Berharap Pemerintah Perhatikan Pasar Tradisional

Kepanjangan Pajus itu dulunya Pajak USU, tapi sekarang kepanjangan Pajus itu Pajak untuk semua. Kalau kita, orang Medan bilang pasar itu pajak.

Tayang:
TRIBUN MEDAN/NATALIN SINAGA
Direktur Pasar Pajus, Edwin Renaldo atau yang kerab disapa dengan sebutan Aseng Pajus (baju hitam kotak-kotak) bersama tim, berpose di depan Musala yang berada di dalam Pajus. 

Laporan Wartawan Tribun Medan/Natalin

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Bagi Anda yang ingin berbelanja dengan harga yang terjangkau sekaligus berkualitas, Pajus bisa menjadi tempat pilihan yang tepat, berlokasi di Jalan Jamin Ginting, Padang Bulan, Medan.

Direktur Pasar Pajus, Edwin Renaldo atau yang kerab disapa dengan sebutan Aseng Pajus ini mengatakan Pajus dulunya disebut sebagai Pajus (Pajak USU) karena Pajus ini letaknya di belakang Fakultas Hukum USU. Pada bulan September tahun 2010 Pajus terbakar kemudian dipindahkan ke Jalan Jamin Ginting ini.

Menurut Aseng, Pajus ini dikenal dengan pasar mahasiswa namun kini tidak hanya mahasiswa yang datang berbelanja di Pajus tapi juga semua kalangan.

"Kepanjangan Pajus itu dulunya Pajak USU, tapi sekarang kepanjangan Pajus itu Pajak untuk semua. Kalau kita, orang Medan bilang pasar itu pajak. Kini, Pajus semakin tertata rapi, kalau dulu hanya pakai tenda, tapi sekarang sudah bangunan beton dengan pintu besi, lantai keramik, dan suasana jalan juga sudah paving block," ujar Aseng.

Ia mengatakan jumlah kios yang tersedia di Pajus sebanyak 180 kios. Selain diisi dengan pedagang yang berada di kios, Pajus juga diisi dengan berbagai pedagang bazar.

Direktur Pasar Pajus, Edwin Renaldo atau yang kerab disapa dengan sebutan Aseng Pajus saat berada di dalam Pajus.
Direktur Pasar Pajus, Edwin Renaldo atau yang kerab disapa dengan sebutan Aseng Pajus saat berada di dalam Pajus. (TRIBUN MEDAN/NATALIN SINAGA)

"Pedagang kios dan bazar di Pajus ini lebih kurang 250 lapak. Tempat ini menjual berbagai macam kebutuhan sehari-hari antara lain ATK (Alat Tulis Kantor), aksesoris handphone, printer, kuliner, baju, tas, sepatu, produk import, semua ada disini," ucapnya.

Aseng menjelaskan Pajus ini bermanfaat bagi orang sekitar dalam hal mengurangi pengangguran dengan adanya penyerapan tenaga kerja. Mulai dari pegawai parkir, pegawai jaga malam, kebersihan, penjaga kamar mandi dan pegawai para pedagang tersebut.

"Pajus ini menggerakan ekonomi di Kota Medan, sedikit banyaknya pasti mempengaruhi pendapatan daerah. Pajus ini tempat berkumpulnya Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dengan modal jutaan hingga ratusan juta," kata Aseng.

Diakui Aseng, daya beli konsumen stabil di Pajus ini. "

Di saat pasar lainnya merasa daya beli menurun tapi kalau di Pajus ini, Alhamdulillah stabil, omzet para pedagang tetap terjaga. Pengunjung yang datang ke Pajus juga selalu ramai," ucapnya.

Ia mengatakan pengunjung yang datang ke Pajus bukan hanya warga Kota Medan, bahkan ada juga konsumen yang datang dari luar kota dan luar pulau. Diantaranya warga Lubuk Pakam, Kabanjahe, Binjai, Jakarta dan lain-lain.

"Jumlah pengunjung ke Pajus lebih kurang ada ribuan orang setiap harinya, bisa dilihat dari padatnya pembeli dan juga jumlah parkir sepeda motor. Konsumen yang datang rata-rata penduduk Kota Medan, para mahasiswa dan masyarakat secara umum," jelas
Aseng.

Ia menambahkan terkait harga produk, Pajus menawarkan harga relatif terjangkau dibandingkan tempat berbelanja lainnya.

"Sebagian produk memiliki harga yang sangat jauh berbeda mencapai hingga 300 persen, misalnya untuk produk kacamata. Harga produk kita bersaing dengan kualitas barang terjamin," kata Aseng.

Ia mengatakan pihaknya ingin menjalin kerjasama dengan biro perjalanan agar wisatawan dari luar kota dan luar negeri dapat singgah ke Pajus. "Terlepas wisatawan mau berbelanja atau tidak berbelanja, karena saya mau jadikan Pajus ini sebagai salah satu ikon Kota Medan. Kita bisa bilang kalau belum ke Pajus berarti belum ke Medan," ucapnya.

Ia berharap Pajus semakin berjaya, maju, dan lebih sukses dengan semakin meningkatnya pengunjung, sehingga menambah penghasilan para pedagang.

Produk Selalu Update

Kemudahan membayar melalui teknologi semakin berkembang di Tanah Air.

Direktur Pasar Pajus, Edwin Renaldo atau yang kerab disapa dengan sebutan Aseng Pajus mengatakan kini di Pajus juga sudah dapat menggunakan sistem pembayaran dengan teknologi QR Code (Quick Response Code) atau QR Payment di aplikasi Your All Payment (Yap!) dari PT Bank Negara Indonesia (Persero).

"Selain transaksi dari mesin EDC, tunai, konsumen juga sudah bisa bertransaksi pakai YAP. Kita juga menyediakan beragam fasilitas yakni Musala, ATM (Automatic Teller Machine) Bank, Kantin, Kamar Mandi, dan sebagainya," ucap Aseng.

Ia mengakui tak hanya persaingan toko offline namun kini semakin banyak juga para penjual online yang bersaing di pasaran. "Nantinya kita akan membuat aplikasi untuk membangun Pajus sehingga dagangan yang di Pajus ini bisa dibelanjakan melalui online juga. Kita juga akan antarkan produknya untuk wilayah Kota Medan," tambahnya.

Menurut Aseng, dalam waktu dekat Pajus juga akan melebarkan sayapnya ke daerah Mandala By Pass. "Kita mau buat Pajus lagi di daerah Mandala By Pass dalam waktu dekat," ucapnya.

Pajus buka setiap hari mulai Pukul 09.00 WIB hingga Pukul 19.00 WIB.

Diakui Aseng, Pasar Tradisional dapat kalah saing dengan mall, meskipun begitu, ia berharap pemerintah juga dapat lebih memberi perhatian lebih dengan keberadaan pasar tradisional ini.

"Agar tetap eksis dan bertahan dalam hal persaingan pasar sejenis, kita selalu kreatif, berinovasi, produk-produk yang dijual itu selalu update dan mengikuti tren. Bagi seluruh masyarakat, mari belanja ke Pajus, semua kebutuhan sudah ada di sini, kualitas produk terjamin, harga produk juga terjangkau," kata Aseng.

(cr13/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved